Mengenal Lebih Jauh Kanker Kolorektal

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kanker kolorektal memang belum banyak dikenal masyarakat. Tapi insiden kanker kolorektal di Indonesia berdasarkan data Globocan 2012 adalah sebesar 12,8 per 100.000 penduduk usia dewasa, dengan mortalitas 9,5 persen dari seluruh kasus kanker. Jadi, sudah saatnya masyarakat mulai mengenali dan melakukan deteksi dini dalam mencegah kanker kolorektal.

Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Hematologi Onkologi Medis, dr. Nadia Ayu Mulansari SpPD, KHOM, menyatakan, kanker kolorektal adalah pertumbuhan abnormal pada kolon atau rektum (usus).

Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Hematologi Onkologi Medis dr. Nadia Ayu Mulansari SpPD, KHOM, saat menjelaskan tentang kanker kolorektal dalam acara terkait edukasi publik Yayasan Kanker Indonesia, Selasa (23/2/2021) – Foto: Ranny Supusepa

“Kolon merupakan bagian terpanjang pada usus besar dan rektum adalah lorong yang menghubungkan antara kolon dengan anus. Sebagian besar kanker kolorektal berawal dari suatu polip (suatu pertumbuhan yang jinak atau tidak bersifat kanker pada lapisan kolon atau rektum-red) yang kemudian berkembang menjadi pertumbuhan yang abnormal atau bersifat kanker,” kata Nadia dalam acara terkait edukasi publik Yayasan Kanker Indonesia secara online, diikuti Cendana News, Selasa (23/2/2021).

Untuk mendeteksi dini, ia menyatakan dapat dilakukan skrining terhadap polip atau pemeriksaan feses darah samar, sehingga kanker dapat disembuhkan.

“Kalau berpatokan pada gejala, biasanya itu sudah masuk dalam tahap kanker. Gejalanya, bisa berupa diare, buang air besar yang terasa tidak tuntas, adanya darah pada tinja, mual, muntah, perut sering terasa nyeri, kram atau kembung, tubuh mudah lelah hingga berat badan yang turun tanpa sebab yang jelas,” paparnya.

Meskipun penyebabnya belum diketahui, Nadia menyebutkan, ada beberapa faktor yang dapat memicu kanker kolorektal.

“Yang pertama itu usia. Risiko kanker kolorektal akan meningkat seiring bertambahnya usia. Kalau di luar negeri, biasanya di umur 60 tahun. Tapi di Indonesia ditemukan pada umur yang lebih muda. Sehingga deteksi dininya juga harus dilakukan di umur yang lebih muda lagi,” urainya.

Seseorang dengan riwayat penyakit kanker atau polip kolorektal lebih berisiko terserang kanker kolorektal.

“Begitu juga seseorang dari keluarga yang pernah mengalami penyakit kanker atau polip kolorektal. Atau adanya riwayat penyakit yang diturunkan dari keluarga, seperti sindrom Lynch, berisiko tinggi mengalami kanker kolorektal,” urainya lebih lanjut.

Kanker kolorektal juga berisiko tinggi menyerang penderita kolitis ulseratif atau penyakit Crohn.

“Orang yang kurang olahraga, kurang asupan serat dan buah-buahan, konsumsi minuman beralkohol, obesitas atau berat badan berlebih, dan merokok meningkatkan risiko kanker kolorektal. Termasuk yang mendapatkan paparan radiasi pada area perut,” pungkasnya.

Lihat juga...