Indef: Sebagian E-Commerce Indonesia Terafiliasi Perusahaan di China

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, sebagian besar perusahaan e-commerce di Indonesia terafiliasi  dengan group perusahaan yang ada di China. 

Sehingga kondisi ini menjadikan produk impor dari China meningkat tajam di pasar platform e-commerce lokal. Dampaknya barang-barang yang diproduksi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Indonesia kalah saing.

“Strategi pebisnis China mengakuisisi e-ecommorce di Indonesia, lalu dijadikan channel distribusi produk mereka dipasarkan di sini,” ujar Bhima, pada diskusi online tentang UMKM di Jakarta yang diikuti Cendana News, Selasa (23/2/2021).

Bahkan kata dia, perusahaan yang membeli saham e-commerce Indonesia juga gencar melakukan promosi pemasaran produk China tersebut.

Hingga pemberian gratis ongkos kirim (ongkir) dan diskon besar-besar di angka 90 persen pun dilakukan untuk menarik konsumen. Sehingga tidak heran kalau keberadaan produk China sangat dominan di platform e-commerce lokal.

Lebih lanjut dia menyebut, bahwa pemerintah China juga memberikan subsidi kepada perusahaan yang melakukan ekspor barang ke Indonesia. Yakni subsidi tersebut  mulai dari pajak, sertifikasi dan bea ekspor.

“UMKM kita ya kalah saing, karena diruntuhkan dengan produk China yang dominan di platform e-commerce Indonesia,” tukasnya.

Merebaknya produk China di pasar digital Indonesia, menurutnya, juga disebabkan oleh kebijakan impor yang diterapkan pemerintah. Seharusnya dalam hal impor produk China ini, pemerintah membuat peraturan yang tegas keberpihakan pada UMKM lokal.

Yakni dengan membuat regulasi atau kebijakan yang mengatur porsi produk impor di platform e-commorce perusahaan lokal.

“Ya regulasinya itu, misalkan maksimal 30 persen produk impor by country origin di platform e-commerce,” ujarnya.

Namun sayangnya, kata Bhima, regulasi tersebut hingga saat ini tidak pernah teralisasi. Padahal dalam upaya program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang digalakan, pemerintah mendorong UMKM masuk dalam platform e-commerce. 

“Nyatanya persaingan makin ketat, UMKM kita tergilas. Produk impor diberi ruang di platform e-commerce lokal, persaingan impor diliberalkan,” pungkasnya.

Lihat juga...