Kiat Pengelolaan Air dalam Budidaya Ikan Guppy

Editor: Makmun Hidayat

MALANG — Ikan guppy merupakan salah satu jenis ikan hias yang cukup banyak diminati masyarakat. Sama halnya dengan ikan cupang, ikan guppy juga memiliki ragam warna yang menarik terutama pada bagian ekor.

Daya tarik inilah yang kemudian membuat M. Mukhlis tertarik untuk membudidayakan ikan bernama latin Poecilia reticulata tersebut. Disampaikan Mukhlis, bagi pemula, sebelum memutuskan untuk melakukan budidaya, sebaiknya lebih dulu mencari referensi informasi sebanyak-banyaknya tentang ikan guppy.

“Dalam budidaya guppy,  intinya adalah bagaimana cara kita mengelola air agar tetap dalam kondisi yang sehat,” tuturnya saat ditemui Cendana News di galeri ikan hias miliknya yang berlokasi di Jalan Ranugrati, kota Malang, Senin (22/2/2021).

Menurutnya, ada dua macam jenis air yang biasa digunakan dalam budidaya ikan guppy yaitu air PDAM dan air sumur. Hanya saja kedua jenis air tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Jenis air PDAM pada umumnya terhindar dari kandungan zat kapur, tapi tinggi kandungan kaporit. Sebaliknya, kalai air sumur biasanya terhindar dari kaporit tapi zat kapur dan besinya tinggi.

“Intinya kedua jenis air tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi kalau saya pribadi lebih cocok memakai air sumur karena kandungan zatnya lebih stabil,” akunya.

M. Mukhlis meberikan pakan ikan guppy di geleri ikan hias miliknya, Senin (22/2/2021). -Foto: Agus Nurchaliq

Dikatakan Mukhlis, jika ingin belajar budidaya jangan pernah beli ikan dari luar pulau dulu sebelum mencoba memelihara ikan yang ada di sekitar lokasi budidaya lebih dulu. Karena bisa mengakibatkan ikan menjadi stres.

“Jangankan beda pulau, beda rumah saja kadar airnya suda berbeda. Kondisi inilah yang bisa membuat ikan menjadi stres. Jadi kita coba dulu yang dekat-dekat, setelah itu baru boleh ke luar pulau kalau ingin mencari ikan guppy jenis yang lain,” imbuhnya.

Menurut Mukhlis, bagi pemula yang ingin belajar budidaya guppy, sebaiknya bisa langsung membeli ikan yang mahal dan bagus. Sebab, sesuatu yang mahal itu pasti akan lebih diperhatikan dan tidak disepelekan.

“Jadi dia ada semangat untuk menjaga ikannya. Tapi kalau pemula beli ikannya yang murah, ada kemungkinan dia merawatnya asal-asalan, kalau ada yang mati bisa beli lagi. Karena alam bawah sadarnya sudah merespon seperti itu. Sehingga tidak ada keseriusan untuk merawat. Tapi semua itu kembali pada keinginan dan kemampuan konsumen,” tandasnya.

Lebih lanjut disampaikan Mukhlis, ikan guppy dikatakan sudah siap dikawinkan jika sudah berusia tiga bulan. Setelah terjadi proses perkawinan yang ditandai dengan membesarnya perut ikan betina, sebaiknya ikan jantan dipisahkan.

Pada proses ini, ikan betina harus benar-benar diperhatikan kapan dia akan melahirkan anak-anaknya. Karena setelah melahirkan, induknya harus segera dipisahkan agar tidak memangsa anaknya.

“Beri wadah dengan media jaring, tanaman, atau tali rafia yang berfungsi sebagai tempat bersembunyi anak-anak ikan guppy dari induknya supaya tidak dimakan. Baru setelah itu indukan dipindah ke wadah lain,” terangnya.

Pada awal kehidupannya di usia 2-10 hari, bayi guppy biasanya full diberi pakan artemia, setelah itu baru diberi pelet. Ada sekitar 50 jenis ikan guppy yang Mukhlis budidayakan.

“Harganya mulai dari 50 ribu sampai dengan jutaan rupiah per pasang,” ucapnya.

Sementara itu salah satu pembeli, Ilham, mengaku sangat tertarik memeliharan ikan guppy karena warna dan bentuknya yang indah.

“Di rumah sekarang sudah ada sekitar delapan ikan guppy dari harga yang murah sampai yang agak mahal. Dan sekarang mau nambah lagi dua ekor untuk hiburan di rumah,” pungkasnya.

Lihat juga...