Lebaran CDN

Masjid Al Fattah Kebanggaan Warga Bendungan Kulon Progo

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Meski sudah berusia 30 tahun lebih, Masjid Al Fattah yang terletak di Dusun Berenan, Desa Bendungan, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, tampak masih gagah berdiri.

Satu dari 999 masjid yang dibangun Presiden Kedua RI, H.M. Soeharto, melalui Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP) pada tahun 1991 silam ini, terlihat masih sangat terawat. Halaman luar masjid tampak begitu bersih dan tertata dengan pagar besi di sekelilingnya.

Pohon-pohon kelapa, juga terlihat ditanam sebagai peneduh, mengelilingi bangunan masjid berarsitektur khas masjid YAMP pada umumnya, yakni memiliki sungkup tiga sebagaimana gaya arsitektural masjid Nusantara di masa lalu.

Saat melangkahkan kaki masuk ke dalam bangunan masjid, suasana tenang dan sejuk seketika akan sangat terasa. Sehingga tak heran bila siapa pun akan selalu merasa betah untuk berlama-lama berada di dalamnya.

Suasana di dalam bangunan masjid Al Fattah, Kamis (18/2/2021). Foto: Jatmika H Kusmargana

“Setiap salat Jumat, masjid ini selalu penuh. Bahkah tak sedikit jemaah yang terkadang harus salat di halaman luar masjid dengan cara menggelar tikar, karena sudah tidak muat,” ujar salah seorang marbot atau penjaga masjid Al Fattah, Daroji, Kamis (18/2/2021).

Selain warga sekitar, dikatakan Daroji, tak sedikit jemaah masjid Al Fattah berasal dari para pegawai atau karyawan kantor kecamatan, kelurahan, maupun para pedagang pasar yang berlokasi di sekitar masjid. Entah kenapa mereka lebih memilih beribadah di masjid ini dibandingkan masjid lainnya.

“Kita juga tidak tahu kenapa banyak warga di sekitar sini yang lebih memilih salat di masjid ini dibandingkan masjid lainnya. Padahal lokasi masjid lain lebih dekat,” ungkap Daroji.

Ketua Takmir, H. Syaifuddin mengatakan, masjid Al Fattah dibangun sejak tahun 1989 dan secara resmi mulai dibuka oleh Menteri Agama Munawir Sjadzali pada tahun 1991 silam. Masjid Al Fattah ini menjadi satu dari total 25 masjid YAMP yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Kebetulan saat itu di sini ada tokoh bernama Muhammad Ismail. Beliau merupakan mantan Gubernur Jawa Tengah sekaligus mantan Pangdam Diponegoro di era Orde Baru. Menurut cerita, beliau dekat dengan Pak Harto. Sehingga ditawari untuk dibangunkan masjid melalui Yayasan YAMP,” ujarnya.

Lewat perantara sosok Mayjen Purn Muhammad Ismail itulah, warga masyarakat Desa Bendungan akhirnya dibuatkan sebuah masjid oleh YAMP dengan model atau tipe 17. Tanahnya merupakan wakaf dari tokoh desa setempat yakni Mbah Abdul Fattah yang tak lain merupakan kakek dari Mayjen Ismail.

“Awalnya warga hanya meminta dibuatkan masjid berukuran kecil saja. Namun Pak Harto justru mendorong ukuran yang lebih besar agar bisa menampung jemaah lebih banyak. Setelah semua warga dan tokoh berkumpul, akhirnya disepakati dibangun masjid yang berukuran seperti saat ini. Yakni ukuran 17×17 atau tengah-tengah,” katanya.

Keberadaan masjid Al Fattah di Desa Bendungan, dikatakan Syaifuddin, mampu memberikan manfaat luar biasa bagi warga sekitar. Selain menjadi tempat peribadatan yang representatif, adanya masjid Al Fattah dikatakan juga mampu mendorong warga menjadi lebih baik, khususnya dalam hal ketaatan beribadah.

Ketua Takmir Masjid Al Fattah, H. Syaifuddin, saat dijumpai Cendana News, Kamis (18/2/2021) – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Sebelum ada masjid itu, tak sedikit warga yang enggan pergi salat karena beralasan masjid di desa tetangga jauh. Namun setelah masjid dibangun, warga yang sebelumnya enggan salat ke masjid akhirnya perlahan mau datang ke masjid, dan bersama-sama memakmurkan masjid,” ujar Syaifuddin yang juga mengasuh pondok pesantren tradisional ini.

Sempat mengalami kerusakan ringan akibat gempa bumi tahun 2006 silam, bangunan masjid Al Fattah  mayoritas masih utuh seperti awal saat dibangun. Hanya ada beberapa renovasi kecil yang dilakukan pihak pengelola, sebagai bagian mengakomodir kepentingan maupun kebutuhan jemaah.

“Sampai saat ini, dengan sesama pengelola atau takmir masjid YAMP lainnya yang ada di Yogyakarta, kita juga masih berhubungan sangat baik. Bahkan kita kerap menggelar pertemuan rutin setiap 2-3 bulan sekali, untuk sekadar bersilaturahmi atau pun berkegiatan. Meskipun akibat pandemi Covid-19 ini, kegiatan terpaksa dihentikan sementara,” katanya.

Lihat juga...