Jelang Imlek, Permintaan Ikan Bandeng di Semarang Meningkat

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Dalam tradisi Tionghoa, mengonsumsi ikan bandeng pada saat Imlek, dipercaya dapat mendatangkan rezeki berlimpah. Kepercayaan tersebut, turut berimbas pada permintaan ikan bandeng yang ikut meningkat, terutama jelang tahun baru tersebut.

Tingginya permintaan tersebut dirasakan, Emi, pedagang ikan di Pasar Gang Baru, kawasan Pecinan Semarang. Setidaknya, dalam dua hari terakhir ini, dirinya bisa menjual ikan bandeng hingga 10 kilogram per hari.

“Sudah mulai meningkat, jika sebelumnya sekitar 5-6 kilogram, sekarang bisa sampai 10 kilogram. Harga juga ikut naik, apalagi saat ini kondisi cuaca sedang tidak bagus, harga ikan juga ikut naik termasuk bandeng,” paparnya, saat ditemui di sela berjualan di pasar tersebut, Selasa (9/2/2021).

Dijelaskan, saat ini kenaikan masih di kisaran Rp 5 ribu – Rp 7 ribu per kilogram, namun besaran tersebut diperkirakan akan semakin meningkat mendekati Imlek. “Jika dari pengalaman tahun lalu, jelang Imlek harga bandeng bisa naik hampir dua kali lipat. Misalnya untuk ukuran kecil saat ini, harganya Rp 25 ribu per kilogram dari harga awal Rp 18 ribu. Sementara untuk ukuran sedang menjadi Rp 35 ribu dari awalnya Rp 30 ribu,” lanjutnya.

Harga ikan bandeng juga akan semakin mahal, seiring meningkatnya ukuran. “Kalau besar, harganya bisa Rp 70 ribu per kilogram. Meski mahal, tetap dibeli konsumen karena memang mereka membutuhkan,” terangnya.

Diakui kenaikan harga tersebut, tidak dari pedagang, namun dari tingkat suplier juga sudah naik. “Bukan dari pedagang, kita ambil untung seperlunya, harga naik memang dari pemasoknya sudah tinggi,” lanjutnya.

Di lain sisi, Emi menuturkan, ada perbedaan perlakuan pada ikan bandeng yang dipesan untuk konsumsi secara umum, dengan keperluan Imlek. Jika untuk konsumsi, ikan yang dipesan diminta untuk dibersihkan dari isi perut hingga sisik. Termasuk juga, meminta memotong ikan menjadi beberapa bagian.

“Namun kalau untuk Imlek-an, belinya utuh. Tidak boleh dibersihkan atau dipotong. Nanti dimasak juga kondisi utuh, tidak dipotong-potong,” terangnya.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh salah seorang konsumen, Lilian, yang juga warga Tionghoa Semarang. Dijelaskan, ketika diolah dan disajikan, ikan bandeng harus tetap utuh tanpa membuang salah satu bagian tubuhnya.

“Ikan bandeng tersebut melambangkan rezeki dan keberuntungan berlimpah. Kepala dan ekor, tetap utuh tidak dipotong, harapannya menjadi rezeki tambahan yang akan didapatkan selama setahun kedepan, “ungkapnya.

Di satu sisi, Lilian juga berharap harga ikan bandeng, jangan terlalu melonjak. Kalau pun naik di batas yang wajar. “Selain dikonsumsi, ikan bandeng juga untuk sembahyangan, jadi kebutuhannya cukup banyak. Harapannya, sebagai konsumen ya jangan naik tinggi-tinggi, sewajarnya saja,” pungkasnya.

Lihat juga...