Lontong,  Sajian Khas Saat Perayaan Cap Go Meh

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Ragam kuliner kekayaan tradisi etnis Tionghoa yang ada di Indonesia, salah satunya adalah lontong. Kendati tak jauh berbeda dengan lontong pada umumnya, lontong dalam tradisi etnis Tionghoa menjadi sajian khas pada perayaan Cap Go Meh.

Ling Fan Yun, warga asal Bangka Belitung yang puluhan tahun menetap di Bandar Lampung, menyebut lontong Cap Go Meh menjadi sajian istimewa. Menurutnya, lontong Cap Go Meh hampir sama dengan hidangan tradisional sejumlah etnis di Indonesia. Hanya saja, pada etnis Tionghoa lontong Cap Go Meh secara khusus disajikan saat tradisi dua pekan setelah Imlek.

Ia menyebut, sesuai tradisi etnis Tionghoa, 15 hari setelah tahun baru Imlek dirayakan Cap Go Meh. Hidangan khas disajikan untuk makan bersama keluarga dan tamu yang berkunjung.

Siraman kuah santan dengan bumbu kunyit jadi sajian pelengkap lontong Cap Go Meh disiapkan oleh Ling Fan Yun, pedagang makanan di pasar Gudang Lelang, Teluk Betung, Bandar Lampung, Sabtu (27/2/2021). -Foto: Henk Widi

Sesuai tradisi lontong Cap Go Meh, menjadi percampuran budaya kuliner. Perpaduan tersebut diakuinya berasal dari budaya Jawa dan Tionghoa. Resep yang menyebar turun temurun, membuat sajian itu mudah dibuat.

Seperti pada umumnya, lontong berbahan beras disiram dengan kuah santan, yang dilengkapi opor ayam, sayur lodeh, telur dan bubuk kedelai, bumbu abing.

“Lontong jadi salah satu kuliner memasyarakat yang merupakan sajian tradisional, namun lontong Cap Go Meh yang khusus disajikan dua pekan setelah Imlek memiliki makna atau simbol yang erat kaitannya dengan perayaan dua pekan setelah Imlek dalam tradisi Tionghoa,” terang Ling Fang Yun, saat ditemui Cendana News, Sabtu (272/2021).

Pedagang makanan di pasar Gudang Lelang,Teluk Betung, Bandar Lampung itu menyebut, lontong erat kaitannya dengan makanan Yuanxiao. Pada tradisi Tionghoa, makanan padat terbuat dari tepung beras dibuat bola-bola padat dikenal dengan Yuanxiao. Makanan itu menjadi lambang keberuntungan dan dalam tradisi etnis Tionghoa keturunan diwujudkan dalam lontong.

Secara umum, ia menyebut lontong berbentuk padat sebagai simbol panjang umur. Setelah masuk tahun baru Imlek 2572 Kongzili, harapan mendapat umur panjang didoakan.  Simbol keberuntungan juga terlihat dari tambahan lauk telur berbentuk bulat. Telur bisa disajikan secara utuh dengan proses perebusan biasa. Kombinasi juga dilakukan dengan membuat telur ayam bacem.

“Lontong Cap Go Meh yang disiram dengan kuah kuning kunyit tersaji bersama opor ayam juga menjadi simbol keberuntungan,” bebernya.

Ia menjelaskan, proses pembuatan lontong Cap Go Meh tak jauh beda dengan lontong pada umumnya. Lontong dibuat memakai beras yang dibungkus memakai daun pisang. Bahan pelengkap yang tak bisa ditinggalkan berupa opor ayam. Ia memilih mempergunakan ayam kampung dengan bumbu jahe, daun salam, serai. Berbagai jenis bumbu tersebut diblender dengan bawang merah, bawang putih, kemiri dan bumbu lain.

Opor ayam dengan santan kelapa akan disiramkan pada lontong yang dipotong. Tambahan kelapa sangrai yang ditumbuk, bubuk kacang kedelai, menjadi penambah kelezatan. Sajian lontong Cap Go Meh makin lengkap dengan adanya telur rebus, kerupuk dan sayur lodeh. Ia menggunakan sayur dari labu siam, pepaya dan kentang.

Marsiah, pedagang lontong di pasar Kangkung, Teluk Betung, menyebut, normalnya ia menjual lontong biasa. Namun saat Cap Go Meh, sajian lontong khas akan disediakan hingga sepekan. Kerinduan sebagian warga keturunan Tionghoa membuat ia menyediakan menu tersebut. Sebagian pelanggan kerap membeli lontong Cap Go Meh lengkap dengan sayur dan lauk opor ayam.

“Sebagian warga memilih hanya membeli lauk opor ayam untuk melengkapi lontong yang sudah dibuat di rumah,” bebernya.

Satu porsi lontong Cap Go Meh, dijualnya seharga Rp15.000 per porsi. Kandungan gizi opor ayam kaya akan protein, lemak dan karbohidrat. Meski sudah tidak ada perayaan Cap Go Meh, ia menyebut kerap menyediakan lontong khas tersebut. Sebab di wilayah Teluk Betung, sebagian dikenal sebagai kawasan yang dihuni etnis Tionghoa.

Novi, salah satu warga asal Bangka Belitung etnis keturunan Tionghoa, mengaku menyiapkan menu lontong Cap Go Meh. Pada tahun ini, Cap Go Meh dirayakan pada Jumat 26 Februari 2021. Namun, ia mengaku menyediakan menu tersebut hingga akhir pekan. Sajian lontong beras dinikmati bersama opor ayam, telur rebus dan sayur jadi lambang keberuntungan.

Novi bilang, saat Cap Go Meh ia masih bisa berdoa di vihara Thay Hin Bio. Altivitas doa di vihara Thay Hin Bio dan vihara Senopati menjadi bagian aktivitas yang dilakukan secara sederhana. Normalnya, saat Cap Go Meh ia menyediakan lontong Cap Go Meh untuk acara makan keluarga. Namun, tahun ini kegiatan berkumpul yang dibatasi membuat ia tidak membuat lontong Cap Go Meh sendiri. Ia memilih membeli di pasar untuk dinikmati bersama keluarga.

Lihat juga...