Pemanfaatan GeNose Terkendala Jumlah Produksi

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Upaya mempercepat dan mempermudah skrining COVID 19, dilakukan pemerintah dengan memperbanyak alat GeNose C19 untuk dioperasikan di berbagai fasilitas umum. Hanya, pengadaannya masih terkendala oleh kapasitas produksi yang dimiliki oleh Universitas Gadjah Mada.

Menristek/BRIN Bambang Brodjonegoro menyebutkan bahwa GeNose ini merupakan alat skrining yang akurat, cepat dan harganya relatif murah.

“GeNose ini fungsinya untuk skrining. Bukan untuk menggantikan PCR. Dan targetnya adalah di tempat-tempat umum,” kata Bambang saat Raker Online yang diikuti oleh Cendana News, Rabu (3/1/2021).

Ia menjelaskan bahwa GeNose sudah diuji dengan 2.000 sampel dan menunjukkan keakuratan hingga 90 persen.

“Tapi untuk pengadaannya, memang masih terkendala produksi. Targetnya pada Februari ini, akan bisa diproduksi hingga 5.000 unit dan pada Maret nanti akan tersedia 10.000 unit,” ucapnya.

Ia menyebutkan sudah banyak pemerintah daerah yang menyatakan minatnya untuk membeli GeNose dalam membantu skrining COVID 19.

“Salah satunya, ibu Airin Tangsel sudah menyatakan akan membeli 100 unit untuk diletakkan di seluruh puskesmas di wilayahnya. Dan saya juga sudah menginformasikan kepada Kemkes terkait jumlah produksi ini,” ujarnya.

Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Panut Mulyono, yang turut hadir, mengakui bahwa saat ini produksi GeNose baru 1.000 unit per minggu.

“Artinya, antara 3-4 ribu per bulan. Yang memproduksi adalah UGM Sains Techno Park bekerja sama dengan empat perusahaan swasta yang memproduksi komponen untuk pembuatan GeNose,” kata Panut.

Karena itu, ia menyatakan sangat mengharapkan dukungan dari kementerian agar bisa meningkatkan jumlah produksi, dalam rangka memenuhi kebutuhan percepatan penanganan COVID 19.

“Bukan hanya dukungan dana tapi juga dalam hal persyaratan. Sehingga kami bisa lebih banyak memproduksi GeNose ini,” pungkasnya.

Lihat juga...