Penghujan, Harga Komoditas Sayuran di Lamsel Alami Kenaikan

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Musim penghujan masih terjadi di Lampung Selatan berimbas pada kenaikan komoditas sayuran. Sejumlah komoditas yang naik dampak pasokan dan distribusi terhambat meliputi cabai, tomat, bawang merah, bawang putih.

Sumino, salah satu pedagang di Pasar Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebut harga telah naik dari distributor.

Sejumlah lahan pertanian di wilayah Lampung dan luar wilayah sebagai pemasok sayuran terimbas banjir jadi faktor kenaikan harga. Sejumlah komoditas yang masih bertahan tinggi sebutnya jenis tomat. Semula harga tomat hanya Rp4.000 naik menjadi Rp9.000 per kilogram. Kenaikan harga tersebut dampak penurunan pasokan dari petani.

Komoditas lain yang alami kenaikan selain tomat jenis cabai rawit, sempat dijual seharga Rp30.000 bahan sambal itu dijual seharga Rp75.000 per kilogram. Namun harga itu lebih turun dari sebelumnya yang sempat bertengger pada harga Rp85.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Berbagai jenis sayuran lain yang terpengaruh diantaranya kacang tanah, kangkung, bayam, wortel, kentang dan sayuran lain.

“Kenaikan harga komoditas sayuran dipengaruhi faktor penghujan yang masih terjadi pada sejumlah wilayah dan dampaknya bagi petani sayur mempengaruhi produksi dan proses distribusi hingga ke sejumlah pedagang pengecer di pasar tradisional,” terang Sumino saat ditemui Cendana News, Kamis (18/2/2021).

Sumino, pedagang sayuran, bumbu dapur diantaranya tomat dan cabai di pasar tradisional Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Kamis (18/2/2021). -Foto Henk Widi

Sumino bilang kenaikan harga sejumlah komoditas pertanian sebutnya rata rata mencapai Rp3.000 hingga Rp6.000. Kenaikan yang sudah terjadi dari level distributor menurutnya berimbas pedagang pengecer ikut menaikkan harga. Pelanggan komoditas sayuran, bumbu dapur sebutnya berasal dari pemilik usaha kuliner dan ibu rumah tangga. Kenaikan juga dipengaruhi kenaikan permintaan dari warga.

Haryanti, pedagang sayuran dan bumbu dapur mengakui permintaan meningkat dibarengi pasokan berkurang. Kenaikan permintaan dipicu sejumlah warga yang mulai menggelar pernikahan, acara keluarga. Meski ada pembatasan untuk pesta pernikahan namun berimbas pada kenaikan permintaan komoditas sayuran. Jenis sayuran yang paling banyak dicari berupa kentang, buncis, brokoli, kubis.

“Harga sayuran, bumbu dapur yang naik dan turun dipengaruhi oleh sejumlah faktor salah satunya hujan,” ungkapnya.

Harga bawang putih dan bawang merah sebutnya alami kenaikan berkisar Rp5.000 perkilogram. Sebelumnya harga bawang merah dan bawang putih mencapai Rp27.000 per kilogram naik menjadi Rp32.000. Pasokan yang dominan berasal dari luar wilayah jadi faktor kenaikan harga. Bencana banjir pada sejumlah wilayah di pulau Jawa jadi pemicu distributor menaikkan harga.

Petani komoditas sayuran, bumbu dapur bernama Sutinah menyebut sebagian tanaman cepat busuk saat penghujan. Sistem penanaman tradisional dengan curah hujan tinggi berdampak pada pasokan yang berkurang. Sebelum dijual komoditas tomat, cabai kerap alami kerontokan dan pembusukan. Meski saat panen dalam kondisi baik saat proses penjualan potensi busuk buah bisa terjadi.

“Tomat,cabai dan sayuran lain tidak bisa bertahan lama harus cepat terjual, jika dijual murah petani merugi,” tegasnya.

Petani cabai, Wayan Reka di Desa Bangunrejo menyebut ia memilih menanam cabai dengan mulsa plastik. Cara tersebut dilakukan untuk mencegah pembusukan batang, buah. Saat panen ia masih menjual cabai dengan harga Rp30.000 per kilogram. Namun pada level pedagang pasar tradisional harga bisa mencapai Rp45.000 per kilogram. Sebagian cabai dijual ke pasar lokal dan dikirim ke wilayah Sumatera Barat.

Lihat juga...