Penjual Pulsa di Bandar Lampung Lega tak Kena PPh

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah pelaku usaha penjualan telepon seluler (HP) dan pulsa di Bandar Lampung merasa lega, karena tidak dikenakan pemungutan Pajak Penghasilan (PPh). Riski, salah satu pemilik konter HP di pusat perbelanjaan Simpur,Tanjung Karang, mengaku semula dirinya khawatir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6/PMK.03/2021 yang mulai berlaku sejak 1 Februari 2021.

Sesuai aturan dari Direktoral Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Riski bilang, skema PPh penjual pulsa dan kartu perdana ditagihkan pada level distribusi. Sebagai pelaku usaha kecil, ia menyebut pengenaan pajak sebesar 0,5 persen akan memberatkan. Namun, ternyata aturan itu hanya berlaku pada distributor besar.

Jika diberlakukan terhadap pelaku usaha kecil seperti dirinya, Riski mengaku sangat berat. Sebab, selama ini dampak Pembatasan Jam Operasional Tempat Usaha saja sudah sangat merugikan.

Pelaku usaha di kota Bandar Lampung di pusat perbelanjaan hanya dibatasi jam operasional hingga pukul 19.00 WIB, dari semula hingga pukul 21.00 WIB. Pengurangan waktu usaha ikut menurunkan sumber pendapatan bagi pelaku usaha konter.

“Sebagai pedagang pengecer, akan sangat keberatan jika beban PPh dipungut dari harga jual sebesar 0,5 persen, akan berdampak pada kenaikan harga jual alat komunikasi telepon seluler, pulsa, kuota dan kartu perdana, namun aturan hanya diberlakukan pada penyelenggara distribusi tingkat selanjutnya,” terang Riski, saat ditemui Cendana News, Selasa (2/2/2021).

Saat pandemi Covid-19, Riski bilang tingkat penjualan telepon seluler dan perlengkapan pendukung meningkat. Sebagai salah satu kebutuhan primer saat proses belajar mengajar virtual, kebutuhan kelengkapan meliputi headset, microphone hingga web camera. Minat masyarakat membuat vlog, online streaming Youtube dan media sosial ikut meningkatkan penjualan. Meski demikian, jumlah konsumen terbatas.

Menurut Riski, dalam sehari omzet penjualan sempat mencapai Rp10juta. Namun berangsur pendapatan menurun hingga Rp5juta per hari. Pembatasan aktivitas masyarakat ikut mempengaruhi volume barang terjual. Namun, sebagian pemilik usaha konter fokus pada penjualan pulsa, kuota internet mengalami penjualan signifikan.

“Saat ini tren aktivitas dikerjakan secara virtual, belajar hingga kerja melalui zoom, teleconference hingga aplikasi WhatsApp,” cetusnya.

Febrianto, pemilik konter di Jalan Salim Batubara, Teluk Betung, juga mengaku sempat was-was terkait pengenaan PPh. Namun dengan adanya penjelasan dari Kemenkeu, pedagang pengecer sepertinya tidak dikenai pajak. Selama ini, ia menyebut transaksi jual beli paling banyak dominan pada kartu perdana dan kuota internet. Sebab, pulsa dan paket data menjadi sarana pokok komunikasi, belajar dan bekerja.

Sejumlah konsumen yang membeli paket data dominan pelajar, mahasiswa dan karyawan. Tren permainan game online yang disukai generasi muda ikut mendorong peningkatan permintaan paket data. Aktivitas masyarakat bermain game online, belanja online, menonton film secara online streaming meningkatkan transaksi.

“Akan sangat merugikan jika PPh dibebankan kepada pengecer seperti kami, sementara selama pandemi Covid-19 kami tidak mendapat stimulus bantuan modal usaha,”bebernya.

Omzet harian dari transaksi pulsa, paket data meningkat dari sekitar 300 naik menjadi 500 transaksi per hari. Selain itu, penjualan telepon seluler android dan aksesoris meningkat dua kali lipat. Sebagian pelajar yang membutuhkan smartphone untuk belajar dominan membeli gawai baru. Sejumlah orang tua yang ikut terlibat dalam kegiatan zoom meeting dengan pihak sekolah, juga ikut mendongkrak penjualan smartphone.

Stevani, salah satu orang tua yang anaknya duduk di bangku SMP mengaku rutin membeli paket data. Kebutuhan paket data sebesar 5 Giga per hari menjadi pilihan baginya. Sebab, sang anak yang belajar memakai aplikasi Google Suite dan Zoom Metting butuh kuota cukup besar. Pilihan berbagai paket sesuai kemampuan, saat ini cukup banyak untuk efesiensi. Kebutuhan paket data menjadi pengganti uang transportasi selama belajar daring.

Lihat juga...