Indeks Dow Jones Industrial Average Catat Rekor Penutupan Tertinggi

NEW YORK – Indeks pasar saham Wall Street berakhir beragam pada Selasa (Rabu pagi WIB), dengan Dow Jones Industrial Average mencatat rekor penutupan tertinggi, karena saham sektor siklikal menguat di tengah prospek lebih banyak bantuan fiskal untuk mengangkat ekonomi AS dari kemerosotan akibat virus Corona.

Namun, Nasdaq merosot ketika saham-saham teknologi bergerak lebih rendah, sementara kekhawatiran atas kenaikan suku bunga membuat indeks acuan S&P 500 sedikit berubah.

Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 64,35 poin atau 0,20 persen, menjadi berakhir di 31.522,75 poin. Indeks S&P 500 turun 2,24 poin atau 0,06 persen, menjadi ditutup pada 3.932,59 poin. Indeks Komposit Nasdaq terpangkas 47,97 poin atau 0,34 persen, menjadi berakhir di 14.047,50 poin.

Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan utilitas merosot 1,14 persen, memimpin penurunan. Sektor energi melonjak 2,26 persen, merupakan kelompok dengan kinerja terbaik.

Sektor-sektor yang siap mendapatkan keuntungan terbesar dari ekonomi yang dibuka kembali, termasuk energi dan keuangan, memiliki persentase keuntungan terbesar.

Presiden Joe Biden telah mengajukan RUU bantuan pandemi senilai 1,9 triliun dolar AS, dan mendesak Kongres untuk mengesahkannya dalam beberapa minggu mendatang untuk mendapatkan stimulus bantuan tunai 1.400 dolar AS kepada warga Amerika, dan meningkatkan pembayaran pengangguran.

Indeks perbankan S&P 500 naik ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun mencapai level tertinggi sejak Februari 2020.

“Kami memasuki minggu ini dengan perspektif positif tentang upaya pemerintah Biden, untuk memberikan paket yang cukup besar,” kata Quincy Krosby, kepala strategi pasar di Prudential Financial di Newark, New Jersey. Pasar menyambutnya dengan gerakan positif.

Sebaliknya, utilitas dan real estat mencatat persentase kerugian terbesar di antara sektor S&P 500. Utilitas dan real estat, karena laba mereka stabil dan imbal hasil dividen tinggi, sering dianggap sebagai proksi obligasi dan cenderung bergerak bersama-sama dengan obligasi AS.

Saham pembangun rumah, yang sensitif terhadap suku bunga, juga turun. Indeks Perumahan PHLX berakhir 2,5 persen lebih rendah. Saham-saham teknologi juga merosot. Sektor itu mencakup banyak saham dengan kelipatan laba tinggi, yang mungkin juga mendapat tekanan dengan imbal hasil yang meningkat, menurut beberapa analis pasar.

S&P 500 mundur dari tertinggi sesi saat imbal hasil naik pada Selasa (16/2/2021), yang mencerminkan kekhawatiran investor tentang lonjakan imbal hasil obligasi hari ini, kata Robert Phipps, direktur Per Stirling Capital Management di Austin, Texas. Ekuitas kemungkinan akan mentolerir kenaikan suku bunga secara bertahap, tetapi sprint yang lebih tinggi dapat menciptakan turbulensi, dalam pandangannya.

“Meski suku bunga masih sangat rendah, pasar saham akan sangat-sangat sensitif terhadap perubahan,” ujarnya.

Penurunan tajam dalam infeksi baru virus Corona baru, kemajuan dalam vaksinasi dan musim laporan keuangan kuartal ke empat yang lebih kuat dari perkiraan telah memperkuat harapan pemulihan bisnis yang cepat tahun ini.

Laporan laba minggu ini dari Hilton Worldwide Holdings Inc, Hyatt Hotels Corp, Marriott International Inc, Norwegian Cruise Lines, dan TripAdvisor Inc akan diawasi dengan ketat untuk tanda-tanda peningkatan permintaan perjalanan global.

Saham mata uang kripto dan perusahaan terkait blockchain, termasuk Silvergate Capital Corp, Riot Blockchain dan Marathon Patent Group, melonjak antara 8,0 persen dan 21 persen karena bitcoin sempat naik menembus level 50.000 dolar AS.

Investor juga akan fokus minggu ini pada risalah dari pertemuan Federal Reserve Januari, di mana Fed menegaskan kembali janjinya untuk mempertahankan sikap kebijakan yang dovish. (Ant)

Lihat juga...