KKN Mahasiswa UMP Tanam Seribu Pohon Kopi Gayo

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Puluhan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) yang melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Percepatan Penanganan Covid-19 di Desa Dawuhan, Kecamatan Sirambog, Kabupatan Brebes melakukan penanaman seribu pohon kopi gayo. Selain mempunyai nilai ekonomis tinggi, penanaman ini juga untuk mengantisipasi banjir di kawasan tersebut.

Rektor UMP, Dr Jebul Suroso mengatakan, kegiatan KKN mahasiswa UMP harus mampu membawa manfaat bagi masyarakat sekitar. Sehingga harus ada pemetaan sebelumnya, tentang potensi daerah setempat, setelah itu baru disusun program yang sesuai dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Rektor UMP, Dr Jebul Suroso di UMP, Kamis (11/2/2021). -Foto: Hermiana E. Effendi

“Penanaman kopi gayo di Brebes ini mempunyai banyak manfaat. Antara lain, daerah tersebut sudah terdapat tanaman serupa, tetapi belum banyak. Sehingga dengan diperbanyak sampai 1 juta pohon, diharapkan kopi gayo bisa menjadi salah satu komoditas unggulan desa,” kata Rektor, Kamis (11/2/2021).

Dengan banyaknya produksi kopi gayo, lanjut Rektor, maka secara otomatis juga akan meningkatkan perekonomian para petani. Terlebih kopi jenis ini merupakan salah satu kopi terbaik yang mempunyai harga bagus di pasaran.

Manfaat selanjutnya, kata Jebul Suroso, penanaman pohon kopi ini juga dimaksudkan untuk mengantisipasi terjadinya banjir di wilayah sekitar. Mengingat kondisi hutan di Desa Dawuhan banyak yang pohonnya ditebangi dan membuat hutan nyaris gundul.

“Pada musim hujan tahun lalu, sempat terjadi banjir yang cukup besar di Brebes, sehingga antisipasi banjir harus dilakukan sedini mungkin. Penanaman pohon kopi ini merupakan salah satu upaya untuk mencegah banjir ke depannya,” tuturnya.

Rektor menekankan, semua target dan tujuan dari kegiatan KKN tersebut, harus diupayakan semaksimal mungkin untuk diwujudkan. Sehingga kehadiran mahasiswa UMP, benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Sementara itu, Kordinator KKN UMP di Kabupaten Brebes, Wahyu Jati mengatakan, kondisi hutan di Desa Dawuhan bisa dibilang cukup mengkhawatirkan. Sehingga dalam KKN kali ini, penanaman 1 juta pohon kopi gayo menjadi pilihan yang sangat tepat untuk dilakukan.

“Kondisi hutan yang nyaris gundul ini, membuat air hujan tidak mampu terserap, sehingga sangat berpotensi terjadi banjir jika hujan lebat,” katanya.

Sedangkan para petani di desa setempat, lebih banyak menanam jenis tanaman semusim yang tidak mampu menahan air hujan. Seperti tanaman kol, daun bawang, kentang dan sejenisnya.

“Penentuan jenis tanaman kopi gayo merupakan salah satu upaya reboisasi penghijauan hutan dengan memperbanyak tanaman keras. Penanaman pohon kopi ini juga bisa menjadi salah satu terobosan guna membantu perekonomian warga di Desa Dawuhan,” pungkasnya.

Lihat juga...