Pak Biakto Ingin Koperasi Jadi Pilar Utama Ekonomi Nasional

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Awal 2021, tepatnya, Sabtu (1/1/2021), Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Mantan Menteri Koperasi dan UKM era Orde Baru, Subiakto Tjakrawerdaja, wafat di usia 76 tahun. 

Lahir di Cilacap, Jawa Tengah, 30 Juli 1944, Subiakto merupakan Menteri Koperasi Indonesia pada 1993 hingga 1998, pada Kabinet Pembangunan VI dan VII di masa pemerintahan Presiden ke-2 RI, HM Soeharto.

Setelah tak menjabat sebagai menteri, Subiakto tetap aktif di bidang perekonomian dan perkoperasian dengan menjadi pengurus Yayasan Damandiri, yang yang didirikan oleh HM Soeharto sebagai pribadi.

Pada Agustus 2016, ia yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris, dan didaulat sebagai ketua yayasan hingga akhir hayatnya. Semasa hidup, Pak Biakto, sapaan akrabnya, dikenal sangat konsen untuk memajukan perekonomian Indonesia lewat koperasi.

Sekretaris Yayasan Damandiri, Firdaus, menyebut Pak Biakto merupakan sosok yang memegang teguh ideologi Pancasila secara murni dan konsekuen, sebagaimana diamanatkan Presiden Soeharto.

Menurut Pak Biakto, Ekonomi Pancasila hanya bisa dijalankan melalui koperasi, yang menjadi pilar utama atau soko guru perekonomian nasional.

“Sebagaimana kita tahu, pembangunan ekonomi Indonesia selama ini dijalankan oleh tiga pilar. Yakni, perusahaan BUMN, perusahaan swasta dan koperasi. Namun, sayangnya koperasi kurang mendapat sentuhan dari pemerintah. Padahal, koperasi sebenarnya yang paling cocok” ujar Firdaus, dalam wawancara online bersama Cendana News, Rabu (3/2/2021).

Karena itu, kata Firdaus, Pak Biakto berupaya menjadikan koperasi sebagai pilar utama dalam membangun perekonomian lewat program Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML), yang dijalankan Yayasan Damandiri sejak 2017.

Lewat program DCML ini, Pak Biakto mencoba menerapkan prinsip-prinsip dasar koperasi, yakni ekonomi gotong-royong untuk menyejahterakan masyarakat desa. Pak Biakto berkeyakinan, bahwa koperasi akan mampu mewujudkan masyarakat yang adil makmur dan sejahtera.

“Pak Biakto ingin membangun perekonomian desa yang makmur berkeadilan, dan sejahtera. Tidak ada ketimpangan antara yang miskin dan yang tidak miskin. Yaitu, dengan sistem gotong-royong yang merupakan prinsip dasar koperasi,” ungkapnya.

Selama tiga tahun berjalan, program Desa Cerdas Mandiri Lestari yang dijalankan Yayasan Damandiri, tercatat telah berhasil membentuk 14 desa dengan 14 koperasi, tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Tercatat sudah ada lebih dari 14.000 warga miskin yang terbantu dengan menjadi anggota koperasi binaan Yayasan Damandiri.

Lihat juga...