Musim Pancaroba, Petani di Jember Gagal Panen Durian

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JEMBER – Petani durian di Jember kali ini mengalami musim gagal panen besar-besaran. Gagal panen disebabkan karena faktor iklim hujan yang terus menerus disertai dengan angin yang kencang.

Hampir tidak ada persediaan buah durian yang dapat dijadikan stok perdagangan oleh petani. Untuk mencukupi kebutuhan penjualan buah durian pekan ini, para pedagang rela membeli persediaan durian ke Bali untuk dijual lagi.

“Kali ini petani durian mengalami gagal panen besar-besaran. Bisa jadi untuk festival durian yang biasanya setiap tahun diadakan di Jember, tahun ini tidak ada acara festival buah durian lagi,” ujar Hakiki, penjual durian, kepada Cendana News, di wilayah Jalan Jember-Bondowoso, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, Selasa (16/2/2021).

Keterbatasan ketersediaan buah durian di Jember memerlukan solusi agar petani maupun pedagang tetap dapat menjalankan usaha.

“Setiap tahun festival buah durian di Jember selalu diadakan rutin. Namun sejak masa pandemi Covid-19, sejak tahun 2020 tidak diadakan. Tahun 2021 ini juga dimungkinkan tidak dilaksanakan kembali karena faktor gagal panen. Untuk ketersediaannya sendiri masih belum ada,” imbuhnya.

Ia menambahkan, baru tahun ini petani durian mengalami gagal panen besar-besaran khususnya di wilayah Jember.

Tahun 2020, petani masih bisa merasakan hasil panen buah durian, tapi karena faktor pandemi, target omzet yang ada tetap tidak begitu menguntungkan. Bahkan  di musim panen pekan ini, yang terjadi petani tidak untung sama sekali.

Keterbatasan ketersediaan barang dagangan buah durian, berdampak pada harga jual di pasaran. Penjualan buah durian mengalami kenaikan harga dibandingkan sebelumnya. Saat petani durian di Jember bisa sampai panen raya, harga jual durian tentu lebih murah.

“Harga yang dibeli dari luar kota tolok ukurnya per biji. Kadang juga ada yang dihitung per kilo. Untuk harga beli bervariasi, bisa tergantung karena ukuran dan juga karena jenis buahnya,” imbuhnya.

Penjualan buah durian juga menjadi bumerang tersendiri bagi pelaku usaha. Modal yang dikeluarkan pekan ini menjadi bertambah.

Pedagang buah durian Andi, menyatakan, modal usaha durian baru kali ini membutuhkan biaya yang cukup mahal.

Seperti biaya antar barang, biaya tes bebas Covid-19, baru setelah itu pengiriman barang dapat dilaksanakan.

“Penumpukan biaya modal sebenarnya menjadi beban bagi pedagang. Masyarakat saat ini juga lebih mementingkan kebutuhan yang paling utama daripada sekedar menyalurkan kesukaan terhadap buah durian. Sehingga menyebabkan daya beli masyarakat semakin menurun,” pungkasnya.

Lihat juga...