Kaya Manfaat, Warga Bunulrejo Budi Daya Bunga Telang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Sebagian masyarakat mungkin masih belum familiar dengan tanaman bunga Telang. Tanaman dengan nama latin Clitoria ternatea ini tidak hanya mempunyai bunga yang cantik tetapi juga memiliki segudang manfaat bagi kesehatan.

Hal inilah yang kemudian memotivasi pasangan suami istri Dadik Widodo dan Amita Prawita Putri, warga jalan Grindulu RT 06 RW 07, kelurahan Bunulrejo, kecamatan Blimbing, kota Malang, untuk mulai membudidayakan tanaman bunga Telang.

Dadik mengatakan, sebenarnya tidak sulit membudidayakan bunga Telang karena tidak membutuhkan perawatan yang ekstra.

Cukup dengan menanam bijinya di kedalaman 1-2 sentimeter dari permukaan tanah kemudian disiram. Setelah itu sekitar satu minggu sudah mulai tumbuh tunasnya dan pada usia satu bulan bunga pertama sudah mulai keluar.

Biji bunga telang yang dihasilkan Dadik Widodo di rumahnya, Senin (22/2/2021). Foto: Agus Nurchaliq

“Saya biasanya menanam langsung di pot bisa, atau kalau mau bikin banyak biasanya saya taruh di gelas-gelas air mineral. Satu gelas air mineral saya isi 3-4 biji Telang. Tapi kalau memang langsung ditanam di tanah juga tidak apa-apa, langsung disebar bijinya di tanah,” jelasnya saat ditemui di rumahnya, Senin (22/2/2021).

Pada awal-awal pertumbuhan mungkin cuma tumbuh satu atau dua bunga saja. Tapi begitu bunganya diambil, nanti biasanya akan keluar lagi bunganya dengan jumlah yang lebih banyak.

“Semakin sering dipanen bunganya dan semakin banyak cabangnya, maka bunga yang tumbuh dalam satu tanaman akan semakin banyak,” ungkapnya.

Lebih lanjut, terkait perawatan tanaman, Dadik mengaku tidak pernah memberikan pupuk kimia. Ia hanya menggunakan media tanam berupa campuran tanah dengan kompos bambu.

“Tidak pernah pakai pupuk kimia yang aneh-aneh. Semua tanaman biasanya saya berikan kompos atau humus bambu karena di sekitar rumah banyak tanaman bambu,” akunya.

Selain itu, Dadik juga mengaku kerap melakukan pemangkasan tanaman di usia 4-5 bulan untuk memacu pertumbuhan bunga. Namun jika pemilik tanaman tidak berani memangkas sampai habis karena takut tidak tumbuh lagi, maka cukup dikurangi saja sulur-sulurnya. Karena dari satu tangkai bisa banyak sekali keluar sulur-sulur.

Kalau sudah terlalu banyak sulur, nanti kecenderungannya ukuran bunga akan menjadi semakin kecil dan semakin sedikit jumlahnya karena nutrisinya terbagi.

“Jadi kalau kebanyakan sulur seperti itu saya sarankan pada usia lima bulan tanaman dipangkas dan dikurangi sulurnya. Memang saat awal-awal dipangkas nanti otomatis tidak akan berbunga. Tapi nanti setelah satu bulan, tanaman Telang akan kembali berbunga lebih lebat,” terangnya.

Selanjutnya, jika ingin mendapatkan bijinya, maka bunga yang ada di pohon jangan dipanen. Karena bunga Telang jika dibiarkan kering di pohonnya dan tidak diambil, dia akan menjadi polong. Biarkan polong tersebut tumbuh sampai besar dan kering di pohon.

Begitu nanti sudah berwarna coklat kering, polong sudah bisa dipanen. Setelah dipanen polongnya kemudian dipecah untuk mendapatkan biji. Selanjutnya biji dijemur 1-2 hari dan sudah siap menjadi benih atau biji yang siap untuk ditanam.

“Bunga Telang ini mekarnya hanya satu hari. Kalau dibiarkan saja di pohon, besoknya sudah kuncup lagi. Kemudian hari ketiga bunga menjadi kering dan di hari keenam sudah mulai tumbuh polong kecil. Biarkan saja polong tersebut selama satu bulan, setelah itu sudah bisa dipanen bijinya. Kalau saya dulu awalnya beli bijinya dari petani di Bogor karena dulu di sini tidak ada. Tapi sekarang sudah mulai banyak yang jual bibit tanaman Telang yang sudah keluar bunga,” tandasnya.

Jadi sebenarnya menurut Dadik gampang sekali budi daya bunga Telang. Apalagi sudah punya bibit banyak, kalau mau perbanyakan sendiri bisa dari satu pohon saja. Tapi sayangnya tidak banyak orang yang tahu pemanfaatan bunganya.

“Mungkin menanamnya mudah, tapi begitu sudah tumbuh, orangnya bingung mau diapakan bunganya. Karena saya melihat di beberapa tempat banyak tanaman Telang yang tumbuh di pinggir-pinggir jalan tapi tidak ada yang memanen,” ujarnya.

Sementara itu disampaikan, Amita Prawita Putri, karena keterbatasan lahan yang mereka miliki, akhirnya ia berinisiatif mengajak warga sekitar untuk ikut menanam bunga Telang.

“Jadi saya berdayakan Ibu-ibu rumah tangga di RW saya untuk menanam bunga Telang di rumahnya masing-masing. Harapan saya setiap rumah bisa menanam satu pohon Telang. Nanti mereka bisa jual bunganya ke saya untuk selanjutnya diproduksi sebagai minuman kesehatan,” ucapnya.

Pemanfaatan bunga Telang sebagai minuman kesehatan, Senin (22/2/2021). Foto: Agus Nurchaliq

Dijelaskan Amita, bunga Telang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan di antaranya kaya akan anti oksidan karena warnanya yang pekat dan bersifat sebagai penghancur racun dalam darah sehingga baik bagi penderita gagal ginjal, diabetes, serta bisa mengecilkan kelenjar getah bening.

“Dulu saya pakai bunga Telang hanya sebagai pewarna makanan. Tapi setelah tahu manfaatnya, kemudian saya gunakan untuk minuman kesehatan berupa sirup dan teh Telang,” pungkasnya.

Lihat juga...