Kisah Penerima Bantuan BPUM di Bekasi Saat Rekening Diblokir

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Bantuan Presiden Produktif Usaha Mikro (BPUM) bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) terdampak pandemi Covid-19 untuk mendorong geliat ekonomi, ternyata tidak dirasakan oleh Alfiyah, warga Muaragembong Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. 

Pelaku UMKM yang mengolah aneka jenis berbahan dasar mangrove di wilayah Muaragembong, itu mengisahkan pada September 2020 telah mendapatkan bantuan sebesar Rp2,4 juta melalui rekening BRI yang dimilikinya.

Tapi, tanpa dinyana olehnya pada Januari 2021, uang bantuan yang dibiarkan tersimpan di rekening miliknya tersebut diketahui telah diblokir, bahkan dia dinyatakan masih berutang dan harus mengembalikan sisa uang bantuan yang sempat terpakai melalui rekeningnya.

“Saya sekarang dinyatakan berutang sekitar Rp327 ribu. Karena bantuan bagi UMKM Rp2,4 juta yang masuk ke rekening BRI, sempat terpakai bersama saldo awal saya,” ungkap Alfiyah, Ketua Kebaya Muaragembong, mengisahkan kepada Cendana News, Selasa (16/2/2021).

Menurutnya, kejadian tersebut diketahuinya awal pada Januari lalu, karena mau mengambil lagi uang bantuan UMKM yang masih tersimpan di rekeningnya. Tapi betapa kagetnya Alfiyah, saat mengetahui rekening telah diblokir. Apalagi ia dinyatakan harus mengembalikan uang bantuan yang telah diterimanya yang sempat terpakai.

Atas kejadian tersebut Alfiyah, mengaku sudah koordinasi dengan BRI di wilayahnya. Tapi jawabannya, pemblokiran rekeningnya itu adalah kebijakan pusat, alasannya karena usahanya termasuk kelas menengah.

“Heran juga saya, kok dibilang usaha kelas menengah, makanya cek dulu ke rumah, sebelum diberi bantuan. Biar melihat langsung jenis usaha saya seperti apa. Ini usaha rumahan, yang kembang kempis, tapi Alhamdulillah jika dibilang sudah kelas menengah,” ujarnya keheranan, ada yang miliki mobil dua saja lolos.

Ironis, ungkap Alfiyah karena pemblokiran rekening bantuan Rp2,4 juta melalui BRI dilakukan karena usaha dikatakan kelas menengah. Tapi pihak bank tidak ada koordinasi langsung blokir rekening.

“Usaha saya ini olahan mangrove di rumah dan pakai perahu sewa lagi untuk memasarkan produk ke kota seperti penitipan di minimarket dan lainnya,” ujarnya  seraya menyebut saat ini hanya bisa menangis karena sudah bolak-balik mengurus tidak ada solusi.

Saat ini jelas Alfiyah, pelaku UMKM di wilayah Muaragembong tengah mengalami sekarat. Di samping susah sinyal, kondisi cuaca juga jadi kendala seperti banjir dan laut pasang surut. Keluar dari pesisir saja harus menggunakan perahu untuk memasarkan produk.

“Kalo bahan baku banyak mangrove, karena olahan dari bahan lokal,  tapi produksi kalo tidak ada yang beli kan percuma pemasaran lagi mati kutu. Di tempat penitipan saja tidak laku bahkan tidak sedikit yang dikembalikan dan dari seratus pic misalkan hanya terjual sembilan,” jelas Alfiyah.

Lebih lanjut disampaikan, saat ini produksi olahan seperti kerupuk, mangrove, dan ikan di Muaragembong banyak berhenti produksi terutama mereka yang produksi mandiri.

Diketahui beragam olahan laut di Muaragembong meliputi daun mangrove, stik jengkok, kerupuk ikan, dan lainnya di produksi oleh kelompok Kebaya yang melibatkan ibu-ibu di wilayah Muaragembong dengan label Mang Oge. Mereka memasarkan melalui online dan penitipan di minimarket, koperasi dan warung-warung di wilayah Bekasi.

Lihat juga...