Kenali Karakter Gunung Api Cegah Terjadinya Korban

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Secara geografis, Indonesia termasuk wilayah rawan bencana erupsi gunung api. Tercatat, ada 4,5 juta masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana dan ada 127 gunung api aktif yang dipantau otoritas. Tapi, erupsi gunung api ini bukanlah bencana jika mitigasi dilakukan secara masif oleh semua pihak, dengan berbasis pemahaman karakteristik gunung api.

Peneliti Senior Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim Institut Teknologi Surabaya (ITS), Dr. Amien Widodo, menyatakan gunung api memiliki karakter masing-masing. Dan, di Indonesia mayoritas karakternya adalah gunung api di area subduksi (zona penunjaman).

Karakter gunung api Indonesia yang terbentuk di zona subduksi, yang disampaikan oleh Peneliti Gunung Api Herlan Darmawan, dalam acara online geologi, Rabu (10/2/2021). –Foto: Ranny Supusepa

“Pemahaman akan karakter gunung api akan menghindari terjadinya bencana, yang berpotensi terjadi saat peristiwa alam erupsi gunung api,” kata Amien, dalam acara online geologi, Rabu (10/2/2021).

Ia menegaskan, bahwa erupsi gunung api itu bukanlah bencana. Tapi suatu peristiwa alam yang terjadi secara alamiah. “Bencana itu kalau ada erupsi lalu mengenai orang atau bangunan yang menyebabkan adanya korban. Kalau tidak, ya itu cuma peristiwa alam saja,” ujarnya.

Untuk menjadikan erupsi sebagai peristiwa alam zero victim, tentunya harus memahami karakter gunung api tersebut.

“Kalau kita kenal karakternya, ya harusnya tidak akan ada bencana. Kalau tipenya melontarkan batu, ya jangan dekat-dekat,” tandasnya.

Peneliti Gunung Api Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr.rer.nat Herlan Darmawan, M.Sc., menyatakan gunung api terjadi akibat dinamika Bumi. Arus konveksi dalam Bumi membuat kerak atau lempeng Bumi bergerak dinamis.

“Gunung api Indonesia mayoritas terjadi akibat tumbukan lempeng Samudra dan lempeng benua di bawah permukaan. Dengan magma yang bersifat andesitic-basaltik dan kental (viscous),” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Ia menyebutkan, dari 77 gunung api tipe A, ada 66 gunung api yang sudah dipantau secara aktif oleh otoritas PVMBG. “Kenapa hanya 66? Karena infrastruktur pemantauan gunung api ini memang mahal harganya. Sehingga butuh waktu bagi pemerintah untuk mempersiapkan,” ucapnya.

Karena itu, Herlan menegaskan masyarakat yang menemukan alat pantau di sekitar gunung api, seperti di Merapi, tidak boleh diambil atau dirusak.

“Ini salah satu bentuk mitigasi masyarakat. Jangan mengganggu alat pantau yang dipasang oleh otoritas terkait. Dan, masyarakat jangan mau termakan isu hoaks. Sebaiknya follow saja sosial media otoritas terkait. Misalnya, BBPTKG yang khusus untuk Merapi. Jadi, bisa mendapatkan info akurat. Dan, kalau ada perintah untuk mengungsi atau diam di rumah atau jangan mendekati area sekitar gunung api, ya dituruti. Karena penentuan area aman itu sudah merupakan hasil penelitian dan data yang dilakukan oleh otoritas tersebut,” paparnya.

Dan ini bukan berlaku bagi masyarakat umum saja. Mitigasi juga harus dilakukan oleh para pelaku usaha. “Pelaku usaha juga harus patuh pada otoritas yang memonitor gunung api dan melakukan mitigasi long term risiko,” ujarnya.

Dan terakhir, yang paling ditekankan oleh Herlan adalah peran pihak media dalam menginformasikan suatu kondisi peristiwa alam.

“Seringkali tulisan media itu berbasis click bait saja. Tidak ada unsur edukasinya. Pada saat dibuka, tidak ada informasi yang berguna. Padahal salah satu fungsi media adalah untuk memberikan informasi akurat, yang bukan hoaks, yang didapatkan dari sumber terpercaya,” pungkasnya.

Lihat juga...