Pandemi, Unnes Semarang Perkenalkan Pembelajaran Inkuiri Laboratorium

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Pandemi Covid-19  mengharuskan pembelajaran disampaikan secara jarak jauh (PJJ) atau online. Namun di satu sisi, mayoritas peserta didik merasa tidak puas dalam penerimaan materi pembelajaran yang disampaikan melalui PJJ.

“Salah satu alasan paling utama adalah ketidaksiapan peserta didik, dalam menggunakan berbagai metode PJJ. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, diperlukan kemudahan komunikasi antara pendidik dan peserta, sehingga dibutuhkan inovasi pembelajaran pada pandemi Covid-19,” papar Prof. Sri Wardani, dalam pengukuhan dirinya sebagai guru besar Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Semarang (Unnes), yang digelar secara daring di kampus tersebut, di Semarang, Kamis (25/2/2021).

Selain itu, kondisi pandemi tersebut juga berdampak besar terhadap kegiatan belajar yang harus dilakukan melalui aktivitas laboratorium (praktikum).

“Salah satu kegiatan praktikum yang berdampak akibat pandemi covid-19 yaitu perkuliahan praktikum kimia. Sebagai cabang ilmu sains, pengembangan dan penerapan ilmu memerlukan hasil kerja eksperimen,” terangnya.

Untuk itu, dirinya mengembangkan pembelajaran dengan model aktivitas inkuiri laboratorium, yang dapat dioptimalkan pada pandemi dengan bantuan flipped classroom.

Flipped classroom, merupakan model belajar yang pada awal sebelum masuk kelas, peserta didik diminta mempelajari cara analisis suatu materi melalui video, kemudian menyusun rancangan kerjanya,” terangnya.

Sedangkan kegiatan belajar mengajar melalui google meet atau in class, berupa presentasi rancangan percobaan dan menganalisis data percobaan dari dosen, berdiskusi tentang materi atau masalah yang belum dipahami saat belajar mandiri.

“Inovasi ini menjadi sangat penting berkaitan dengan kondisi dunia saat ini dalam menghadapi pandemi covid-19 termasuk negara Indonesia,” tegasnya.

Sementara, dalam kesempatan tersebut, Rektor Unnes, Prof. Dr. Fathur Rokhman, M. Hum, memaparkan capaian guru besar atau profesor, merupakan jabatan akademik tertinggi sebagai pendidik.

Rektor Unnes, Prof. Dr. Fathur Rokhman, M. Hum, saat mengukuhkan guru besar baru di lingkungan perguruan tinggi tersebut, yang digelar secara daring di kampus Unnes, di Semarang, Kamis (25/2/2021). Foto: Arixc Ardana

“Untuk mencapai jabatan akademik profesor bukan hanya harus produktif meneliti dan melakukan publikasi, tetapi juga harus melampaui berbagai kendala teknis, psikologis, dan sosial yang mungkin ada. Prestasi ini tentu diraih dengan kerja keras, kerja cerdas, dan ketekunan luar biasa,” terangnya.

Fathur juga mengingatkan bahwa sebagai guru besar, ada kewajiban yang harus dipenuhi. Di antaranya, terus menyebarkan keilmuan yang dimiliki, hingga melakukan publikasi jurnal internasional bereputasi.

“Di satu sisi, dengan hadirnya tiga profesor baru berarti lahirnya energi akademik baru bagi Unnes, untuk terus meningkatkan kapasitas institusi. Harapannya, dengan peningkatan SDM ini, visi menjadi universitas berwawasan konservasi dan bereputasi internasional dapat semakin tercapai,” pungkasnya.

Lihat juga...