KKP Libatkan INFHEM dalam Kelola Kesehatan Ikan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya melibatkan peran Indonesia Network on Fish Health Management (INFHEM), dalam Pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan perikanan budidaya. Hal tersebut karena pentingnya dalam menentukan keberhasilan produksi perikanan budidaya.

KKP melibatkan INFHEM, dalam Pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan perikanan budidaya. Hal tersebut disampaikan Dirjend Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, Kamis (25/2/2021). Foto: Muhammad Amin

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, permasalahan terkait penyakit ikan dan lingkungan perikanan budidaya semakin kompleks dengan intensitas yang semakin tinggi, sehingga dapat menjadi faktor utama dalam penurunan produksi, bila tidak segera ditangani.

“INFHEM sebagai salah satu stakeholder perikanan budidaya yang telah banyak berkontribusi dan memiliki komitmen di bidang kesehatan ikan dan lingkungan,” sebut Soebjakto, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (25/2).

Menurutnya, peran stakeholder turut menentukan keberhasilan program sub sektor perikanan budidaya. Hal tersebut, sebagaimana senantiasa Menteri Kelautan dan Perikanan, yang menginstruksikan untuk terus berkonsolidasi dengan seluruh stakeholder terkait, dalam rangka memajukan sub sektor perikanan budidaya.

INFHEM menjadi organisasi profesi yang produktif dengan beragam latar belakang keahlian dan bidang yang digeluti serta beranggotakan peneliti, akademisi, mahasiswa, penyuluh perikanan, pembudidaya ikan, pengusaha sarana produksi serta pengambil kebijakan. Ini menjadikan INFHEM sebagai mitra dan kontributor dalam pengambilan keputusan pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan.

“Beberapa peran nyata INFHEM yang kita rasakan manfaatnya antara lain penyelenggaraan pelatihan vaksinator dan penyelenggaraan outlook penyakit ikan serta rekomendasi-rekomendasi teknis pengendalian penyakit ikan,” tutur Slamet.

Selain itu, INFHEM juga giat dalam melakukan advokasi dan edukasi terutama untuk pemberian pemahaman dan penjelasan tentang pengelolaan kesehatan ikan pada masyarakat khususnya pencegahan penyakit melalui media online atau cetak dan juga melalui forum seperti seminar dan diskusi.

Secara terpisah, Ketua INFHEM periode 2017 hingga 2020, Maskur mengatakan, INFHEM telah menjadi mitra Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP sebagai lembaga ahli dalam menangani penyakit dan pengelolaan kesehatan ikan di Indonesia.

“Dalam hal menangani panyakit ikan, anggota INFHEM berperan sebagai taskforce (gugus depan) dalam menangani penyakit baru atau emerging diseases, seperti TiLV (Tilapia Lake Virus) pada ikan nila dan AHPND (Acute Hepatopancreatic Necroses Disease) pada udang,” jelas Maskur.

Selain itu, INFHEM juga terlibat dalam kerja sama dengan FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nation) bersama Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP untuk beberapa proyek, diantaranya surveilan panyakit udang EHP (Enteroctozoon Hepatopenaei), antimicrobial resistance pada bidang akuakultur serta Progressive Management Pathway for Aquaculture Biosecurity (PMP/AB).

“INFEHM juga menginisiasi program vaksinasi mandiri benih lele bekerjasama dengan Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI). Program ini bertujuan untuk mengedukasi para pembenih lele dan pembudidaya tentang vaksinasi secara mandiri sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi usaha mereka,” tambah Maskur.

Lihat juga...