Jasa Pengrajin Kayu Dukung Estetika Fasilitas Usaha Pariwisata

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG —Jasa pengrajin kayu semakin banyak dilirik untuk estetika fasilitas usaha pariwisata. Pekerjaan ini pula yang ditekuni oleh Hendra, warga Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, sejak belasan tahun silam memenuhi order pembuatan furniture. Sejumlah perabotan rumah tangga dibuat olehnya sesuai permintaan pelanggan.

Kerap disebut sebagai tukang kayu, Hendra menyebut permintaan semakin meningkat untuk fasilitas objek wisata. Tren pembuatan fasilitas homestay, villa, penginapan, hotel berkonsep alam menjadi ladang penghasilannya. Ia mendapat order sebagai pengrajin kayu sesuai konsep yang diinginkan pemilik homestay. Jenis kayu yang digunakan telah disediakan pemilik dengan bentuk yang unik agar menarik pengunjung.

Konsep penginapan dengan bangunan kayu sebut Hendra banyak diminati. Pasalnya wisatawan kerap berasal dari kota yang ingin menikmati suasana pedesaan pesisir pantai. Rumah panggung kayu dikerjakan olehnya dengan sistem borongan, harian lepas dan sistem paket. Ia memilih sistem borongan untuk penyelesaian homestay berbahan kayu agar mudah diselesaikan.

“Pada sistem borongan pengrajin kayu akan mempekerjakan tukang kayu mulai dari pembuatan rangka, dinding, atap hingga perabotan yang ada di dalam homestay, rata rata bisa mencapai belasan hingga puluhan juta jasa upah sesuai kesepakatan,” terang Hendra saat ditemui Cendana News, Selasa (23/2/2021).

Jasa tukang kayu untuk pembuatan homestay dan villa pada objek wisata beri sumber penghasilan bagi Hendra, warga Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Selasa (23/2/2021). -Foto Henk Widi

Hendra bilang estetika homestay atau penginapan akan terlihat dari bahan kayu yang digunakan. Unsur kayu jati, bayur, kelapa, medang, waru dan bambu jadi penambah keindahan. Bahan kayu yang dibuat menjadi balok, papan sebagian diukir atau hanya diberi warna asli kayu memakai pelitur. Konsep tradisional yang dihadirkan menambah kesan suasana pedesaan yang disukai wisatawan.

Penggunaan tangga kayu, meja, kursi hingga jendela kayu sebutnya memiliki unsur hangat. Sebagai fasilitas penginapan sebagian pemilik ingin menggunakan atap ijuk, nipah atau genteng. Estetika fasilitas objek wisata yang dibuat olehnya juga berupa saung kayu, bambu. Setiap saung bisa dibuat dengan sistem paket hingga jadi mulai Rp2juta hingga Rp3juta.

“Fasilitas pendukung objek wisata yang banyak diperlukan berupa saung ikut memberi sumber pekerjaan bagi pengrajin kayu,” terang Hendra.

Hendra bilang menekuni usaha pengrajin kayu jadi peluang yang menjanjikan. Sebab perkembangan sektor pariwisata berimbas pada serapan tenaga kerja tukang kayu. Sekali proses pengerjaan villa, homestay, ia membutuhkan waktu bervariasi. Dua pekan hingga satu bulan diperlukan untuk penyelesaian bangunan bahkan bisa lebih dengan bahan kayu.

Solehan, pengrajin kayu lainnya menyebut memanfaatkan keahlian untuk membuat rumah berkonsep homestay. Memanfaatkan kayu, bambu rumah dijadikan homestay yang menarik. Selain disewakan sebagai penginapan ia juga menjual kerajinan akar kayu. Kerajinan tersebut memanfaatkan akar kayu yang tidak lagi dimanfaatkan lalu dicat dengan pelitur. Sebagian hasil karyanya dijual kepada pengunjung objek wisata.

“Hasil kerajinan kayu bisa dijual namun sebagian jadi pajangan menarik di homestay,” cetusnya.

Mian, pemilik homestay Dua Putri menyebut konsep rumah panggung banyak diminati wisatawan. Ia memilih membuat empat kamar rumah panggung kayu. Setelah empat kamar homestay berupa bangunan permanen bata dan semen, ia menambah bangunan kayu. Peran jasa tukang kayu sebutnya sangat membantu estetika homestay tepi pantai.

Mian bilang wisatawan ingin menikmati tidur dengan suasana alam desa tepi pantai. Estetika rumah panggung kayu sebutnya menjadi daya tarik dengan sewa per kamar Rp300.000 hingga Rp500.000 sehari semalam. Fasilitas meja, kursi dan perabotan dari kayu menurutnya jadi investasi. Meski modal bahan kayu yang mahal ia menyebut homestay bisa digunakan untuk sumber penghasilan.

“Peran pengrajin kayu menciptakan homestay yang unik, indah akan menjadi daya tarik untuk menginap,” cetusnya.

Rahmat, ketua Pokdarwis Ragom Helau, Desa Totoharjo, Bakauheni menyebut bangunan kayu jadi pendukung usaha wisata. Selain homestay, villa fasilitas saung serta usaha kuliner kerap memakai kayu. Keberadaan pengrajin kayu sebutnya banyak diperlukan pada objek wisata Pantai Kahay, pantai dan pulau Mengkudu. Ia menyebut mempekerjakan sekitar lima tukang kayu dibantu pengelola.

“Pengrajin kayu akan membuat homestay yang menarik berkonsep tradisional sehingga bisa menjadi daya tarik,” sebutnya.

Investasi membuat fasilitas berbahan kayu sebut Rahmat kerap bisa dihemat. Sebab sebagian bahan bisa diperoleh dari kebun milik warga. Investasi yang dikeluarkan untuk tukang kayu hingga puluhan juta dipastikan kembali. Sebab sebagian homestay kayu akan disewakan ke pengunjung. Sesuai luas dan fasilitas homestay kayu disewakan mulai Rp500.000 hingga Rp1juta per malam.

Lihat juga...