Pasca-PPKM, Kasus Kematian Covid-19 di Banyumas Menurun

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Pasca-penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang berlanjut dengan kebijakan Jateng di Rumah dua hari serta PPKM mikro yang sekarang masih berlangsung, angka kematian pasien Covid-19 di Kabupaten Banyumas berangsur mulai menurun.

Jika pada bulan Januari lalu, jumlah kematian pasien Covid-19 per hari bisa mencapai di atas 10 orang lebih, di bulan Februari ini hanya pada kisaran 2 orang per hari. Sehingga sampai dengan pertengahan bulan ini, jumlah kasus kematian pasien Covid-19 hanya 27 orang.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyumas, Sadiyanto mengatakan, penurunan kasus meninggal dunia cukup signifikan. Ia memaparkan, pada bulan Januari lalu, total jumlah pasien positif Covid-19 yang meninggal mencapai 135 orang. Dan bulan ini menurun, baru pada angka 27 orang.

“Kasus meninggal dunia paling banyak sebenarnya pada bulan Desember 2020 kemarin, mencapai 138 orang. Bulan Januari 2021 menurun menjadi 135 dan bulan Februari ini kembali menurun, kemungkinan tidak sampai menyentuh 100 orang,” jelasnya, Jumat (12/2/2021).

Selain itu, lanjut Sadiyanto, penambahan kasus positif Covid-19 juga cenderung menurun. Dari data Dinkes Banyumas, saat ini kasus terkonfirmasi positif ada 1.125 orang. Dari jumlah tersebut yang termasuk kategori berat dan harus menjalani perawatan di rumah sakit ada 375 orang. Sedangkan sisanya ada 57 orang yang melakukan isolasi khusus dan 693 orang yang isolasi mandiri.

Sementara itu, Bupati Banyumas, Achmad Husein menyatakan, saat ini Kabupaten Banyumas sudah lepas dari zona merah. Sehingga beberapa aturan mulai dilonggarkan. Misalnya, jam buka cafe dan restoran kembali normal, yaitu sampai dengan pukul 21.00 WIB dan untuk acara hajatan juga mulai diperbolehkan.

“Banyak masyarakat yang menanyakan dan protes mengapa hajatan belum juga diperbolehkan, maka dengan berbagai pertimbangan, mulai saar ini hajatan di Banyumas sudah diperbolehkan, namun dengan persyaratan ketat,” terangnya.

Adapun persyaratan hajatan yang ditetapkan antara lain, harus digelar pada ruang terbuka seperti lapangan ataupun tanah pekarangan. Pada area tersebut diperbolehkan untuk mendirikan tenda atau tarub, namun maksimal hanya berukuran 600 meter persegi. Dan jarak antar kursi ditentukan minimal 1,7 meter.

Dan untuk hidangan, tidak diperbolehkan menggelar prasmanan. Sebagai gantinya, para tamu undangan bisa diberikan nasi box yang bisa dibawa pulang ke rumah. Di lokasi juga tidak diperbolehkan ada meja-meja, untuk menghindari adanya hidangan makanan maupun minuman. Sedangkan untuk hiburan, Bupati melarang keras adanya segala macam bentuk hiburan, karena hal tersebut akan mengundang kerumunan massa.

Lihat juga...