Kak Seto: Penerapan Kurikulum Harus Berpihak pada Hak Anak

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Praktisi Keluarga dan Anak, Seto Mulyadi mengatakan, penerapan kurikulum pendidikan agar  lebih berpihak pada hak anak. Apalagi saat ini keadaan darurat mengkondisikan anak harus belajar di rumah. 

“Kurikulum pendidikan mohon lebih berpihak pada hak anak, saat ini keadaan darurat. Maka kurikulumnya juga darurat, dan kita tahu yang ditugaskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah kurikulum kehidupan,” ujar Kak Seto, pada acara webinar tentang pendidikan anak yang diikuti Cendana News, Kamis (4/2/2021).

Penerapan kurikulum kehidupan ini sesuai dengan Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Virus Covid-19. Yaitu, belajar daring dilaksanakan untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna bagi anak tanpa terbebani tuntutan kurikulum untuk kenaikan kelas atau kelulusan.

“Jadi mas menteri ini sangat memahami keadaan anak yang saling berbeda, terkhusus di masa pandemi Covid-19 ini, tidak usah terbebani tuntutan kurukulum,” ujarnya.

Selain itu ditegaskan lagi, bahwa belajar dari rumah difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup mengenai pandemi Covid-19. Ini berarti, kata Kak Seto, menjaga kesehatan bukan hanya fisik tapi juga mental dengan suasana penuh kerukunan dan kasih sayang.

Kak Seto juga mengingatkan orangtua harus mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dalam kondisi darurat ini. Tujuannya agar anak bahagia dan gembira selama proses belajar dari rumah.

Terpenting lagi menurutnya, kembangkan komunikasi efektif antara guru dan orang tua. “Mungkin zoom metting, memahami materi pelajaran yang agak sulit ditangkap anak,” ujarnya.

Sedangkan kaitannya dengan standar isi pendidikan penting untuk menjadi perhatian orangtua. Seperti menurutnya, dalam kaitan dengan etika yang ditanamkan harus lebih ramah anak. Contohnya, kata dia, dalam keluarga orangtua harus memberikan keteladanan.

“Bagaimana tetap santun dan menghargai anggota keluarga, juga sesama lainnya,” ujar Kak Seto yang menjabat Ketua Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPIA).

Estetika atau unsur seni dan kreativitas juga menjadi hal penting yang harus digali potensinya dalam diri anak. Begitu juga dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Nasionalisme juga harus ditanamkan dalam diri anak, bisa dengan mengajak diskusi mengenai ragam permainan rakyat dan lagu daerah, misalnya.

Terpenting juga kata Seto, prinsip hidup sehat bagaimana cara anak menjaga kesehatan di masa pandemi Covid-19 ini.

“Menjadi sabahat anak, ini yang paling penting tanpa kekerasan dimana orangtua bisa lebih sebagai fasilitar dan motivator bagi tumbuh kembang anak,” harapnya.

Kak Seto juga mengingatkan, makna pendidikan sangat jelas tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Yakni, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya.

“Jadi, makna pendidikan bukan sekadar mengisi air ke dalam gelas, tapi menumbuhkan sesuatu dari dalam potensi diri anak berkembang secara optimal,” pungkasnya.

Lihat juga...