Memahami Aspek Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Maraknya banjir dan longsor di sejumlah titik wilayah Indonesia, dinyatakan tidak sepenuhnya bisa disalahkan pada luasan hutan. Karena ada beberapa aspek lain yang menjadi penyebab.

Peneliti Center of International Forestry Research (CIFOR) Herry Purnomo menjelaskan aspek penyebab banjir dan longsor saat dihubungi, Rabu (3/1/2021) – Foto Ranny Supusepa

Peneliti Center of International Forestry Research (CIFOR) Herry Purnomo menyatakan, perlu adanya pengamatan lebih mendalam terkait penyebab banjir atau longsor di suatu daerah.

“Misalnya, dalam kaitan landscape. Kita harus melihat saat terjadi longsor atau banjir di tahun ini pada suatu wilayah lalu bandingkan dengan kondisi wilayahnya di tahun kemarin. Kalau tidak ada perubahan, maka ditinjau aspek lainnya, yaitu curah hujannya,” kata Herry saat dihubungi, Rabu (3/2/2021).

Atau jika tahun kemarin tidak banjir atau longsor dan tahun ini banjir luar biasa, maka dilihat perbandingan curah hujan atau kondisi landscape-nya.

“Jadi kita harus melihat karakteristik banjir dan longsornya. Apakah karena penyebab lokal, dalam artian landscape atau pengaruh luarnya, yaitu curah hujan,” paparnya.

Dalam kasus hutan, juga harus dilihat faktor jenis tanaman, kondisi struktur tanahnya. Tidak bisa hanya dikira-kira.

“Contohnya, di Kalimantan Selatan. Itu kan memang sudah rusak. Tapi tidak ada perubahan pada landscape-nya. Sekarang banjir. Artinya, kita lihat faktor cuacanya. Dalam hal ini curah hujannya, apakah melebihi kapasitas daya tampung daerah tersebut,” paparnya lebih lanjut.

Jika terkait dengan curah hujan, Herry menegaskan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam mencegah pemanasan global yang dinyatakan memicu cuaca ekstrim.

“Indonesia ini deforestasinya itu 0,4 juta per tahun. Ini sudah menurun dari lima tahun yang lalu. Kalau ditanya apakah ini sudah bagus? Belum. Karena harusnya deforestasi itu zero,” ucapnya.

Memang, diakuinya deforestasi tinggi ini merupakan bagian dari pembangunan. Tapi jika suatu negara sudah melewati masa pembangunan biasanya akan kembali atau mengarah ke perbaikan.

“Indonesia luasan hutannya 180 juta hektar. Saat ini hanya 100 jutaan hektar. Harapannya, tutupan hutan ini bisa kembali lagi. Sumatera sudah mulai stabil. Tapi Kalimantan dan Papua masih terus menurun,” ujarnya.

Harapannya, sesuai janji pemerintah, deforestasi ini akan berakhir di tahun 2030.

“Karena bagaimanapun, Indonesia harus turut ambil bagian dalam menjaga Bumi ini. Sebagai negara berkembang, maka kita mengharapkan kerja sama global dalam menerapkan pencegahan pemanasan global ini. Karena untuk mencegah pemanasan global ini tidak bisa hanya dari satu negara. Harus semua negara,” kata Herry.

Pergerakan positif yang dilakukan pemerintah, memang sudah suatu keharusan dalam mencegah bencana.

“Kita berusaha mengatasi semua kendala. Apakah melalui kebijakan maupun penegakan hukum atau kerja sama global. Untuk menuju kondisi yang lebih baik. Lokal menuju zero deforestation dan di global Indonesia harus lebih aktif lagi,” pungkasnya.

Lihat juga...