Pedagang di Semarang Masih Gunakan Kantong Plastik karena Murah

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Volume sampah yang dihasilkan Kota Semarang mencapai 1.300 ton per hari. Sedangkan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, terbatas, sehingga diperlukan upaya pengurangan sampah nonorganik, khususnya limbah plastik.

Upaya pengurangan penggunaan plastik tersebut, tertuang dalam Peraturan Wali Kota (Perwal) Semarang Nomor 27 Tahun 2019, tentang pengendalian sampah plastik. Aturan tersebut, melarang penggunaan plastik dalam aktivitas perdagangan.

Dalam Perwal disebutkan, bentuk plastik yang akan dilakukan pengendalian, yaitu kantong plastik, sedotan, pipet plastik, dan styrofoam. Sementara pelaku usaha yang dimaksud adalah hotel, toko modern, restoran, dan penjual makanan. Namun hingga kini, penggunaan plastik, terutama kantong plastik masih terus dilakukan, khususnya di pasar tradisional, hingga para pedagang makanan.

Pedagang sayur, Hartati, mengaku masih menggunakan kantong plastik kresek sebagai tempat belanjaan pembeli, saat ditemui di Pasar Peterongan Semarang, Rabu (10/2/2021). –Foto: Arixc Ardana

“Saat ini masih memakai kantong plastik buat barang belanjaan yang dibeli masyarakat. Soalnya juga tidak ada solusi lain, jadi tetap memakai kantong plastik. Ada juga pembeli yang sudah bawa kantong belanjaan sendiri, tapi tidak banyak,” papar pedagang sayur, Hartati, saat ditemui di Pasar Peterongan Semarang, Rabu (10/2/2021).

Dirinya mengaku, sosialisasi terkait aturan pengurangan kantong plastik sudah pernah didengarnya. Namun karena kepepet, tidak ada pilihan lain, dirinya tetap menggunakan kantong plastik.

“Jadi kantong plastik bening, untuk membungkus sayur yang dibeli, seperti cabai, tomat dan lainnya. Kemudian kantong plastik sayur tersebut dimasukkan lagi dalam plastik kresek, buat kantong belanja. Ya memang jadi banyak plastik yang digunakan,” lanjutnya.

Apa yang dialaminya juga terjadi pada pedagang lainnya. Siti, pedagang daging ayam di Pasar Peterongan, Semarang, mengatakan tidak ada alternatif pembungkus lainnya yang ramah lingkungan, namun kuat, praktis dan murah.

“Kalau pakai besek bambu, harganya lebih mahal dibanding plastik. Selain itu juga tidak praktis, meski lebih ramah lingkungan,” terangnya.

Kendala-kendala tersebut membuat para pedagang kembali menggunakan kantong plastik, meski mereka tahu jika kantong kresek tersebut nantinya kerap menjadi sampah. Dibuang setelah tidak dipakai lagi.

“Ada juga pembeli yang bawa kantong belanjaan sendiri, dari kain, sehingga bisa dipakai berulang-ulang, tapi belum banyak. Akhirnya mereka tetap minta diberi kantong plastik kresek,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Sapto Adi Sugihartono, memaparkan Wali Kota Semarang telah mengeluarkan Peraturan Wali Kota (Perwal) tentang pengendalian penggunaan plastik.

Dalam perwal tersebut, para pemilik usaha, retail, dan pemilik warung diminta untuk membatasi sampah plastik. Penggunaan sedotan, tas kresek, dan botol sekali pakai harus dikurangi.

“Namun memang dalam penerapannya masih menemui banyak kendala, terutama soal kesadaran warga,” katanya.

Sejauh ini, perwal tersebut sudah ditaati oleh para pelaku usaha, khususnya toko modern, hotel atau restoran, namun untuk di tingkat pasar tradisional, warung-warung kecil, belum menerapkan aturan tersebut,” lanjutnya.

Di lain sisi, pihaknya juga terus mendorong hadirnya bank sampah di setiap lingkungan masyarakat. “Kami mendorong pengurangan sampah plastik dengan hadirnya bank sampah, sebagai bentuk peran aktif masyarakat dalam menghadapi persoalan sampah, khususnya limbah plastik,” jelasnya.

Dipaparkan, saat ini volume sampah masyarakat Kota Semarang yang masuk ke TPA Jatibarang antara 1.200 – 1.300 ton setiap hari. Kebanyakan berasal dari sampah rumah tangga, dengan 25 persen di antaranya merupakan limbah plastik.

“Sampah plastik ini memang sulit untuk diurai oleh alam, sehingga perlu diatasi, salah satunya dengan pengurangan penggunaan kantong plastik, hingga mendorong pembentukan bank sampah,” lanjut Sapto.

Tidak hanya itu, dirinya juga berharap kepedulian terhadap sampah plastik juga dibantu dengan sikap masyarakat agar mau menggunakan barang daur ulang, karena sampai saat ini, meski banyak kreasi kerajinan tangan dari sampah plastik yang dibuat warga, namun mereka juga masih kesulitan dalam hal pemasaran produk.

Lihat juga...