Pelaku Usaha Jok di Bantul Keluhkan Naiknya Harga Bahan Baku

Editor:  Koko Triarko

YOGYAKARTA – Selain mengalami penurunan omzet penjualan akibat pandemi Covid-19, sejumlah pelaku usaha jasa pembuatan dan reparasi jok di Yogyakarta, juga makin terpukul, setelah naiknya harga kebutuhan bahan baku sejak beberapa minggu terakhir. 

Tak hanya mengurangi margin keuntungan para pelaku usaha, kenaikan mayoritas bahan baku ini juga membuat mereka makin kehilangan pendapatan untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari.

Salah seorang pelaku usaha jasa pembuatan dan reparasi jok di dusun Cepit, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Dhowi (63), membenarkan adanya kenaikan harga bahan baku usahanya, seperti busa, kain plastik dan sebagainya. Kenaikan harga bahan baku tersebut terjadi sejak sebulan terakhir.

Meski tak signifikan, kenaikan senilai Rp3.000-5.000 per meter persegi itu dinilai makin memberatkan para pelaku usaha, di tengah situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

“Memang sebulan terakhir ini semua harga bahan baku naik. Berkisar antara Rp2.000 sampai Rp5.000. Jadi, misalnya harga kain jok yang semula Rp25ribu per meter, sekarang jadi Rp28 per meter, lalu yang harganya Rp55ribu per meter, naik jadi Rp60ribu per meter,” ungkapnya, Selasa (9/2/2021).

Menurut Dhowi, adanya kenaikan harga bahan baku ini tentu makin memberatkan pelaku usaha. Pasalnya, hal itu akan menambah beban biaya produksi. Sementara di lain sisi, mereka sulit untuk menaikkan harga jual mengingat daya beli masyarakat saat ini makin rendah.

“Kalau harganya dinaikkan, jelas akan makin banyak yang enggan menggunakan jasa kami. Karena saat ini saja pesanan sudah makin jarang,” ungkapnya.

Lebih lanjut Dhowi mengaku sudah merasakan penurunan omzet penjualan sejak beberapa bulan terakhir, sebagai dampak pandemi Covid-19. Minimnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta, ternyata ikut berdampak secara langsung terhadap usahanya.

“Kita paling banyak menerima reparasi dan pembuatan jok kendaraan seperti mobil, bis atau motor. Selain itu juga membuat jok kursi, baik untuk rumah tangga, hotel, dan sebagainya. Selama Covid-19 ini kan sepi wisatawan, otomatis pesanan juga sepi. Karena hotel, penginapan, rental-rental mobil bus, dan lainnya juga sepi,” ungkapnya.

Para pelaku usaha seperti Dhowi, hanya bisa berharap agar pembatasan wilayah atau PSBB di sejumlah daerah khusus di kota wisata, seperti DIY, bisa segera dibuka. Mengingat hal itu akan mampu menggerakkan ekonomi ribuan, bahkan jutaan warga yang selama ini bergantung dari sektor pariwisata.

Lihat juga...