Pemanfaatan Iptek Nuklir Dinilai Bisa Tekan Kasus ‘Stunting’

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Pengembangan pemanfaatan iptek nuklir dinyatakan mampu membantu upaya pemerintah dalam memerangi stunting. Yaitu dengan cara, memantau setiap unsur dari bahan pangan yang ada di masyarakat dan hasilnya dimasukkan dalam tabel komposisi makanan Indonesia.

Peneliti Senior Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN) Prof Muhayatun memaparkan bahwa berdasarkan data tahun 2016, mayoritas masalah berkaitan nutrisi terjadi di Asia dan Afrika.

Data menunjukkan 56 persen balita di Asia dan 38 persen balita di Afrika mengalami stunting, 49 persen balita di Asia dan 24 persen balita di Afrika mengalami overweight dan 69 persen balita di Asia dan 27 persen balita Afrika mengalami wasted.

“Fakta global dan juga angka stunting Indonesia, mendorong BATAN untuk berkolaborasi dengan institusi terkait dalam menggunakan teknik analitikal nuklir dalam memantau bahan pangan dan mengidentifikasi secara kualitatif dan kuantitatif unsur yang ada di sampel pangan dan kandungannya,” kata Muhayatun dalam seminar online stunting HIMNI, Jumat malam (19/2/2021).

Ia menjelaskan penggunaan teknik analitikal nuklir ini adalah karena sifatnya yang simultan, multi unsur, tidak merusak, selektif dan sensitif, jumlah sampel yang dibutuhkan sedikit dan efektif secara waktu.

“Selain memantau unsur yang dibutuhkan tubuh, karena sifatnya multi unsur, maka dalam waktu yang sama juga dapat dipantau kandungan logam berat yang mungkin saja terkandung dalam bahan pangan yang dijadikan sampel tersebut,” ucapnya.

Muhayatun menyebutkan salah satu penelitian yang dilakukan adalah melakukan micronutrient assessment bahan pangan di 90 kota di Pulau Jawa.

“Mekanismenya, kita mengambil bahan pangan dari tas belanjaan di pasar tradisional. Misalnya, beras, jagung, bayam, pepaya, hati ayam, tempe hingga kerupuk,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa jumlah sampel yang didapatkan sangat banyak. Karena masing-masing daerah memiliki jenis pangan berbeda. Contohnya beras yang didapatkan memiliki jenis yang berbeda antara satu pasar dengan pasar yang lainnya.

“Seperti berbagai beras, yang sudah kita dapatkan dari 90 kota tersebut, kita analisa mana yang paling banyak mengandung mikro nutrien. Atau kalau tempe, kita juga dapat melihat perbandingan kandungan selenium yang terkandung dari berbagai tempe tersebut,” urainya.

Penelitian lainnya, kata Muhayatun, adalah asupan makanan pada siswa salah satu SD di Bandung. Untuk memantau apa saja yang dimakan oleh anak-anak sekolah dan bagaimana kandungannya.

“Dan penelitian yang terbaru adalah screening stunting di NTT dan Tangerang untuk memantau perbandingan unsur mikro pada asupan anak stunting dan tidak stunting,” ungkapnya.

Mekanisme sampel, lanjutnya, adalah meliputi makan pagi, siang, malam, minuman, jajanan yang diambil dua kali secara tidak berurutan agar bisa didapatkan usual intake.

Dari NTT, didapatkan 400 sampel porsi makanan dan 211 sampel ASI. Dari Tangerang didapatkan 200 sampel porsi dan 62 sampel ASI.

“Karena penelitian semuanya belum selesai, masih dalam proses, kami belum bisa memublikasikan hasilnya. Tapi berdasarkan data pengolahan sementara, memang terlihat perbedaan signifikan zat mikro pada asupan anak stunting dengan yang tidak stunting,” pungkasnya

Lihat juga...