Pandemi Berdampak Turunnya Minat Baca Buku

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Minat baca anak usia sekolah dan masyarakat saat pandemi Covid-19, mengalami penurunan. Kondisi tersebut diakui Ardi Yanto, pegiat literasi Motor Perahu Pustaka. Faktor sistem belajar secara online atau dalam jaringan memicu anak-anak memilih mengandalkan aplikasi google. Meski demikian, semangat mengedukasi anak membaca buku fisik, tetap dilakukannya.

Ardi Yanto mengatakan, edukasi bagi anak-anak usia sekolah dilakukan dengan cara menarik. Pemanfaatan waktu luang dilakukan olehnya dengan membawa buku ke sejumlah lokasi yang kerap dikunjungi anak-anak. Di lokasi kawasan pesisir pantai Desa Kelawi, Bakauheni, Lampung Selatan, anak lebih sering bermain di alam. Lokasi pantai dan bukit kerap menjadi lokasi favorit.

Ardi Yanto (kanan), pegiat literasi motor perahu pustaka, memanfaatkan waktu membawa buku di lokasi bukit pematang sunrise Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Kamis (4/2/2021). -Foto: Henk Widi

Membawa buku bacaan dengan motor, dilakukan Ardi Yanto untuk menarik minat baca anak. Sejumlah buku bacaan didominasi bacaan ringan bergambar disediakan olehnya. Khusus untuk buku bacaan lain, ia menyiapkannya di rumah sekaligus perpustakaan umum yang dikelolanya. Mengajak anak membaca buku di lokasi terbuka, menjadi alternatif mengedukasi anak-anak.

“Edukasi bagi anak-anak saat pandemi kerap terabaikan oleh orang tua, karena hanya mengandalkan gawai untuk belajar sejumlah bidang studi dari guru sekolah, imbasnya aktivitas membaca buku fisik bagi berkurang, bahkan tidak ada sama sekali, peran pegiat literasi tentunya sangat penting,” terang Ardi Yanto, Kamis (4/2/2021).

Penerima fasilitas kendaraan motor perpustakaan keliling dari Perpustakaan Nasional itu, menyebut buku dibawa memakai rombong. Rombong atau wadah berbentuk tas, memungkinkannya membawa buku dalam jumlah banyak. Sebagian anak usia sekolah di kawasan pesisir pantai kerap ikut orang tua memancing, menangkap ikan. Ia memilih membawa buku ke pantai bagi anak-anak.

Lokasi bukit Pematang Sunrise yang kerap didatangi oleh Ardi Yanto menjadi lokasi anak berkumpul. Sebagian anak yang ikut orang tua untuk menggarap kebun, berjualan di objek wisata alam, menjadi kesempatan untuk membawa buku. Sejumlah tempat duduk untuk kegiatan membaca buku, tepat di bawah pohon, menjadi cara meningkatkan minat baca.

“Alternatif mengajak anak mencintai buku dengan membawa buku bacaan ringan,anak-anak akan lebih mudah memahami isi buku tersebut,” terang Ardi Yanto.

Sejumlah buku yang dibawa, menurut Ardi Yanto berisi edukasi tentang protokol kesehatan saat pandemi Covid-19. Sebelum membaca buku, anak-anak wajib mendapat semprotan penyanitasi tangan (hand sanitizer) dan memakai masker. Ia juga mengedukasi anak-anak untuk menerapkan pola kebiasaan baru dengan menghindari kontak fisik dengan orang lain.

Alternatif membaca buku di luar ruangan yang terbuka juga dilakukan oleh Nia Helwiyanti. Gadis usia 22 tahun yang memiliki kepedulian pada anak-anak, itu membuat taman baca Dandelion. Berbekal ratusan buku, ia memberi kesempatan bagi anak-anak di Dusun Kelawi Dalam, Desa Kelawi, tempatnya tinggal untuk mencintai buku. Berbagai jenis buku bacaan bisa dibaca oleh anak-anak.

“Saya sediakan kursi yang nyaman di bawah pohon cery, agar anak-anak lebih nyaman dan masih bisa terpantau orang tua,” bebernya.

Saat pandemi Covid-19, Nia Helwiyanti menyebut anak anak usia SD lebih banyak berada di rumah. Dukungan penyiapan buku bacaan bagi anak menjadi perangsang anak belajar membaca.

“Selama anak usia sekolah belum melakukan kegiatan belajar tatap muka, aktivitas bermain gawai lebih dominan. Mengajak anak membaca buku di alam terbuka, jadi alternatif mengedukasi anak mencintai buku,” pungkasnya.

Lihat juga...