Menelisik Kesiapan Vihara di Bandar Lampung Gelar Imlek

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sejumlah vihara tempat ibadah umat Buddha di Bandar Lampung melakukan persiapan jelang tahun baru Imlek. Iyok, salah satu pengurus Vihara Bodhisattva di Jalan Ikan Kembung No 10, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung menyebut perayaan Imlek atau tahun baru China 2572 digelar sederhana.

Saat masa pandemi Covid-19 ibadah bagi jemaat akan dibatasi sesuai anjuran pemerintah. Pembatasan ibadah untuk mengurangi kerumunan sebut Iyok tidak mengurangi persiapan Imlek. Pengurus membersihkan area vihara, pemasangan lampion, lilin, pembersihan tempat membakar hio atau hiolo, altar.

Sejumlah pengurus juga mempersiapkan tempat cuci tangan, sabun dan cairan penyanitasi tangan. Sejumlah rupang atau patung 12 shio yang dibersihkan juga telah diberi hiasan pita merah.

Banner imbauan terpasang agar umat yang datang menerapkan protokol kesehatan. Sesuai dengan arahan dari Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) ibadah di vihara dibatasi. Iyok menyebut persembahyangan yang rutin dilakukan sejak malam Imlek hingga Cap Go Meh diimbau dilakukan pada rumah masing masing. Meski berbeda langkah itu dilakukan mencegah penyebaran Covid-19.

“Bagi jemaat yang sudah lanjut usia bisa mengikuti persembahyangan pergantian tahun baru Imlek melalui layanan live streaming sehingga tidak harus datang ke vihara, tradisi pemberian angpau juga diberi alternatif untuk pengiriman secara digital kepada kerabat, sanak saudara menghindari kontak langsung,” terang Iyok saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (10/2/2021).

Salah satu pengurus Vihara Bodhisattva, Iyok, menyiapkan sejumlah peralatan sembahyang, Rabu (10/2/2021). -Foto Henk Widi

Ibadah bersama yang dibatasi sebut Iyok tidak mengurangi makna perayaan Imlek. Memasuki tahun baru dengan shio kerbau logam ia menyebut menjadi harapan baru,ujian menghadapi musibah pandemi Covid-19. Sejumlah bencana alam yang melanda di tanah air sebutnya diharapkan berakhir. Setahun berlalu ia menyebut sebelumnya saat Shio tikus pada Imlek 2571 jemaat juga tidak merayakan secara meriah.

Dampak pandemi Covid-19 sebut Iyok terlihat dari jumlah kunjungan jemaat. Pada kondisi normal ada sebanyak ratusan lilin merah dipasang. Lilin yang melambangkan persembahan dan harapan jemaat dikirim oleh sejumlah keluarga. Namun imbas pandemi lilin yang dipasang dengan ukuran 1 meter hingga 2 meter jumlah lilin hanya puluhan.

“Saat perayaan malam Imlek dan hari Imlek jumlah jemaat yang datang dibatasi, ada petugas penjaga di gerbang minimalisir kerumunan,” bebernya.

Kinpeng, pengurus Vihara Bodhisattva menyebut sebanyak 12 shio simbol astrologi telah dibersihkan. Sesuai urutannya rupang shio tersebut meliputi tikus, kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing dan babi. Shio dengan warna kuning emas tersebut diletakkan tepat di dekat gerbang vihara. Hiasan pita merah dilingkarkan setelah semua rupang shio dibersihkan.

Di bagian dalam Kinpeng juga telah membersihkan tempat pembakaran dupa atau hiolo. Sejumlah rupang Buddha dan para dewa dibersihkan dan diberi hiasan bunga dan buah. Tempat persembahan untuk para dewa dalam kepercayaan umat Buddha telah diberi nampan baru. Ia menyebut tugas membersihkan vihara lebih ringan pada tahun ini imbas umat yang datang terbatas.

“Sebelum pandemi Covid-19 hio dan lilin yang dinyalakan harus selalu dibersihkan cepat karena jumlahnya banyak,” cetusnya.

Mei Chang Ling,salah satu jemaat asal Teluk Betung bilang ia mengunjungi tiga vihara di wilayah itu. Vihara yang dikunjungi meliputi Vihara Thay Hin Bio, Vihara Bodhisattva dan Vihara Chang Cin Miao. Berbeda dengan dua tahun sebelumnya ia hanya menyediakan dua pasang lilin. Lilin warna merah disiapkan sebagai simbol harapan pada tahun yang baru.

“Hari ini membeli lilin ukuran satu meter untuk dinyakakan saat Imlek, kami nanti datang bergantian agar tidak berkerumun,” bebernya.

Penjaga Vihara Senopati atau Chang Cin Miao,Ali Sutomo di Jalan Yos Sudarso, Panjang menyebut tidak ada persiapan khusus. Imlek yang dirayakan tahun kedua dalam masa pandemi membuat jemaat tidak datang ke vihara. Sebagian jemaat datang bertahap untuk berdoa lalu pulang. Protokol kesehatan telah disiapkan untuk jemaat yang memilih datang ke vihara pada 12 Februari mendatang.

Lihat juga...