Pemberontak Ajukan Syarat untuk Negosiasi Dengan Ethiopia

Sejumlah pria bersenjata menjaga karung-karung makanan di kamp Fashaga, perbatasan Sudan-Ethiopia, daerah Kassala, Sudan, Selasa (24/11/2020), untuk dibagikan kepada para pengungsi Ethiopia yang lari menyelamatkan diri dari perang di wilayah Tigrayy – foto Ant

NAIROBI – Pasukan pemberontak di Tigray, Ethiopia, pada Jumat (19/2/2021), mengajukan delapan syarat, untuk memulai perundingan perdamaian dengan pemerintah.

Beberapa syarat itu di antaranya, menunjuk penengah dari pihak asing, dan membuka akses untuk bantuan kemanusiaan. Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, meluncurkan serangan udara dan darat, demi memberantas keberadaan pasukan pemberontak bersenjata Barisan Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF).

Hal itu dilakukan, setelah kelompok pemberontak TPLF menyerang markas militer di Tigray pada 4 November 2020 lalu. TPLF sebelumnya adalah salah satu partai politik yang paling berpengaruh di Tigray, dan pernah berkuasa di Ethiopia.

Abiy, mengumumkan kemenangan atas operasi militer di Tigray, kurang dari satu bulan setelah TPLF mundur dari ibu kota Tigray, Mekelle. Tentara TPLF, juga mundur dari kota-kota besar, tetapi pertempuran di beberapa daerah masih berlanjut.

Sebagian besar anggota TPLF masih bergerilya, tetapi pemerintah federal Ethiopia telah menangkap atau menewaskan beberapa anggota. Juru bicara TPLF, Liya Kassa, mengumumkan syarat memulai negosiasi damai dengan pemerintah lewat laman Facebook Dimtsi Weyane TV, stasiun televisi yang dikelola oleh TPLF.

Juru bicara Abiy dan kepala satuan tugas untuk operasi militer di Tigray, belum menjawab pertanyaan terkait syarat perundingan perdamaian itu. Pemerintah pada November tahun lalu mengatakan, pihaknya tidak akan bernegosiasi dengan TPLF, sampai aturan hukum di Tigray dapat ditegakkan. Setelah mengumumkan kemenangan, pemerintah mengatakan akan fokus menangkapi para anggota senior TPLF.

Syarat lain yang diajukan TPLF termasuk meminta Eritrea menarik tentaranya dari Tigray. Keberadaan militer Eritrea di Tigray menjadi salah satu isu yang membuat konflik kian panas. Eritrea dan Ethiopia membantah ada tentara Eritrea, yang beroperasi di wilayah Ethiopia.

Namun, puluhan saksi mata mengatakan, mereka telah melihat keberadaan tentara Eritrea. TPLF juga meminta pemerintahan sementara yang ditunjuk Pemerintah Ethiopia segera diberhentikan. Abiy juga menunjuk pemerintahan baru saat pemberontakan berlangsung.

Barisan pemberontak mengatakan, para pejabat yang terpilih lewat pemilihan daerah pada September 2020 harus diperbolehkan kembali menjabat. PM Abiy menyebut, pemilihan umum di Tigray ilegal.

Sejak pertempuran berlangsung di Tigray, daerah berpenduduk lebih dari lima juta jiwa, ribuan orang diyakini tewas terbunuh dan 950.000 warga terpaksa mengungsi. Verifikasi terhadap informasi yang beredar soal Tigray masih sulit dilakukan, karena pemerintah mengontrol ketat akses komunikasi di daerah tersebut. (Ant)

Lihat juga...