Juara Dunia Tinju Putri Ingin Perempuan Juga Bertarung 12 Ronde

Petinju putri, Claressa Shields, saat berlatih sebelum tarung tinju di Downtown Boxing Gym, Detroit, Michigan pada 2 Oktober 2019 – Foto Dok Ant

JAKARTA – Juara dunia tinju kelas menengah, Claressa Shields menyerukan, pertarungan tinju putri tingkat dunia juga dapat diadakan dalam jumlah ronde yang sama dengan putra. Alasannya,  aturan yang berlaku saat ini memunculkan anggapan bahwa petinju putri mesti dibayar lebih rendah dari putra.

Selama ini, pertarungan tinju tingkat dunia putri diadakan selama 10 ronde. Yang setiap rondenya berlangsung dua menit. Sedangkan untuk bagian putra, berlangsung 12 ronde yang setiap rondenya berlangsung tiga menit.

Shields, yang pada 5 Maret akan berusaha menjadi petinju yang memegang empat sabuk juara dunia dari dua kelas berbeda mengatakan, kini saatnya untuk memikirkan ulang soal jumlah ronde untuk tinju putri.

“Saya kira hal terbesar dalam tinju putri adalah orang bilang perempuan mestinya jangan dibayar sama, karena mereka kan tidak bertarung dalam lama waktu yang sama. Tetapi, saya harap semakin banyak orang yang menyadari, bahwa kami tidak menerapkan aturan seperti pada putra. Oleh karena itu, putra mesti mengubah aturan itu kepada mana setiap juara dunia tinju bisa bertarung tiga menit, 12 ronde,” katanya.

Aturan yang saat ini berlaku, kata Shields, membuat pertarungan tinju putri tidak terlalu banyak diwarnai KO (knock out), karena putri tak punya waktu banyak untuk menang KO.

Shields, yang menjuarai kelas menengah super WBC dalam pertarungan keempat, sebelum menyatukan gelar juara kelas ringan versi WBC, WBA, IBF dan WBO. Jika mengalahkan juara dunia kelas ringan IBF dan WBA Marie Eve Dicaire dari Kanada, di Dort Federal Event Centre di Flint, Michigan, maka petinju putri berusia 25 tahun itu akan menyatukan lima versi gelar.

Shields juga tak ingin petinju putri menggunakan pelindung muka. WBC mengatakan, berdasarkan penelitian ilmiah, petinju putri punya kemungkinan terkena gegar otak yang lebih besar ketimbang putra, sehingga waktu bertarung mereka dibuat tidak selama putra.

“Sains, bukan seksisme, yang menuntut kami menerapkan keputusan itu. Putri terbukti mengalami peningkatan kerentanan dan gejala berkepanjangan dibandingkan dengan putra. Sayangnya kebanyakan atlet putri, dalam semua cabang olahraga, berpenghasilan lebih rendah daripada putra. Kami berusaha mengatasi hal ini dengan membuat kampanye dan bergabung dengan organisasi di banyak arena, tidak hanya tinju,” kata WBC. (Ant)

Lihat juga...