Pendekatan Humanis Cegah Konflik Pelestarian Hutan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kawasan penyangga hutan yang sebagian dikelola masyarakat, kerap bersinggungan dengan hutan lindung. Perambahan kerap tidak terhindarkan. Solusi mendekati masyarakat agar tetap hidup berdampingan dengan hutan tanpa merusak, juga kerap terkendala konflik kepentingan. Namun, dengan pendekatan persuasif dan humanis, upaya pelestarian hutan bisa dilakukan.

Idi Bantara, S.Hut.T.M.Sc mengakui adanya kendala untuk mencegah masyarakat sekitar agar tidak merusak hutan. Pendekatan persuasif menjadi cara baginya sebagai Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Way Seputih-Way Sekampung. Kebutuhan ekonomi, permukiman, kerap menjadi faktor alih fungsi hutan register menjadi lahan pertanian, dan berujung kerusakan imbas perambahan.

Idi Bantara, S.Hut.T.,M.Sc., Kepala Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Way Seputih Way Sekampung, melihat alpukat varietas Siger Sibatu di Desa Girimulyo, Marga Sekampung, Lampung Timur, dengan konsep perhutanan sosial, Rabu (17/2/2021). -Foto: Henk Widi

Idi Bantara bilang, pendekatan humanis menjadi cara agar pemangku kepentingan, yakni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tidak berbenturan dengan masyarakat. Konsep perhutanan sosial diterapkan bersama sejumlah pihak di kawasan Register 38 Gunung Balak. Sebagian wilayah di Desa Girimulyo, Kecamatan Marga Sekampung, Lampung Timur, menjadi pilot project.

“Kawasan penyangga hutan Register 38 sudah ditempati masyarakat sejak puluhan tahun silam. Ditempati masyarakat di sejumlah desa, alih fungsi lahan tidak terhindarkan. Namun, sebagian warga ikut peduli dalam upaya merehabilitasi dengan konsep perhutanan sosial berkelanjutan,” terang Idi Bantara,S.Hut.T.M.Sc., saat dikonfirmasi Cendana News,Rabu (17/2/2021).

Ia mengatakan, perhutanan sosial dengan konsep wanatani dilakukan dengan tanaman produktif dan pertanian terpadu. Skema perhutanan sosial dilakukan dengan tanaman kayu penghasil buah. Melibatkan masyarakat dalam Kelompok Tani Agro Mulyo Lestari, pendampingan dilakukan oleh KLHK melalui BPDASHL Way Seputih Way Sekampung.

Masyarakat, sebut Idi Bantara, memilih komoditas tanaman buah. Tanaman jengkol, petai, pala, alpukat dikembangkan warga sesuai kearifan masyarakat setempat. Pendampingan selama hampir lima tahun dengan kesadaran warga mengembangkan potensi alpukat varietas Siger Sibatu. Varietas lokal khas yang dikembangkan warga Girimulyo berpotensi menguntungkan petani secara ekonomis.

Pendekatan tersebut bukan tanpa kendala. Pengalaman ditolak oleh masyarakat karena dianggap akan mengambil alih hutan register sempat dialaminya. Namun, ia tidak pantang menyerah. Konsep perhutanan sosial yang ditawarkan tetap mempertahankan fungsi hutan register. Rehabilitasi lahan dilakukan dengan pemberian bibit gratis. Bersama masyarakat, pengembangan varietas alpukat Siger Sibatu mencapai 215 hektare.

“Melalui program rehabilitasi hutan dan lahan, kelompok tani mendapat bibit tanaman baru, sebagian mengembangkan varietas lokal,” ulasnya.

Potensi produksi konsep perhutanan sosial, sebut Idi Bantara, cukup tinggi. Tanpa harus merusak pohon dan tanaman, petani tetap bisa mendapat keuntungan. Sebagian petani mulai mengembangkan varietas alpukat Siger Sibatu untuk pembibitan. Hasil buah dari sejumlah petani dikirim ke pasar lokal dan luar Lampung, rata-rata mencapai satu ton sekali panen.

Reboisasi di kawasan KPHL Gunung Balak, lanjut Idi Bantara, telah dilakukan sejak 2016. Pada 2016 RHL dilakukan seluas 13 hektare, tahun 2017 seluas 120 hektare, tahun 2018 seluas 50 hektare dan tahun 2019 seluas 25 hektare. Total peogram RHL seluas 208 hektare jadi bagian program bersama 13 lokasi hutan di Lampung seluas 63.858 hektare. Program tersebut telah dilakukan sejak 2010 di hutan konservasi (HK) dan Hutan Lindung (HK).

“Kami mengubah image, bahwa pihak KLHK yang datang tidak selalu akan mengusir warga, tapi mencari win win solution agar rakyat sejahtera, hutan lestari,”cetusnya.

Laki-laki yang pernah sukses merehabilitasi lahan bekas tambang timah di Bangka itu, mengaku pelibatan masyarakat sangat penting. Menerapkan konsep media semai cetak (MSC), ia merehabilitasi eks tambang dengan alpukat dan jeruk memakai kompos blok. Sistem tersebut diaplikasikan warga Girimulyo, gaharu Center Institut Tekhnologi Sumatra (Itera) dan penanaman pohon rehabilitasi.

Sumarjo,warga Girimulyo, menyebut hidup di dekat Gunung Balak membuat warga tergiur untuk merambah. Namun kesadaran akan kerusakan berimbas sulit air, banjir,longsor dan bencana ekologis, warga mulai melakukan reboisasi. Penghutanan kembali wilayah yang dikelola dengan tanaman kayu nonproduktif sempat ditolak. Sebab, petani tidak akan menikmati hasil kayu yang tidak boleh ditebang.

“Pihak kehutanan yang datang pernah kami usir, karena konsepnya menghutankan dengan tanaman kayu keras,”sebutnya.

Adanya pendekatan dari Idi Bantara yang secara kontinu menerangkan konsep perhutanan sosial, warga luluh. Bantuan bibit berbagai jenis tanaman melalui Persemaian Permanen BPDASHL Way Seputih Way Sekampung berkembang. Petani, sebut Sumarjo, bisa mendapat hasil rata-rata 50 hingga 100 kilogram buah alpukat Siger Sibatu. Hasil penjualan dengan harga terendah Rp6.000 saja ia mendapat Rp300.000 per pohon.

Selain mendapat hasil dari buah alpukat, warga memanen pala jamu, jengkol, petai dan gaharu. Sebagian anggota kelompok tani Agro Mulyo Lestari mengembangkan bibit alpukat. Bibit yang dicangkok dikembangkan lagi dengan sistem sambung (grafting). Hasilnya, petani bisa menjual bibit untuk dikembangkan seharga Rp25.000 hingga Rp75.000 per bibit.

Secara ekonomis, produk alpukat Siger Sibatu telah menguntungkan petani. Konsep perhutanan sosial yang dikenalkan oleh Idi Bantara, sebutnya, cukup efektif. Sebab, kawasan penyangga hutan akan tetap lestari dan warga mendapat kesejahteraan. Selain mengembangkan tanaman,warga juga mengelola eko wisata gua lava. Gua yang bisa menjadi destinasi wisata dikombinasikan dengan wisata agro sumber ekonomi.

Lihat juga...