Pedagang Pinggir Jalan Terdampak Pembatasan Jam Operasional

Editor; Makmun Hidayat

LAMPUNG — Ketidakpastian waktu pemberlakuan pembatasan jam operasional usaha membuat sejumlah pemilik usaha ubah strategi. Dewi, pedagang kuliner nasi goreng, kwetiau, mi dan capcai memilih mengurangi volume menu untuk dijual.

Beroperasi di Jalan Ikan Gurami, Teluk Betung, ia menyebut tidak seleluasa sebelumnya. Pada masa pandemi Covid-19 semester kedua 2020 ia masih bisa beroperasi hingga jam 01.30 dini hari. Namun awal tahun 2021 muncul Surat Edaran Nomor: 440/133/IV.06/2021 tentang Pembatasan Jam Operasional Kegiatan Usaha. Imbasnya ia dan pelaku usaha lain yang masuk kategori pedagang pinggir jalan dibatasi hingga jam 22.00 WIB. Penyesuaian waktu berimbas pada banyak perubahan.

Penyesuaian menindaklanjuti Perda Provinsi Lampung Nomor 3 Tahun 2020 tentang Adaptasi Kebiasaan Baru telah dilakukan. Beberapa hal di antaranya penyediaan tempat cuci tangan, menjaga jarak tempat duduk. Ia juga menyediakan hand sanitizer bagi pengunjung yang makan di tempat (dine in). Namun jam operasional yang dikurangi membuat pelanggan lebih memilih pesan bungkus (take away).

“Kami banyak melayani pembelian dengan berbasis aplikasi pesan antar agar pelanggan tidak perlu makan di tempat menghindari kerumunan mematuhi adaptasi kebiasaan baru pencegahan Covid-19,” terang Dewi saat ditemui Cendana News, Selasa (9/2/2021).

Tetap menjalankan usaha sebagai pedagang pinggir jalan Dewi bilang operasional tetap melaksanakan protokol kesehatan. Kesepakatan dengan pemilik usaha lain ia telah membuka lapak sejak jam 15.30 WIB. Menjelang sejumlah pemilik toko tutup, ia telah menyiapkan tenda,meja,kursi dan alat masak. Normalnya ia baru buka mulai jam 17.00 WIB namun sempitnya waktu berimbas buka lebih awal jadi pilihan.

Waktu operasional pedagang pinggir jalan sebut Dewi terbilang lebih lama. Sebab pusat perbelanjaan modern, pasar swalayan dibuka hanya sampai jam 19.00 WIB. Diberlakukan sejak 28 Januari ia menyebut aturan itu diberlakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan. Implikasi bagi usaha sebutnya cukup terasa pada omzet karena jam operasional berkurang.

“Bahan kuliner dikurangi agar habis terjual karena jam operasional semakin berkurang,” bebernya.

Dewi menambahkan, pelanggan tetap masih memesan nasi goreng dan makanan lain untuk dibawa pulang. Meski tetap memiliki konsumen yang setia makan di tempatnya, ia menyebut omzet menurun hingga ratusan ribu per malam. Pengurangan jumlah bahan kuliner yang dijual tidak lantas membuat ia menghentikan usaha.

Herman, juru parkir di tempat usaha kuliner Jalan Ikan Gurami bilang pendapatannya berkurang. Sebelum Covid-19 dalam semalam ia bisa mendapat uang jasa parkir ratusan ribu. Setelah disetor ia masih bisa mengantongi puluhan ribu. Namun semenjak jam operasional usaha dikurangi,pendapatannya anjlok.

“Pelanggan banyak yang pesan melalui aplikasi, imbasnya motor dan mobil jarang yang parkir,” cetusnya.

Pelaku usaha di Jalan Sultan Agung, Kedaton, Zainuri dan Sumino menyebut tutup lebih cepat. Zainuri yang memiliki ruko penjualan durian mengaku kerap buka selama 24 jam. Sementara Sumino yang menyediakan jasa kereta mini mengoperasikannya hingga jam 23.00 WIB. Keduanya memilih membuka usaha mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah. Jam operasional yang dibatasi sekaligus memberi banyak waktu istirahat baginya.

Lihat juga...