Pendulang Cacing Sutra Berjibaku dengan Lumpur di Kali Semarang

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Matahari baru naik sepenggalan, namun Triyono sudah berjibaku dengan lumpur. Menggunakan penyaring halus, pria 50 tahun tersebut terus mendulang lumpur di dasar sungai Kali Semarang.

Ya, bagi pria yang tercatat sebagai warga Gayamsari ini, hamparan lumpur yang ada di dasar sungai yang membentang di tengah Kota Semarang tersebut, merupakan ladang rezekinya. Di dalam lumpur ini, tersembunyi cacing sutra, yang sering dimanfaatkan sebagai pakan ikan.

“Sudah dua bulan ini, mencari cacing sutra di sini (Kali Semarang-red), sebelumnya di bawah jembatan sekitar Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Semarang, namun karena disana sering banjir akibat musim penghujan, saya pindah kesini. Kalau profesi sebagai pendulang cacing sutra, sudah ditekuni sejak awal pandemi covid-19,” paparnya, saat ditemui di sela kesibukannya mencari cacing sutra di Kali Semarang, Selasa (16/2/2021).

Dirinya dengan sigap mengambil lumpur dari dasar sungai, menggunakan serok penyaring, kemudian menuangkannya dalam pengayak. Ayakan tersebut lalu digoyang-goyangkan sembari sedikit terendam air sungai, dari proses tersebut, akan terlihat apakah dalam lumpur tersebut terdapat cacing sutra atau tidak.

“Mirip orang cari emas di sungai, tapi ini yang kita cari cacing sutra. Biarpun cacing, ini seperti emas buat saya, karena untuk menghidupi keluarga,” paparnya sembari tersenyum.

Pendulang cacing sutra, Triyono saat ditemui di sela kesibukannya mencari cacing sutra di Kali Semarang, Selasa (16/2/2021). -Foto Arixc Ardana

Menurutnya, mencari cacing sutra tidak bisa asal, namun harus tahu kondisi lumpur di sungai. Biasanya dirinya akan melakukan survei dulu, sungai-sungai dimana saja yang ada kandungan cacing sutranya. “Pokoknya cari lumpur yang licin, tidak terendam terlalu dalam,” ungkapnya.

Di satu sisi, untuk mencari cacing sutra bukan perkara yang mudah. Dirinya harus berkali-kali mengeruk lumpur, dan memeriksanya. Jika kemudian mendapati ada kandungan cacing, lumpur tersebut kemudian dituang di wadah jerigen yang sudah disiapkannya.

“Mencari dari pagi, sampai siang, biasanya 4-5 jam sehari. Hasil cacing yang didapat tidak tentu, kalau malamnya hujan, biasanya banyak cacing yang hilang tersapu air sungai. Namun rata-rata sehari bisa dapat 2-3 liter cacing. Kalau pas lagi banyak, bisa dapat 5 liter. Satu liternya dijual Rp 40 ribu,” terangnya.

Dirinya pun tidak perlu susah-susah mencari pembeli, karena sudah ada pengepul yang siap menampung cacing sutra yang berhasil didapatkannya. “Di sekitar Banjir Kanal Timur (BKT), sudah ada dua bos (pengepul-red), yang menerima cacing sutra hasil tangkapan,”lanjut pria yang sebelumnya berprofesi sebagai pedagang sepatu di pasar tradisional tersebut.

Sementara, pencari cacing sutra lainnya, Siti, mengaku cacing yang sudah diperoleh tersebut, nantinya akan dibersihkan dahulu sebelum dijual.

“Cacing sutra yang didapat ini, masih bercampur lumpur, jadi tidak bisa langsung dijual. Harus dibersihkan dulu. Nanti dibawa pulang, kemudian dituang dalam ember atau wadah, dan direndam air sekitar dua jam,” terangnya.

Dalam proses perendaman tersebut, cacing sutra akan terpisah dari lumpur, karena mengambang, sedangkan kotoran lumpur tenggelam. “Cacingnya akan muncul, karena lumpurnya luruh di dasar ember. Setelah itu, cacing diambil dan ditaruh dalam wadah berbeda untuk dijual,” tandasnya.

Diakui perjuangan untuk mendapatkan cacing sutra, tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh. Belum lagi risiko yang harus dihadapi. “Kalau di sungai besar, seperti Banjir Kanal Timur, itu risikonya banjir. Apalagi kalau di wilayah Semarang Atas hujan, sedangkan di wilayah bawah tidak hujan. Air bisa tiba-tiba datang,” lanjut Siti.

Sementara, risiko di sungai kecil, seperti Kali Semarang, berupa pecahan kaca atau beling, yang sering dijumpai. “Banyak warga yang membuang pecahan kaca, seperti gelas, piring dan lainnya ke sungai. Kalau tidak hati-hati, bisa kena kaki,” ungkapnya.

Selain itu, juga ancaman lain dari profesi sebagai pendulang cacing sutra tersebut, yakni penyakit kulit, berupa gatal atau jenis lainnya. “Ya sudah risiko. Biasanya tiga hari pertama masuk ke sungai, sering gatal. Habis itu sudah tidak lagi, karena sudah terbiasa. Obatnya ya diberi salep atau minum obat gatal,” tandas Siti.

Dijelaskan, uang hasil penjualan cacing sutra tersebut, digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Cukup tidak cukup, disyukuri, yang terpenting rezeki halal. Harapan saya sebagai pencari cacing sutra, mudah-mudahan tidak sering turun hujan, biar cacingnya tidak hanyut sehingga hasil yang kita dapatkan juga banyak,” pungkasnya.

Lihat juga...