OJK Ungkap Sejumlah Tantangan Bank Syariah Indonesia

Editor: Koko Triarko

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, pada acara Index Debut Bank Syariah Indonesia secara virtual yang diikuti Cendana News di Jakarta, Kamis (4/2/2021). -Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, mengatakan ada sejumlah tantangan yang akan dihadapi Bank Syariah Indonesia (BSI), dalam upaya meningkatkan keuangan syariah di Indonesia. 

Pertama, terkait pemahaman masyarakat Indonesia terhadap produk dan layanan keuangan syariah yang masih rendah. “Maka, Bank Syariah Indonesia (BSI) harus melakukan berbagai upaya untuk menjangkau masyarakat di daerah,” ujar Wimboh, pada acara Index Debut Bank Syariah Indonesia secara virtual, yang diikuti Cendana News di Jakarta, Kamis (4/2/2021).

Saat ini, menurutnya tingkat inklusi keuangan syariah sebesar 9,10 persen, sedangkan konvensional 76,19 persen. Dan, tingkat literasi keuangan syariah sebesar 8,93 persen, sedangkan konvensional 38,03 persen.

Tantangan ke dua, sebut dia, masih terbatasnya sumber daya manusia (SDM) dan kapasitas industri keuangan syariah. Dia berharap, agar SDM syariah memiliki kualitas dengan kapasitas yang tinggi. Sehingga, BSI mampu meningkatkan daya saing keuangan syariah, terutama dalam mengakselerasi digitalisasi produk dan layanan di masa pandemi Covid-19.

Selanjutnya  ke tiga, adalah tantangan mengenai competitiveness produk dan layanan keuangan syariah yang belum setara dibandingkan konvensional.

“Model bisnis dan variasi produk syariah yang relatif masih terbatas,” tukas Wimboh.

Tantangan terakhir, yakni keuangan syariah belum sepenuhnya terintegrasi dalam ekosistem industri halal. Hal ini mempengaruhi peningkatan market share keuangan syariah yang terbatas, karena per Desember 2020 masih berada di angka 9,9 persen.

Namun demikian, Wimboh mengatakan ada  sejumlah manfaat dengan mergernya tiga  bank syariah nasional milik BUMN ini. Di antaranya, mampu meningkatkan kapasitas permodalan dan sumber daya bank syariah, menciptakan bank syariah yang masuk dalam 10 besar dunia berdasarkan kapitalisasi pasar dalam lima tahun ke depan, dan penguatan kelembagaan bank syariah.

Wimboh berharap, ke depan akan hadir bank syariah umum kelompok usaha (BUKU), sehingga memiliki kapasitas dan jaringan perbankan syariah yang memadai.

Lebih lanjut dia menjelaskan, bahwa per Desember 2020, kredit perbankan nasional minus 2,41 persen sepanjang 2020. Namun, pembiayaan bank umum syariah masih bertumbuh 9,5 persen yoy (year on year) dengan ketahanan yang memadai.

Aset keuangan syariah juga tetap tumbuh tinggi pada era pandemi Covid-19. Sedangkan total aset keuangan syariah tidak termasuk saham mencapai Rp 1.802,86 triliun atau 127,82 miliar dolar AS, dengan market share keuangan syariah 9,9 persen.

“Bank Syariah Indonesia memiliki total aset mencapai Rp240 triliun, modal inti lebih dari Rp22,60 triliun, total Dana Pihak Ke tiga (DPK) sebesar Rp210 triliun, dan total pembiayaan Rp 157 triliun,” urainya.

Selain itu, tambah dia, laba terkonsolidasi BSI per Desember 2020 mencapai Rp 2,19 triliun. Dari sisi jaringan, BSI oleh lebih dari 1.241 kantor cabang, 2.447 jaringan ATM, dan 20 ribu karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Lihat juga...