Kelompok Tani Wuluhan Jember Dikenalkan Pemanfaatan Pupuk Organik

Editor: Makmun Hidayat

JEMBER — Koperasi Jember, Jawa Timur,  bersama Kelompok Tani Makmur di Desa Wuluhan, melakukan kegiatan penyemprotan tanaman padi dan sosialisasi perawatan yang baik dari membibit hingga sampai pada masa panen dengan pupuk organik.

“Kegiatan ini merupakan upaya dalam mengedukasi masyarakat tani untuk bisa lebih memahami bagaimana mengelola sawahnya dengan baik, apalagi di masa musim penghujan sekarang ini,” ucap Ketua Koperasi Jember, Ali Montoha kepada wartawan di Desa Wuluhan, Selasa (9/2/2021).

Ali Montoha menambahkan, kegiatan yang dilakukan oleh Koperasi Jember dan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas sumber bahan pangan primer di Jember. Selain itu, juga meningkatkan pendapatan saat masa panen raya tiba waktunya, yang akan dilaksanakan pada bulan Maret mendatang.

Dengan meningkatkan kualitas tanaman padi sejak dini, maka hasil yang di dapatkan dapat semakin meningkat.

“Kegiatan ini dilakukan guna meningkatkan hasil panen yang lebih banyak. Jika sebelumnya saat masa panen raya tiba, dalam satu hektare lahan tanaman padi menghasilkan produk tanaman padi sebanyak 6 ton. Harapannya, di masa panen berikutnya bisa menghasilkan lebih, bisa saja dapat menghasilkan 8 atau sampai 9 ton padi,” tambahnya.

Tidak hanya sekadar sebatas sosialisasi saja, lanjutnya, namun kedepannya koperasi dan KTNA bekerja sama dalam melakukan upaya pendampingan dari awal masa bercocok tanam padi hingga masa panen raya tiba.

Dengan begitu, Kelompok Tani Makmur dapat mencegah beberapa kendala seperti terserang hama, tanaman padi rusak akibat sering diguyur hujan. Tentunya hal itu menjaga agar kualitas pagi yang dihasilkan baik, dan hasil padi yang didapatkan semakin banyak.

Ali Montoha mengatakan, pengelolaan sawah dalam tanaman padi tidak serta merta hanya dikelola dengan ala kadarnya. Pengelolaan tanaman padi perlu melihat aspek lain, seperti halnya menjaga kadar tanaman dengan memberi pupuk yang tidak terlalu mengandung bahan kimia.

“Karena lahan sawah yang dikelola dengan terlalu banyak menggunakan pupuk yang berbahan dasar kimia, untuk keberlajutannya semakin memperusak kualitas tanah, dan berpengaruh terhadap pendapatan padinya saat masa panen,” tuturnya.

Menurutnya, penggunaan baham pupuk yang tidak terlalu banyak menggunakan bahan kimia jauh lebih efektif, daripada setiap melakukan pemupukan dengan bahan kimia. Bahan alami yang dapat digunakan yakni bahan yang berasal dari limbah organik, seperti kotoran sapi.

Dengan begitu, penggunaan pupuk alami menjaga kualitas tanah semakin baik kedepannya. Dari hasil padi yang diperoleh akan baik dan meningkatkan hasil produk padi saat masa panen tiba.

Keterlibatan beberapa perangkat daerah menjadi tolak ukur yang dapat memberikan edukasi kepada para petani. Saat ini petani hanya bergantung pada olahan pupuk yang banyak mengandung zat kimia daripada menggunakan produk pupuk organik.

Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Jember, Nyoman, mengatakan kegiatan ini sangat membantu untuk para petani. Dengan begitu keberdayaan kelompok tani akan semakin produktif. Pengelolaan lahan pertanian butuh untuk dilakukan pendampingan, dari hulu ke hilir.

“Artinya, petani didampingi dari saat proses penanaman hingga pada aspek pengelolaannya sampai pada masa panen,” tuturnya.

Ia menambahkan,  juga pada aspek bahan baku yang digunakan pada lahan pertanian, saat ini perlu untuk kembali lagi pada pemberdayaan produk pupuk organik.

“Kan bisa saja itu kotoran sapi digunakan untuk pemupukan lahan pertanian. Dengan begitu petani juga tidak bergantung pada harga pupuk yang mahal, dengan menggunakan pupuk organik bahan dasarnya mudah di peroleh maupun harga belinya tidak begitu mahal,” tuturnya.

Dalam kegiatan penyemprotan tanaman padi serta sosialisasi tersebut, selain diikuti Koperasi Jember dan Anggota Komisi B DPRD Jember, juga diikuti KTNA Jember, Dinas Peternakan, serta staf Agrosolution Pupuk Kaltim, dan Kelompok Tani Makmur Wuluhan.

Lihat juga...