Jelang Imlek Pasokan Ikan Nelayan di Lampung, Lancar

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Rantai pasok hasil tangkapan nelayan pesisir Teluk Lampung, mendukung sektor usaha berbasis ikan laut. Sumino, pedagang ikan laut di pasar Gudang Lelang, Teluk Betung, menyebut pasokan ikan lancar dari nelayan. Ikan untuk dijual kembali diperoleh melalui proses pelelangan. Ikan kurisi, tenggiri, tengkurungan, cumi-cumi disediakan menyesuaikan musim.

Pada musim angin barat dengan hasil tangkapan dominan kurisi dan tenggiri yang merupakan ikan pelagis, banyak diminati pelanggan. Permintaan ikan laut berasal dari konsumen rumah tangga, produsen kuliner hingga pemilik warung makan. Pesanan dari produsen kuliner pempek otak otak, bakso ikan, akan dikirim dalam bentuk ikan giling. Sebagian dijual dalam bentuk ikan utuh segar.

Pengawetan ikan teri dilakukan Mardan, produsen di Kampung Sukamina, Lempasing, Teluk Betung,Bandar Lampung, memanfaatkan hasil tangkapan nelayan Teluk Lampung, Senin (8/2/2021). -Foto: Henk Widi

Kondisi cuaca bersahabat bagi aktivitas nelayan tangkap membuat harga ikan stabil. Pada pekan pertama Februari, ia menyebut meski pasokan ikan lancar, harga berangsur naik. Faktor permintaan bahan baku kuliner untuk stok perayaan Imlek membuat harga ikan naik. Kenaikan harga ikan, meski pasokan lancar mencapai Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilogram.

“Mekanisme hukum pasar, permintaan tinggi namun stok berkurang berimbas harga naik pada ikan hasil tangkapan nelayan, sistem pembelian berbasis lelang memudahkan pedagang ikan seperti kami selalu mendapat pasokan ikan segar menyesuaikan modal,” terang Sumino, saat ditemui Cendana News di pasar Gudang Lelang, Senin (8/2/2021).

Sumino bilang, ikan laut segar banyak diburu ibu rumah tangga untuk konsumsi. Pemilihan ikan laut yang memiliki kandungan nilai gizi tinggi membuat permintaan ikan stabil. Pengaruh cukup signifikan, sebutnya, hanya terjadi pada penurunan permintaan dari pedagang kuliner boga bahari (seafood). Pasalnya, pembatasan jam operasional menurunkan kebutuhan bahan baku ikan laut.

Cahyani, salah satu pedagang kuliner berbasis ikan, mengaku memilih jenis ikan tenggiri. Dijual seharga Rp75.000 per kilogram, ikan tenggiri kerap dijadikan bahan bakso ikan, pempek dan otak-otak.

Rantai pasok yang lancar, ikut mendukung usaha olahan berbahan ikan. Sebagai alternatif untuk menghemat bahan baku dari ikan berharga tinggi, ikan layur menjadi pilihan.

“Ikan layur dengan harga dua kali lipat lebih murah tetap memiliki rasa yang lezat untuk bahan baku kuliner,” cetusnya.

Selain membuat pempek, bakso dan otak-otak, ia membuat peyek udang laut. Pasokan udang segar kerap dibuat menjadi peyek untuk meningkatkan harga jual. Berbagai varian olahan hasil tangkapan nelayan menjadi cara penyajian hasil laut.

Kreativitas kaum wanita mengolah kuliner berbasis ikan mendorong sektor ekonomi berputar dengan baik di pasar Gudang Lelang.

Sementara itu, ikan laut ukuran kecil jenis teri dan rebon menjadi potensi ikan awetan. Mardan, produsen ikan awetan dalam bentuk teri kering, rebon kering dan teri kering mengaku pasokan ikan cukup lancar. Pasokan ikan teri, layur, rebon diperoleh dari nelayan bagan apung di Teluk Lampung. Setiap pagi, ia mendapat pasokan hingga lima kuintal ikan teri dan layur.

“Ikan hasil tangkapan nelayan langsung dikirim ke lokasi pengepulan, lalu diolah agar memiliki nilai jual tinggi,” cetusnya.

Satu keranjang ikan teri seberat 15 kilogram, dibelinya seharga Rp180.000. Ikan selanjutnya akan direbus dengan garam untuk pengawetan.

Setelah melalui proses pengeringan, ikan akan memiliki daya simpan yang lebih lama. Pasokan lancar tangkapan ikan mendukung usahanya untuk meningkatkan nilai jual produk perikanan, dan membantu usahanya tetap eksis.

“Meski kondisi pandemi Covid-19, namun kami tetap bisa berproduksi dengan lancarnya pasokan tangkapan nelayan,” cetusnya.

Pasokan hasil tangkapan ikan laut, sebut Mardan, terpengaruh kondisi cuaca. Sebagian bagan apung milik nelayan yang terlindung sejumlah pulau memungkinkan pasokan ikan teri, stabil. Namun saat kondisi cuaca gelombang tinggi dan angin kencang, pasokan ikan layur berkurang. Ragam hasil tangkapan ikan laut yang bisa diawetkan secara tradisional menjadikan usahanya tetap berjalan.

Lihat juga...