Pelepasliaran Burung ke Kawasan Hutan Jaga Kelestarian Satwa

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Pelepasliaran satwa liar jenis burung hasil tangkapan menjadi cara menjaga kelestarian satwa. Suhairul, petugas pengawasan lalu lintas satwa liar Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung menyebut sejak awal 2021 lebih dari 5.000 ekor burung berbagai jenis diamankan.

Perlalulintasan burung liar tanpa dokumen masih berlangsung meski telah dilarang. Pengamanan satwa jenis burung dilakukan oleh petugas Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni. Selain petugas kepolisian pengamanan satwa liar berkoordinasi dengan Balai Karantina Pertanian Kelas I Lampung. Koordinasi intelejen antar stakeholder di Pelabuhan Bakauheni menjadi cara BKSDA menyelamatkan satwa asal Sumetera tujuan Jawa.

Sebanyak 1.406 satwa liar jenis burung diamankan personel gabungan pada Minggu (31/1/2021) sebutnya dilepasliarkan. Proses pelepasliaran dilakukan untuk meminimalisir kematian. Sebab proses perlalulintasan satwa tersebut menggunakan keranjang. Asupan makanan, minuman yang kurang berimbas tingkat kematian satwa dalam pengiriman meningkat.

“Pelepasliaran harus dilakukan agar kelestarian satwa asal Sumatera tetap terjaga karena hampir setiap bulan perlalulintasan satwa sebagian dilindungi dengan berbagai modus pengiriman barang bisa dicegah, sebagian berpotensi lolos hingga tujuan,” terang Suhairul saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (3/2/2021).

Suhairul, petugas pemantau lalu lintas satwa dan tumbuhan liar BKSDA Seksi 3 wilayah Lampung membuka keranjang untuk pelepasliaran satwa jenis burung ke alam bebas, Rabu (3/2/2021). -Foto Henk Widi

Kelestarian satwa yang berkurang imbas perburuan liar sebut Suhairul imbas permintaan meningkat. Sejumlah burung yang diamankan mencapai ribuan ekor terdiri dari jenis pleci, prenjak, jalak kebo, pentet, trocok dan kutilang. Semua jenis burung liar tersebut masuk kategori tidak dilindungi namun diburu tanpa izin. Sejumlah burung yang dilindungi meliputi cucak daun besar,cucak daun kecil, srindit, engkek layongan, kapas tembak.

Khusus untuk satwa jenis burung liar tidak dilindungi, Suhairul menyebut lokasi pelepasliaran dilakukan pada kawasan hutan Gunung Rajabasa. Lokasi yang kerap digunakan berada di Pangkul,Kecamatan Rajabasa. Pelepasan juga dilakukan pada area Desa Way Kalam, Kecamatan Penengahan. Sebagian satwa yang dilindungi dilepasliarkan pada area kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdulrachman Pesawaran.

“Habitat alami kawasan hutan yang masih menyediakan sumber pakan akan mampu menjaga kelestarian satwa burung dari kepunahan,” sebutnya.

Sebagian besar burung yang diselundupkan dari Sumatera berasal dari proses perburuan. Perburuan pada kawasan hutan sebutnya tidak memiliki izin pengepul dari BKSDA. Sementara saat pengiriman pelaku kerap tidak melengkapi dokumen karantina. Sesuai prosedur pengiriman satwa dan tumbuhan harus dilengkapi surat angkut tumbuhan dan satwa dalam negeri (SATDN).

Koordinasi lintas sektoral menjaga kelestarian lingkungan satwa juga dilakukan oleh lembaga non pemerintah. Nugraha Putra, kordinator wilayah Sumatera dari LSM Flight Protecting Indonesia’s Birds menyebut kelestarian satwa Sumatera akan punah jika terus dilakukan perburuan. Berbagai modus pengiriman kerap digagalkan selanjutnya dilepasliarkan pada alam bebas.

Peningkatan pengawasan serta pelepaliaran hasil tangkapan jadi salah satu efek jera. Sebab sejumlah penyelundup satwa telah mengeluarkan biaya cukup tinggi. Sejumlah pelaku penyelundupan burung kerap mengeluarkan biaya pengiriman jutaan rupiah. Kerja sama dengan sejumlah oknum meloloskan penyelundupan burung jadi penyebab burung sampai tujuan.

Hasil penjualan bisnis penangkapan,pengiriman dan penjualan burung sebutnya cukup menggiurkan. Meski demikian sejumlah pelaku kerap mengesampingkan kelestarian. Kepunahan satwa jenis burung terutama yang dilindungi bisa dicegah oleh berbagai pihak. Pelepasliaran pada kawasan hutan lindung menjadi cara agar perburuan bisa diminimalisir. Sebab sebagian hutan mendapat pengawasan dari polisi hutan.

Lihat juga...