Meng-upgrade Ruh

OLEH: HASANUDDIN

ALLAH tidak memberi pengetahuan perihal ruh ini kepada banyak orang. Dari miliaran manusia di muka Bumi, sangat sedikit yang diberi pengetahuan perihal ruh ini.

Oleh sebab itu dapat dipahami jika pembahasan tentang ruh hanya kita temukan dalam kitab-kitab tertentu yang diwariskan sebagai kekayaan intelektual umat Islam, hasil dari sembah bakti para waliullah kepada Allah swt, setelah mereka memperoleh pembinaan dan bimbingan dari Rasulullah saw dalam memahami ayat-ayat-Nya.

Beberapa kitab yang membahas perihal ruh misalnya  Sir Al-Asrar, Futuh Al-Gaib, Al-Gauziyah, ketiganya dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Alam Ruh dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Fushush Al-Hikam, Futuhat Al-Makkiyah dari Syeik Muhyiddin Ibnu Arabi. Subdatul Asrar dari Syeikh Yusuf Al-Makassary. Kanzul Ma’rifah dari Syeikh Arsyad Al-Bajari, dan beberapa kitab yang tidak kami sebutkan pada kesempatan kali ini.

Kitab yang kami sebutkan di atas, semuanya berkesimpulan bahwa ruh itu diciptakan. Sebab itu ruh adalah makhluk ciptaan Allah swt. Tidak terkecuali ruh Nabi Isa alaihissalam.

Pada catatan kali ini, kami sampaikan salah satu aspek yang dibahas dalam Kitab Sir al-Asrar dari Syeikh Abdul Qadir al-Jailani rahimakumullah, Sultanul Auliyah. Sebatas pada mungkinnya kapasitas ruh yang dianugerahkan Allah swt itu ditingkatkan kapasitasnya.

Syeikh Abdul Qadir al-Jailani mengatakan bahwa ruh memiliki empat tingkatan. Pertama dan ini yang berada pada level paling rendah, beliau beri nama ruh insani.

Ruh insani ini diberikan kepada setiap manusia. Jika seseorang mengabdikan diri kepada Allah swt secara taat, tekun dalam mengikuti petunjuk-Nya yang disampaikan Rasulullah saw, berserah diri hanya kepada-Nya dalam seluruh amal ibadah-Nya, maka menurut Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, ruh seseorang akan Allah tingkatkan kapasitasnya untuk tidak sekadar mampu memahami hal-hal yang bersifat empirik dan imajiner saja. Tapi mulai dapat mengenali hal-hal yang oleh orang awam, masih dalam kategori gaib, seperti ketertarikan kepada hal-hal yang bersifat maknawi daripada ke hal-hal yang bersifat bendawi, sehingga terjadi pergeseran dominasi cara pandang dari hal-hal yang bersifat eksoterik kepada hal-hal yang bersifat esoterik atau metafisik.

Pergeseran kecenderungan ini terus akan berlangsung seiring dengan kesabaran, ketekunan, kesungguhan dalam penyerahan diri kepada Allah SWT. Hal ini bukan berarti bahwa ruh tidak lagi mengenali hal-hal yang bendawi, namun menyaksikan dalam pandangan yang berbeda daripada disaat ruh masih pada level martabat sebagai ruh insani. Ruh pada level kedua ini disebut ruh rahwani.

Keimanan kepada yang gaib kian meningkat, seiring dengan terbukanya sejumlah hijab, setelah melalui berbagai tantangan, cobaan, dan rintangan, sehingga ruh memperoleh tambahan peningkatan kapasitas, yang kedua kalinya. Atau naik ke level martabat yang oleh Syeiky Abdul Qadir disebut sebagai ruh sulthoni.

Ruh jenis ini sudah mencapai tahap mukasyafah, sehingga mampu menembus batas-batas dimensi alam. Pada level ini kecintaan terhadap hal yang bersifat duniawi sudah tidak ada. Sebaliknya, hal-hal yang bersifat duniawi-lah yang akan mengejar seseorang yang telah mencapai level martabat ruh sulthoni ini. Inilah maqom para waliullah, para qutub.

Dan level tertinggi adalah ruh yang hanya dianugerahkan kepada para nabi dan rasul-Nya, yang disebut dengan ruh sirwani. Sehingga puncak perjalanan dari seorang salik yang berangkat dari ruh insani, hanya sampai ke level martabat ruh sulthoni.

Demikianlah sebagian dari apa yang kami pahami dari penjelasan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Sir al-Asrar. Pembahasan seputar ruh ini, masalah yang “seluas samudera”.

Upgrade kapasitas ruh ini, salah satu makna dari firman-Nya; laa insyakartum laadzidannakum.

Rabbi zidni ilma, warzukni fahman. ***

Lihat juga...