Pedagang Barang Antik Tetap Eksis di Tengah Pandemi

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Pedagang barang antik tetap menjadi rekomendasi bagi para penghobi benda benda unik. Rohim, salah satu pedagang di Jalan Raden Intan, Tanjung Karang, Bandar Lampung menyebut barang lama, kuno, antik dengan berbagai kondisi masih banyak diminati. Meski pandemi pedagang tetap eksis dengan berbagai produk.

Rohim bilang berbagai benda antik yang disediakan pedagang cukup bervariasi. Ia menyebut dominan barang yang dijual berupa arloji, kap lampu, tas, cincin, tongkat hingga koin dan uang kertas. Berbagai jenis benda unik seperti keris, bambu petuk, batu akik disediakan olehnya. Meski penjualan menurun, ia menyebut tetap ada warga yang mencari dan menjual barang antik.

Rohim juga menyebut menyediakan jasa pembersihan barang antik. Pemilik keris, pedang, cincin kuno berbahan logam kerap dibersihkan olehnya. Memakai alat khusus ia membersihkan barang koleksi pelanggan agar mengkilap seperti baru. Jasa pembersihan dengan alat khusus dipatok mulai Rp40.000 hingga Rp100.000 sesuai tingkat kesulitan. Beberapa jenis barang antik dijual mulai puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

“Pangsa pasar barang antik saat ini menyasar para penghobi, kolektor serta warga yang ingin mencari hiasan berkonsep retro atau tempo dulu untuk hiasan cafe, restoran dan kedai kopi sehingga menambah estetika,” terang Rohim saat ditemui Cendana News, Selasa (24/2/2021).

Penjual uang kuno dan sejumlah barang antik, Rohim, menerima pesanan sejumlah uang lama untuk koleksi dan kebutuhan mahar perkawinan di Jalan Raden Intan, Tanjung Karang, Bandar Lampung, Selasa (23/2/2021). -Foto Henk Widi

Rohim mengaku tidak sendiri, sebab banyak pedagang barang antik lain di sekitar Jalan Raden Intan. Selain barang antik dari logam, ia juga menyediakan jendela, pintu bekas rumah kuno. Daun pintu, jendela dari rumah kuno kerap berbahan kayu jati dan besi. Bagi penyuka arsitektur kuno barang tersebut bisa dipakai untuk objek foto. Meski menjual barang unik ia mengaku ia bisa mendapat hasil menjanjikan.

Permintaan barang antik yang kerap dicari sebut Rohim berupa uang lama. Uang yang dijual kerap akan dipakai sebagai hiasan mahar perkawinan. Uang koin yang dijual sebagian berasal dari era penjajahan Belanda hingga zaman orde baru. Beberapa uang kertas berbagai pecahan juga disediakan olehnya. Harga jual kerap berlipat lipat dari nominal yang ada.

“Uang Rp100 kerap bisa dijual seharga Rp100.000 bahkan bisa lebih, terlebih kolektor yang ingin memiliki untuk pelengkap koleksi,” bebernya.

Eksistensi pedagang barang antik sebut Rohim juga dipengaruhi kebutuhan. Selama pandemi, sejumlah acara pernikahan yang tertunda ikut menurunkan omzet. Sebab uang lama kerap jadi penghias mahar. Namun ia memastikan pelanggan tetap datang kepadanya untuk mencari sejumlah kebutuhan. Munculnya cafe bertema lama juga mendorong permintaan benda kuno kembali meningkat.

Rohim menyebut usaha barang antik sebutnya tidak hanya soal estetika. Sebab sebagian barang yang dijual merupakan benda fungsional. Benda seperti kursi, meja antik, kap lampu sebagian besar masih berfungsi. Frame kaca bergaya kolonial yang dijual bahkan tetap diminati untuk hiasan sekaligus untuk meja rias. Kursi antik masih bisa dipakai untuk teras rumah. Omzet berjualan barang antik sebutnya berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah perpekan.

“Sebagian benda antik merupakan rekondisi namun fungsinya masih tetap bisa dimanfaatkan,” terang Rohim.

Pedagang lain bernama Warsito menyebut selain benda antik, barang rekondisi banyak diburu. Sejumlah barang elektronik dengan merk tertentu yang dikenal awet diperbaiki, dimodifikas. Barang berupa setrika, kipas angin, blender, alat penggiling kopi, pembubut kayu dan barang lain disediakan olehnya. Semua barang tersebut memiliki fungsi yang baik meski terlihat kuno.

Jenis setrika sebutnya, kerap dibeli oleh warga yang memiliki budget terbatas. Sebab dalam kondisi baru setrika dan alat elektronik lainya bisa dibeli mulai harga ratusan ribu. Namun ia menjualnya lebih murah. Selain menjual ia juga menyediakan jasa reparasi dan membeli barang elektronik rusak untuk diperbaiki. Pekerjaan yang tidak banyak dilakukan orang kebanyakan itu sebut Warsito jadi peluang.

“Ekonomi sedang sulit, pekerjaan lain susah malah banyak yang di PHK jadi menjual barang bekas tetap bisa menghasilkan,” cetus Warsito.

Sehari Warsito menyebut bisa menjual berbagai barang rekondisi maksimal 5 buah. Meski lebih sedikit dibanding sebelum pandemi, omzet ratusan ribu masih bisa diperolehnya. Ia juga mengaku bisa membantu ibu rumah tangga dan warga yang memiliki barang rusak agar bisa dipakai kembali. Bagi yang memiliki uang terbatas sejumlah barang elektronik masih bisa digunakan dengan baik membantu pekerjaan.

Lihat juga...