Ini Cara Kota Semarang Turunkan Angka ‘Stunting’, AKI dan AKB

SEMARANG — Angka stunting atau gizi buruk, angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), masih menjadi persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat Kota Semarang. Kondisi tersebut juga semakin diperparah dengan jumlah kasus ibu hamil risiko tinggi, ibu hamil dengan anemia dan kekurangan energi kronik (KEK) yang relatif tinggi.

“Dalam upaya mengatasi angka stunting, AKI dan AKB, ini perlu sinergi dari seluruh pihak dan masyarakat. Salah satunya kita melakukan program kolaboratif berbasis kemitraan, dengan melibatkan beberapa stakeholder, melalui program Sayangi Dampingi Ibu dan Anak Kota Semarang (San Piisan),”papar Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Abdul Hakam di kantornya, Jumat (5/2/2021).

Dijelaskan, San Piisan menjadi program inovasi layanan kesehatan terhadap permasalahan kesehatan ibu dan anak, baik secara promotif, preventif maupun kuratif.

Dicontohkan, bagi ibu hamil, ibu nifas dan bayi juga mendapatkan pendampingan (homecare) oleh petugas Surveilans Kesehatan Ibu dan Anak (Gasurkes KIA) yang akan berkunjung ke rumah masyarakat terkait, sebagai upaya preventif dan promotif untuk mencegah kehamilan risiko tinggi. Data semua ibu hamil dan ibu nifas tercatat melalui sistem berbasis android yaitu Si Gaspol (Sistem Gasurkes Pelaporan Online).

“Pendampingan ibu hamil tekan AKI di Semarang, selain dilakukan melalui kunjungan langsung, juga bisa dilakukan secara online melalui aplikasi berbasis android, Sayang Bunda,” terangnya.

Melalui aplikasi tersebut,  ibu hamil dapat meminta pendampingan oleh petugas kesehatan sesuai kebutuhannya, tanpa harus menunggu lama untuk jadwal kunjungan atau pemeriksaan.

“Pendampingan juga tetap dilakukan pada masa pandemi Covid-19, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, termasuk memakai pakaian alat pelindung diri (APD),” tandasnya lagi.

Bayi yang memiliki risiko stunting, juga mendapatkan layanan lebih intensif sampai usia 90 hari atau 3 bulan. Upaya kuratif ini juga diberikan kepada ibu hamil anemia dan KEK, yakni masalah gizi pada ibu hamil yang disebabkan karena adanya kekurangan asupan makanan bergizi dalam waktu cukup lama. Caranya dengan pemberian tablet fe dan pemberian makanan tambahan (PMT) ibu hamil

Hasilnya pun terlihat, berdasarkan data DKK Semarang untuk angka stunting pada tahun 2019, angka prevalensi 0,033 dengan jumlah balita 107.071, angka tersebut menurun dibanding 2018 dengan prevalensi 0,021 dari 107.974 balita.

Program tersebut juga mendapat apresiasi dari Pemprov Jateng, dalam upaya penurunan angka angka stunting, AKI dan AKB, berupa penghargaan inovasi pelayanan publik tahun 2020, yang diterima pada Kamis (4/2/2021) lalu.

Terpisah, Wakil Walikota Semarang Hevearita G Rahayu, memaparkan inovasi San Piisan tersebut menjadi upaya Pemkot Semarang, dalam menurunkan angka stunting, AKI dan AKB di wilayah tersebut.

“Program San Piisan ini, akan terus kita dorong dan terus berlanjut, agar tiga persoalan tersebut bisa terus ditekan. Harapannya, dengan upaya ini, juga dapat melahirkan generasi berkualitas, berkecukupan gizi, yang nantinya mereka bisa menjadi SDM unggul dan berkualitas di masa datang,” tandasnya.

Lihat juga...