Pengendalian Hama Tanpa Bahan Kimia Kurangi Polusi Udara

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Penanganan hama atau organisme pengganggu tanaman (OPT) menggunakan bahan kimia masih dipertahankan petani. Sejumlah hama yang menyerang tanaman padi di antaranya ulat daun, wereng, tikus dan keong mas. Minimalisir penggunaan bahan kimia sejumlah petani di Lampung Selatan menerapkan pengendalian hama sistem tradisional.

Wiyono, pemilik lahan sawah di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, menyebut, menggunakan cara tradisional. Memasuki masa tanam penghujan atau rendengan, potensi hama keong mas, tikus, meningkat. Pada lahan sawah yang ditanami padi varietas Ciherang hama keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck) meningkat. Meski demikian, populasi bisa dikendalikan.

Hama keong mas menempatkan telur pada tanaman padi milik petani menghasilkan anakan pemangsa daun padi, Rabu (3/2/2021) – Foto: Henk Widi

Alih-alih memakai zat kimia, Wiyono mengaku, memilih memakai cara kearifan lokal. Umpan bagi hama keong mas dari daun pepaya, daun talas, singkong ditebarkan pada sejumlah petak sawah.

Masa bertelur keong mas berimbas hama menyerang tanaman padi diantisipasi dengan dedaunan yang disukai keong mas. Keong mas yang berkumpul pada daun umpan tersebut lebih mudah dibersihkan.

“Secara manual keong mas yang terkumpul di setiap pojok sawah bisa dipungut untuk diberikan pada ternak bebek, entok tanpa harus mempergunakan bahan kimia. Petani juga menghindari cangkang keong mas berpotensi melukai kaki saat proses pembersihan gulma rumput,” cetus Wiyono saat ditemui Cendana News, Rabu (3/2/2021).

Pengendalian hama secara tradisional juga dilakukan olehnya dengan sistem pengeringan. Sejumlah petak sawah akan dikeringkan selama sepekan dengan satu petak digenangi air, dan diberi umpan daun pepaya, singkong, serta talas. Rekayasa alami tersebut memancing keong mas untuk berpindah ke lokasi yang diberi umpan. Pengeringan petak sawah memudahkan petani memunguti keong mas.

Penggunaan bahan kimia untuk pertanian sebutnya, sebagian masih diterapkan petani. Selain untuk penanganan hama keong mas, sebelumnya insektisida dipakai dalam pengurangan hama ulat.

Herbisida untuk pengendalian gulma rumput jenis kawatan, kolomento, enceng gondok. Pembersihan sistem manual dengan alat sorok dan sistem ndaut oleh buruh tani.

“Pengendalian hama dan gulma secara tradisional berpotensi mengurangi residu bahan kimia pada tanaman padi,” bebernya.

Pengurangan bahan kimia sebutnya memberi dampak pada lingkungan. Warga di sekitar lahan pertanian tidak mengalami polusi udara dari penyemprotan bahan kimia.

Tanpa bahan kimia lahan sawah sebutnya, menjaga hewan jenis belut. Sungai tempat habitat ikan air tawar terhindar dari pencemaran pestisida. Terlebih sebagian sungai dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari.

Penerapan pertanian berkelanjutan dalam pengendalian hama diakui Suradi. Petani padi di Pasuruan itu menyebut, penggunaan pupuk berlebih berimbas ketergantungan tanah pada zat kimia.

Penanganan hama keong mas dengan cara pengambilan secara manual menggunakan umpan daun talas, pepaya, untuk mengatasi hama keong mas tanpa zat kimia, dilakukan Suradi di Pasuruan, Penengahan, Lampung Selatan, Rabu (3/2/2021) – Foto: Henk Widi

Sebagai cara mengembalikan unsur hara pada lahan sawah ia menebarkan dolomit dan pupuk kandang. Kotoran ternak kambing, sapi yang telah menjadi kompos, bisa ditebarkan sebelum pengolahan lahan.

“Dampak dari penggunaan pupuk organik pertumbuhan gulma bisa lebih banyak, tapi juga bisa diantisipasi dengan penyiangan gulma,” cetusnya.

Menjaga kualitas tanah dengan pengurangan bahan kimia sebut Suradi, terus dilakukan. Menjaga lahan pertanian berkelanjutan sekaligus menjaga kualitas padi yang dihasilkan.

Mengurangi penggunaan bahan kimia ikut mendorong hasil Gabah Kering Panen (GKP) yang dihasilkan bebas residu bahan kimia. Penanganan hama keong mas secara organik juga berfungsi memberi sumber pakan ternak bebek saat masa tanam.

Dampak positif pengurangan bahan kimia sebut Suradi, bisa terlihat dari populasi belut. Ia menyebut, lima tahun sebelummya belut sawah kerap sulit diperoleh.

Penggunaan bahan kimia yang mematikan belut mulai dikurangi. Sebagai salah satu bahan pangan kaya protein, populasi belut di lahan persawahan tetap terjaga oleh pengurangan zat kimia.

Lihat juga...