Pemerintah Harus Cek Terbentuknya Antibodi Penerima Vaksin COVID-19

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito jalani vaksinasi kedua di lingkungan istana kepresidenan pada Rabu (27/1) (Muchlis Jr-Biro Pers Sekretariat Presiden)

SURABAYA – Pemerintah, diminta mengecek terbentuknya antibodi pada masyarakat yang telah menerima suntikan vaksin COVID-19, untuk memastikan efektifitas vaksin tersebut.

Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation atau (PNF), Prof dr Chairul Anwar Nidom mengatakan, target pemerintah sejauh ini hanya menyuntik. Bukan memantau apakah antibodi sudah terbentuk, setelah pelaksanaan vaksinasi. “Para tenaga kesehatan yang suntik kedua kali, harus tahu antibodinya berapa, jadi semisal sebulan lagi antibodinya turun harus minta vaksinasi lagi. Karena jumlah antibodi setiap individu berbeda,” ujarnya, Rabu (3/2/2021).

Untuk memastikan tidak ada virus usai dilakukan vaksinasi, ia menyarankan masyarakat terlebih dahulu terbebas dari virus. “Karena bisa saja, orang divaksin belum bersih, dan usai divaksin justru ada virus. Maka, setelah vaksinasi kedua, harus ada pengecekan antibodi apakah sudah terbentuk atau belum melalui cek laboratorium,” tandasnya.

Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF), Prof dr Chairul Anwar Nidom – Foto Ant

Prof Nidom meminta, masyarakat mewaspadai mutasi virus COVID-19. Mebab meskipun antibodi sudah terbentuk setelah divaksin, belum tentu bisa melawan virus yang sudah bermutasi. Sifat antibodi yang terbentuk dari vaksin, tidak bisa membuat reaksi silang. Sehingga, vaksin untuk melawan virus A, tidak bisa melawan virus A+1 . “Selain mutasi berdampak pada efektivitas vaksinasi, juga sebaliknya vaksinasi bisa memicu terjadinya mutasi pada virus,” tandasnya.

Protein S (Spike) virus COVID-19, sebagai pengantar masuknya virus ke sel manusia. Dan telah menjadi target utama pengembangan vaksin sekaligus analisis mutasi virus. Pola mutasi protein S, yang terjadi sampai dengan 12 Januari 2021 meliputi, A222, S477, D614, Q677, telah dituangkan dalam publikasi ilmiah oleh Grup Peneliti PNF.

Nidom mengungkapkan, Tim PNF telah mengidentifikasi mutasi D614G yang ditemukan pada 103 isolat di Indonesia, yang tersebar di berbagai daerah mulai dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. “Data penyebaran Virus COVID-19 ini beserta mutasi Iainnya, dapat dijadikan sebagai informasi dasar dalam membandingkan pola mutasi, yang selanjutnya dapat digunakan untuk kebijakan tindakan pencegahan dan konstruksi vaksin berbasis isolat lokal,” tambahnya.

Ia menegaskan, vaksin bukan satu-satunya intervensi untuk menekan kejadian COVID-19. Intervensi nonmedis, harus tetap dilakukan dengan meningkatkan kepatuhan masyarakat pada protokol kesehatan. “Intervensi medis maupun nonmedis merupakan bagian penting yang harus dilakukan secara terukur untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...