Pasien Kanker Aktif Memiliki Risiko Tinggi pada COVID-19

JAKARTA — Masih tingginya angka paparan COVID 19 di Indonesia, patut diwaspadai oleh para pengidap kanker. Karena bukan hanya memiliki risiko yang lebih tinggi pada potensi komplikasi, juga memiliki hambatan dalam melakukan pengobatan.

Internist Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Nadia Ayu Mulansari, SpPD, K-HOM menjelaskan risiko tinggi pasien kanker dalam masa pandemi, dalam acara online peringatan hari kanker sedunia, Jumat (5/2/2021) – Foto Ranny Supusepa

Internist Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Nadia Ayu Mulansari, SpPD, K-HOM menyebutkan pasien kanker aktif merupakan populasi khusus yang memiliki risiko tinggi tersendiri.

“Karena pasien kanker aktif ini memiliki tingkat imunitas yang lebih rendah dibandingkan orang biasa. Kondisi pandemi, menyebabkan mereka terhalang untuk melakukan pengobatan,” kata Nadia dalam acara online yang diikuti Cendana News, Jumat (5/2/2021).

Penyakit kanker dan pengobatannya, seperti kemoterapi dan terapi radiasi atau radioterapi, dapat menyebabkan sumsum tulang penderita kanker berhenti memproduksi sel darah putih yang berperan sebagai pelindung tubuh terhadap infeksi dan penyakit tertentu.

“Itulah sebabnya, penderita kanker akan mengalami penurunan daya tahan tubuh, sehingga tubuhnya tidak mampu melawan infeksi, termasuk infeksi virus Corona,” ucapnya.

Bagi yang melakukan terapi, juga harus dilihat masa recovery imunitas tubuhnya.

“Untuk yang melakukan kemoterapi, butuh waktu untuk recovery sel. Apalagi yang menjalani terapi target, paling tidak imun sistem baru recovery setelah 6 bulan dari tuntasnya terapi,” ucapnya.

Untuk para pasien kanker yang biasa berobat ke luar negeri, tegasnya, harus mencari alternatif pengobatan di Indonesia sementara waktu.

“Karena penyakit kanker ini bukan penyakit yang bisa ditunda pengobatannya. Seiring waktu, penambahan sudah sangat signifikan. Sebaiknya, mencari alternatif pengobatan di dalam negeri. Minimal berkonsultasi dahulu dengan dokternya untuk mengetahui, langkah yang harus dilakukan sesuai dengan tingkat penyakit kanker miliknya,” ucapnya lagi.

Ia menjelaskan para pasien kanker yang memang harus datang di fasilitas kesehatan harus selalu menerapkan protokol kesehatan. Sehingga tidak terpapar.

“Tentunya, mengurangi pendamping yang menemani saat terapi. Cukup satu orang saja. Sehingga tidak memperbesar risiko penularan,” urainya.

Bagi penyintas kanker, Nadia menyebutkan risikonya lebih rendah dibandingkan pasien kanker.

“Bisa beraktivitas seperti biasa layaknya masyarakat umum. Tapi tetap harus waspada dengan menjalankan prokes secara konsisten,” pungkasnya.

Lihat juga...