Jurnalis Pantang Menyerah Buru Berita

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Pantang pulang sebelum tayang, menjadi salah satu semangat bagi sejumlah jurnalis saat bekerja melakukan peliputan. Kendati tantangan cukup berat, mulai dari medan jalan hingga risiko, harus dihadapi.

Tengku Khalidsah, jurnalis televisi di Lampung Selatan paham kondisi medan yang harus didatangi. Tugas untuk mendapatkan gambar banjir luapan sungai Way Sekampung, misalnya, harus diperoleh. Gambar atau video lengkap dengan wawancara narasumber, harus diburu.

Abaikan kondisi akses jalan yang buruk, sebagian digenangi banjir, ia tetap harus mencapai lokasi. Berjalan kaki dengan melepas alas kaki bersama dengan Jupri, salah satu rekan kerjanya dari media berbeda. Memberitakan kondisi bencana banjir bukan menjadi tugas pertama baginya. Meliput kondisi bencana alam tsunami pada 22 Desember 2018 silam di Lampung Selatan, juga pernah dilakoninya.

Liputan di wilayah bencana dan peralatan seadanya, jadi suka duka bagi Jupri, jurnalis di Lampung Selatan, Senin (9/2/2021). -Foto: Henk Widi

Mengabarkan fakta yang terjadi di lapangan dengan visual video, baginya menjadi kewajiban. Kendaraan motor terjebak tidak bisa melintas akses jalan pesisir saat tsunami, menjadi pengalaman. Hal yang sama dialami saat harus menuju ke lokasi banjir. Kendaraan harus diparkir dua kilometer dari lokasi yang harus diliput. Kondisi fisik tetap harus prima, meski cuaca tidak bersahabat.

“Materi berita kerap harus dikirim secepatnya, karena memiliki date line, sementara bagian pemberitaan tidak mengetahui kondisi di lapangan. Namun ketika mendapat wawancara narasumber dan suasana visual, tugas lebih ringan. Setelah tayang menjadi produk jurnalistik, akan memiliki kepuasan tersendiri,” terang Tengku Khalidsah, saat ditemui Cendana News, Selasa (9/2/2021).

Tengku Khalidsah bilang telah menjadi jurnalis lebih dari lima tahun. Mencari bahan berita ke sejumlah lokasi sulit telah dilakukan olehnya. Saat berada di lokasi banjir rob, ia bahkan harus merelakan motor mogok imbas air masuk ke busi motor. Pakaian kotor oleh lumpur, sendal jepit putus dan membantu mendorong mobil terjebak lumpur dilakukan olehnya.

Menjadi jurnalis, sebut Tengku Khalidsah, memiliki sisi suka dan duka. Ia menyukai dunia jurnalis untuk mengabarkan sejumlah kejadian yang butuh diketahui khalayak.

Produk jurnalistik bisa menggugah kepedulian instansi terkait untuk melakukan tindakan nyata. Misalnya, pemberian bantuan bagi korban banjir atau perbaikan akses jalan yang rusak.

“Meski harus mengorbankan kendaraan, waktu, namun setelah berita tayang, warga terbantu oleh kepedulian pemerintah,” bebernya.

Selain liputan di wilayah bencana, pada lain kesempatan ia harus bertugas ke lokasi dengan potensi kerumunan tinggi. Pelabuhan Bakauheni sebagai tempat transit penumpang asal Jawa ke Sumatra dan sebaliknya, menjadi salah satu lokasi mendapatkan berita. Potensi paparan Covid-19 bisa terjadi imbas bertemu, kontak langsung dengan orang tak dikenal.

Tengku, sapaan akrabnya, bahkan menyebut pernah meliput Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang baru sembuh dari Covid-19. Menjaga kesehatan diri agar tidak terpapar saat liputan, dilakukan dengan memakai masker. Usai melakukan pengambilan gambar, ia mencuci tangan, memakai penyanitasi tangan (hand sanitizer). Kamera handycam dibersihkan dengan tisu beralkohol.

“Risiko jurnalis terpapar Covid-19 diminimalisir dengan konsumsi makanan sehat, memakai masker dan olah raga,” cetusnya.

Tantangan kondisi cuaca penghujan dengan risiko badan kurang fit, menjadi hal biasa baginya. Meski menggunakan transportasi motor, ia tidak lupa selalu menyiapkan mantel hujan. Keterbatasan tidak mengurangi semangat untuk berkarya. Kepuasan batin saat berita tayang berbuah rekapan berita dan gaji dari karya jurnalistiknya, menjadi hal paling ditunggu.

Hal yang sama diakui Jupri, jurnalis media online. Meliput insiden kapal mati mesin di Selat Sunda, mencari korban tenggelam di Selat Sunda, dilakoninya. Risiko keselamatan serta menghadapi sejumlah kendala menjadi konsekuensi dari tugas sebagai jurnalis. Ia bahkan menyebut, harus rela mengalami kerusakan alat kerja karena terkena air laut.

“Tugas jurnalistik harus dipersiapkan matang, terutama saat berada di lokasi yang tidak mendukung alat kerja,” sebutnya.

Saat pandemi Covid-19, ia juga menghadapi kendala narasumber yang enggan diwawancara. Namun sebagai jurnalis yang wajib mendapatkan visual, ia melakukan rapid test bebas Covid-19. Beruntung, fasilitas tersebut diberikan oleh beberapa pihak yang membuatnya yakin akan kondisi kesehatannya. Menghasilkan karya jurnalistik, menjadi tujuan dengan mengesempingkan sejumlah risiko.

Samsu Rizal, kepala UPT Puskesmas Rawat Inap Ketapang, menyebut jurnalis mendukung informasi terkait Covid-19. Kegiatan sosialisasi protokol kesehatan bagi masyarakat kerap dilakukan di sejumlah tempat keramaian. Jurnalis yang memiliki risiko terpapar Covid-19 difasilitasi dengan rapid test dan pemeriksaan kesehatan.

Ia menyebut, promosi kesehatan saat musim penghujan dan bencana alam butuh peran jurnalis.

Meski memiliki risiko yang tinggi, peran jurnalis kerap terabaikan. Sadar akan kondisi tersebut, ia bahkan memberi kesempatan jurnalis untuk konsultasi kesehatan. Tetap menjaga stamina tubuh dengan vitamin dan asupan gizi, menjadi bekal bagi jurnalis. Meski jam terbang di lapangan tinggi, menjaga stamina dengan asupan gizi tetap diimbau olehnya.

Lihat juga...