Penjualan Pot Meningkat, Jenis Tawon Pirus Banyak Dicari

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Tren tanaman hias yang meningkat selama pandemi Covid-19, turut berimbas pada peningkatan permintaan pot bunga. Tingginya permintaan pot, juga mendorong munculnya pedagang ‘tiban’, di pinggir-pinggir jalan.

“Sebelumnya saya sudah jualan aneka barang peralatan rumah tangga, seperti ember, gayung, panci dan lainnya. Namun ketika permintaan pot bunga meningkat, saya coba-coba ikut jualan juga. Hasilnya minat pembeli tinggi,” papar Hadi, pedagang pot bunga saat ditemui di sela berjualan di kawasan Tembalang Semarang, Selasa (23/2/2021).

Hadi, pedagang pot bunga saat ditemui di sela berjualan di kawasan Tembalang Semarang, Selasa (23/2/2021). Foto: Arixc Ardana

Hal tersebut dibuktikannya, dengan harga serba Rp 5 ribu, pot bunga dari beragam ukuran dan bentuk, laris manis diserbu pembeli. Para konsumen tersebut juga tidak hanya membeli satu pot, namun bisa 2-5 buah per orang.

“Dibanding dengan harga pot di toko tanaman, di sini memang lebih murah karena saya ambil langsung grosiran. Jadi lebih terjangkau. Kalau mau yang lebih bagus lagi kualitasnya juga ada, namun harganya juga lebih mahal,” tambahnya.

Diungkapkan, untuk kualitas bagus, pot bunga tersebut dijual dari harga mulai Rp 12.500 hingga Rp 30 ribu per pot.

“Sehari bisa laku 40-60 pot dari beragam ukuran,” tambahnya.

Disinggung soal pot yang paling diminati, dirinya mengaku selera pembeli macam-macam. “Namun umumnya, mencari model pot tawon pirus, seperti rumah tawon namun memanjang. Kalau warna, yang paling banyak dicari putih. Mungkin terlihat bersih, jadi banyak yang suka,” terangnya.

Hadi mengaku sebelumnya berjualan di kawasan Gunungpati, kemudian berpindah ke wilayah Tembalang. Dirinya sengaja menggelar dagangan di pinggiran jalan, yang ramai dilewati masyarakat.

“Selain itu, di sepanjang jalan ini, banyak pedagang bunga atau tanaman hias. Dengan pertimbangan itu, pot bunga juga pasti banyak yang mencari. Jadi saya juga coba-coba keberuntungan dengan jualan di sini. Hasilnya juga tidak mengecewakan,” tandasnya.

Tingginya permintaan pot bunga, juga diakui Ani. Namun berbeda dengan Hadi, dirinya lebih memilih menjual pot bunga secara grosir dan tidak melayani eceran.

“Pembelinya pedagang bunga atau tanaman hias. Setiap hari, saya kirim pot bunga ke sejumlah pedagang, dari wilayah Tembalang, hingga Kalisari Semarang,” terangnya.

Dirinya mengakui, jika saat ini, pot bunga menjadi dagangan yang laris manis. Hal tersebut berbeda dengan kondisi sebelum ada pandemi Covid-19.

“Saat ini, penjualan bisa dibilang naik 3 kali lipatnya, sebelum ada tren tanaman hias. Dulu kalau nge-drop pot bunga, paling sebulan sekali. Sekarang hampir setiap hari,” imbuhnya.

Dirinya pun berharap tren tanaman hias terus terjaga, meski nantinya pandemi covid-19 sudah berakhir.

“Harapannya ya seperti itu, covid-19 selesai, namun tren tanaman hias tetap meningkat, sehingga penjualan pot juga terus bertambah,” pungkasnya.

Sementara, salah seorang pembeli, Indah, mengaku ingin mengganti pot bunga yang sudah ada di rumah, dengan yang baru.

“Kemarin baru beli bunga. Sudah diberi pot, tapi bawaan dari penjual, jadi kurang bagus. Ini mau diganti yang baru, biar semakin cantik,” terangnya.

Wanita 34 tahun tersebut mengaku sudah sering membeli pot, seiring dengan hobi merawat tanaman hias yang digelutinya sejak 6 bulan terakhir.

“Kadang saat beli tanaman atau bunga hias, masih dalam polybag, jadi belum ada potnya, sehingga harus beli lagi. Namun tidak apa-apa, ini demi hobi, untuk menyenangkan hati juga,” pungkasnya.

Lihat juga...