Karang Taruna di Cijantung Budidaya Lele dan Tanaman Sayur

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA —Dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan warganya, remaja RT 003/RW 003 Kelurahan Cijantung, Jakarta Timur, digerakkan melakukan budidaya lele dan menanam ragam sayuran di halaman gedung karang taruna setempat.

“Remaja kan pondasi kemajuan bangsa, kita harus arahkan mereka kegiatan yang positif, salah satunya budidaya ikan lele, ikan nila dan gurame serta sayuran,” ungkap Sulistiono, kepada Cendana News saat ditemui di gedung Karang Taruna RT003/RW003, Senin (22/2/2021).

Dengan kegiatan program ketahanan pangan ini, dia berharap para remaja di lingkungannya mendapatkan wawasan dan pengetahuan tentang budidaya ikan dan sayuran.

“Kalau remaja tidak digerakkan dalam kegiatan lingkungan, yang ditakutkan nanti terjerumus ke pergaulan nggak baik, seperti narkoba atau perkelahian. Nah, dengan pelestarian lingkungan ketahanan pangan, mereka nambah wawasan, dapat ilmu,” imbuhnya.

Budidaya ini menurutnya, telah dilakukan sejak Juni 2020, dengan pembibitan awal sebanyak 500 ekor ikan lele dengan sistem pembudidayaan dalam 10 ember besar.

“Awal budidaya ikan dalam ember (Budikdamber) yang atasnya di sertakan sayuran kangkung dalam botol plastik bekas minuman,” ujarnya.

Namun sayangnya, menurut dia, budidaya ini gagal karena semua ikan lele tidak dapat dipanen dikarenakan mati semua.

“Budikdamber ini menyebabkan ikan lele susah gerak ya. Akibatnya ikan mati semua, nggak panen,” tukas pria kelahiran Yogyakarta, 65 tahun ini.

Sulistiono, Ketua RT 003/RW 003 Kelurahan Cijantung, Jakarta Timur memantau tanaman cabai di halaman gedung Karang Taruna, pada Senin (22/2/2021). -Foto: Sri Sugiarti

Sulistiono dan para mengurus karang taruna tidak menyerah, budidaya ikan lele pun dialihkan pada dua kolam berbahan terpal persegi empat ukuran panjang 3 meter dan tinggi 1,5 meter.

Menurutnya, budidaya ikan lele dengan kolam terpal ini lebih praktis dan efisien dibandingkan dengan kolam yang dibuat dari bahan semen dan juga ember.

“Kalau lihat di media sosial, itu Budikdamber mudah, padahal praktiknya susah. Lebih mudah pakai kolam terpal yang penting perawatan ikan lelenya harus sabar dan teliti,” ujarnya.

Pemberian pakan ikan lele harus teratur dengan rutin sesuai jadwal, padi dan malam. Yakni sebut dia, kalau pagi pukul 09.00 WIB, dan malam pukul 20.00 WIB.  Pemberian pakan juga tidak boleh sembarangan harus disesuaikan usia ikan lelenya.

Dengan dua kolam terpal, setiap tiga bulan sekali panen ikan lele pun dilakukan. “Kita sudah tiga kali panen, satu kali panennya menghasilkan 30 kilo ikan lele,” ujarnya.

Untuk pemasaran budidaya lelenya diutamakan ditawarkan kepada warga terlebih dulu. Harga per kilonya dipatok Rp25.000.

“Warga saya ini ada 180 KK (Kartu Keluarga). Jadi sekali panen 30 kilo ikan lele untuk supply ke warga itu masih kurang. Insyaallah sebelum bulan puasa, panen ikan lele lagi dan diharapkan lebih meningkat,” tuturnya.

Adapun keuntungan hasil panen menurutnya, digunakan kembali untuk pembelian bibit lele dan pakannya serta perawatan. Sedangkan modal awal budidaya lele ini didapat dari uang partisipasi warga saat para remaja melakukan penyemprotan di lingkungan.

“Kan setiap dua minggu sekali, mereka keliling semprot rumah warga, ada yang partisipasi ngasih uang. Nah, uangnya itu dikumpulkan untuk budidaya lele. Ada juga warga yang sport remaja, bantu kasih dana di luar uang partisipasi penyemprotan lingkungan,” ungkapnya.

Sulistiono mengaku budidaya ikan lele dengan menggerakkan remaja karang taruna ini bertujuan untuk mencukupi kebutuhan pangan warganya di tengah pandemi Covid-19 yang melanda.

Untuk sayuran produktif dan tanaman obat (toga) yang ditanam di halaman gedung Karang Taruna, seperti cabai, terong, jahe, lengkuas, kunyit, pohon pisang, singkong, dan pepaya. Maka, warga diperbolehkan untuk mengambilnya.

“Cabai, terong, pepaya, pisang, singkong, pepaya, dan juga toga, kalau warga mau silakan petik. Karena kan sayuran ini kita tanam untuk kebutuhan warga,” ujarnya.

Adapun budidaya ikan nila dan gurame menurutnya, tidak dipasarkan hanya berfungsi sebagai hiasan area halaman karang taruna saja.

“Kalau ikan nila dan gurame sih tidak dijual ya, cuma untuk hiasan saja biar anak-anak kecil yang main ke sini senang. Ada edukasi untuk mereka agar kenal jenis ikan,” imbuhnya.

Ketua Karang Taruna RT 003 RW 003, Aditya Nur Aji sedang memperhatikan tanaman cabai dan ikan nila di halaman gedung karang taruna, Kelurahan Cijantung, Jakarta Timur pada Senin (22/2/2021). -Foto: Sri Sugiarti

Ketua Karang Taruna RT 003 RW 003, Aditya Nur Aji mengaku bangga dapat berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan bersama para remaja lainnya.Salah satunya kegiatan budidaya ikan lele dan penghijauan menanam ragam sayuran.

“Manfaatnya mengisi waktu luang para remaja di RT003 di tengah pandemi ini. Kita dapat ilmu budidaya lele, ikan nila, dan menanam sayuran,” ujar Aditya.

Memang menurutnya, saat budidaya ikan mengalami kegagalan tapi dirinya bersama 18 remaja lainnya tidak menyerah. Apalagi pengurus RT yaitu bapak-bapaknya sangat antusias mendukung memberi semangat dan ilmu budidaya ikan dengan telaten.

“Awal budidaya gagal, tapi kita belajar terus, yang penting tekun dan sabar. Sayuran juga tumbuh subur, warga yang mau cabai atau terong boleh petik sendiri,” ujarnya.

Agustiono, salah satu warga RT 003 RW 003 yang memberi dukungan kegiatan karang taruna mengaku bangga dengan dedikasi para remaja dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan bagi warga.

“Alhamdulillah remajanya antusias sekali dalam budidaya ikan lele dan tanam sayuran. Ya, saya bersama bapak-bapak lainnya di lingkungan, aktif menyemangati mereka dalam kegiatan ketahanan pangan ini,” ujar Agus.

Lihat juga...