Jatah Pupuk Bersubsidi Berkurang, Hasil Panen tidak Maksimal

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Pemanfaatan Kartu Tani sebagai syarat transaksi pupuk bersubsidi sejak beberapa waktu terakhir, diketahui mengakibatkan penurunan jatah alokasi penerimaan pupuk bersubsidi di kalangan para petani. 

Hal tersebut diungkapkan sejumlah petani di Kabupaten Kulon Progo Senin (8/2/2021). Giono warga Dusun Demen, Wijimulyo Nanggulan, misalnya. Petani yang menggarap lahan seluas 1000 meter persegi ini mengaku hanya mendapatkan jatah pupuk bersubsidi sebanyak 25 kilogram.

Padahal kebutuhan pupuk yang harus ia gunakan untuk memupuk seluruh lahan pertanian yang digarapnya mencapai sekitar 40 kilogram. Akibatnya ia pun, harus memenuhi kekurangan kebutuhan pupuk tersebut dengan cara membeli pupuk secara mandiri (non subsidi).

Hal yang sama juga dirasakan petani lainnya Jemadi. Lelaki 59 tahun ini mengalami penurunan alokasi atau jatah pupuk bersubsidi, dari semula 250 kilogram pupuk bersubsidi menjadi hanya 100 kilogram saja.

“Sebelum pakai sistem kartu tani, saya mendapat jatah pupuk ponska sebanyak 3 sak isi 50 kilogram serta 2 sak pupuk urea. Namun sekarang hanya dapat jatah 1 sak ponska dan 1 sak urea saja,” ungkapnya.

Seperti halnya Giono, hal itu membuat Jemadi, mau tak mau harus memenuhi kebutuhan pupuknya dengan cara membeli pupuk non subsidi. Padahal pupuk non subsidi di musim tanam seperti sekarang ini sulit didapatkan. Kalaupun ada harganya sangat mahal.

“Perbandingan harga pupuk bersubsidi dan non subsidi sangat jauh. Satu sak pupuk bersubsidi jenis urea misalnya, itu harganya Rp90ribu isi 50 kilogram. Sementara pupuk non subsidi bisa mencapai Rp300ribu. Jadi sangat jauh,” katanya.

Akibat tak punya modal usaha, para petani pun mengaku tak bisa mencukupi kekurangan kebutuhan pupuk untuk lahan pertanian mereka tersebut. Hal itu jelas berdampak secara langsung terhadap tingkat produktivitas hasil pertanian mereka.

“Karena tak kuat beli pupuk non subsidi, ya mau tak mau menggunakan yang ada. Akibatnya jumlah hasil panen sejak beberapa musim panen terakhir menurun dibandingkan sebelum-sebelumnya,” katanya.

Para petani kecil seperti Giono dan Jemadi sendiri hanya bisa berharap agar pemerintah dapat menambah alokasi pupuk bersubsidi bagi mereka. Sehingga petani kecil bisa mendapatkan hasil panen maksimal sebagaimana diharapkan semua pihak.

Lihat juga...