Pasien Covid-19 dengan Penyakit Gigi Memiliki Risiko Kematian Tinggi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Sejak pertama kali mewabah di tanah air, angka kematian pasien Covid-19 relatif jauh lebih rendah dibanding angka kesembuhannya. Meski demikian, virus yang telah menjadi pandemi itu tetap merupakan ancaman serius bagi keselamatan masyarakat, khususnya bagi mereka yang telah menderita penyakit penyerta.

Di antara sekian penyakit penyerta yang memiliki tingkat risiko kematian tinggi bagi pasien Covid-19 adalah penyakit gigi. Menurut Dokter Spesialis Gigi dan Mulut, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), drg. Rona Laras Narinda, penelitian atas hal tersebut telah diteliti oleh para ahli yang dilakukan di Qatar.

“Oleh karena itu penting buat kita untuk tetap bisa menjaga kebersihan mulut dan gigi, serta tetap kontrol rutin 6 bulan sekali ke dokter gigi,” ujar dokter Rona dalam webinar bertajuk Menjaga Kesehatan Gigi dan Kulit di Masa Pandemi, diikuti Cendana News, Jumat (12/2/2021).

Selain itu, kata Dokter Rona, berdasarkan hasil riset yang lain, yang dilakukan di Spanyol juga disebutkan, bahwa virus Covid-19 bisa terdapat di rongga mulut dan pada saku gusi, yaitu celah antara gusi dan gigi.

“Karena itulah pada pasien covid-19 dianjurkan untuk berkumur larutan pofidon iodin dua kali sehari. Hal tersebut bertujuan untuk menurunkan virus Covid-19 yang ada di rongga mulut,” tandas Dokter Rona.

Adapun untuk menjaga kondisi gigi dan mulut tetap sehat, menurut Dokter Rona treatment-nya tidak berbeda, yaitu dengan menyikat gigi dua hari sekali.

“Tapi yang harus diperhatikan adalah waktunya, yaitu pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur. Karena banyak orang menyikat gigi pada pagi hari setelah mandi, padahal kondisinya mereka belum sarapan saat itu, sehingga menyebabkan penyikatan gigi kurang efektif,” jelasnya.

Kemudian yang perlu diperhatikan lagi, yakni sikat gigi harus dilakukan ke seluruh permukaan gigi, termasuk gigi yang paling belakang. Oleh karena itu, kita harus memastikan sikat gigi kita bisa menjangkau ke gigi paling belakang.

“Dan jangan lupa menyikat lidah setelah gigi. Jadi bukan hanya gigi yang disikat, tapi juga lidah harus disikat,” papar Dokter Rona.

Pada forum yang sama, Dokter Spesialis Kulit RSUI, dr. Irma Bernedetta juga menyampaikan bahwa, di masa pandemi ini, tingkat keterpaparan masyarakat terhadap acne mask (bakteri atau jerawat oleh masker) yang dapat merusak kulit wajah semakin tinggi.

“Jadi sebetulnya tidak setiap orang terpapar kuman karena masker. Jadi individu yang kulitnya itu mengalami acne atau sedang mengalami acne saja yang mungkin terpapar. Nah saat ini, angkanya semakin tinggi karena penggunaan masker sudah menjadi life style di masyarakat,” kata Dokter Irma.

Sejauh ini, Dokter Irma mengaku, banyak pasien yang datang mengeluh karena timbul jerawat di wajah, khususnya di area yang tertutupi masker.

“Untuk itu perlu sekali, khususnya bagi mereka yang memang punya acne untuk merawat kulitnya dengan rutin membersihkan wajah, dan kalau perlu rutin mengonsultasikan kesehatan kulitnya,” pungkas Dokter Irma.

Lihat juga...