Peminat Tinggi, Dongkrak Penjualan Buah Siwalan di Kota Semarang

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Tekstur daging buah siwalan muda yang empuk, manis berair, seperti halnya buah kelapa muda, menjadi daya tarik utamanya. Tak mengherankan jika siwalan juga dikenal sebagai buah lontar tersebut, banyak diminati masyarakat.

Termasuk di Kota Semarang, yang juga terdapat sentra penjualan buah siwalan di jalan  Woltermonginsidi, Genuk. Di sepanjang jalan tersebut, mudah ditemukan penjual buah siwalan yang menjajakan dagangan di depan rumah mereka.

“Sudah lama jualan siwalan, mungkin ada sekitar 10 tahunan. Buah-buah ini ambil dari wilayah sekitar sini, karena memang menjadi salah satu sentra perkebunan siwalan di Semarang,” papar Imam, pedagang buah siwalan yang ditemui di lokasi tersebut, Selasa (23/2/2021).

Tekstur daging buah siwalan muda yang empuk, manis berair, seperti halnya buah kelapa muda, menjadi daya tarik utamanya, Selasa (23/2/2021). -Foto Arixc Ardana

Dipaparkan, untuk dapat menikmati daging buah, kulit luar siwalan harus dikupas terlebih dahulu. “Mirip buah kelapa, kulit luarnya keras dan ada sabutnya juga. jadi harus dikupas terlebih dulu, baru kemudian dipotong kotak kecil, sesuai dengan daging buah yang ada didalamnya,” terangnya.

Imam memaparkan, dalam satu buah siwalan umumnya terdapat 4 keping daging buah. Masing-masing keping ini, dijual Rp 2.500 untuk yang masih muda. Sementara, untuk siwalan yang sudah tua dijual Rp 2 ribu per keping.

“Beda harga, sebab yang paling dicari itu siwalan muda. Rasanya manis berair, daging buahnya juga lembut. Seperti halnya kelapa muda atau degan, tekstur buahnya lembut. Sementara jika sudah tua, teksturnya lebih kenyal seperti kolang kaling,” tambahnya.

Dalam sehari, Imam mengaku bisa menjual puluhan hingga ratusan keping buah siwalan. Selain buah, air nira siwalan juga banyak dicari. “Harganya Rp 8 ribu, untuk ukuran 1,5 liter. Murah meriah,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan Heriyadi, pedagang lainnya. Buah siwalan tersebut, paling banyak dicari saat bulan Ramadan. Umumnya, siwalan disantap untuk campuran es buah jelang berbuka puasa.

“Paling tinggi permintaan sewaktu puasa atau Ramadan. Jika biasanya sehari bisa menjual 100 keping, saat Ramadan bisa 2-3 kali lipatnya. Harga juga sedikit berubah, biasanya naik seribu rupiah per buah, jadi Rp 3 ribu untuk siwalan tua dan Rp 3.500 untuk siwalan muda,” terangnya.

Kenaikan tersebut, karena permintaan tinggi sementara stok buah terbatas. “Bisanya kalau Ramadan, pasokan buah siwalan tidak hanya di sekitar wilayah sini saja, namun juga dari luar Semarang. Hal ini untuk mencukupi permintaan pembeli,” tandasnya.

Sementara, salah seorang pembeli, Alvi, mengaku tertarik dengan buah siwalan dari segi rasa. “Manis berair, ukurannya juga besar. Jadi kalau dimakan juga benar-benar terasa. Harganya juga relatif terjangkau,” pungkasnya.

Lihat juga...