Penyelundupan Ballpress dan Tekstil dari Malaysia, Berhasil Digagalkan

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Upaya penyelundupan tekstil ilegal dari Malaysia menggunakan kapal laut, berhasil digagalkan oleh petugas gabungan dari Kanwil Bea Cukai Jateng DIY Bersama TNI AL (Lanal Semarang) dan  KPPBC Semarang.

Dari penggerebekan yang dilakukan pada Rabu (27/1/2021) lalu, petugas berhasil menyita sebanyak 537 koli ballpress dan 5800 roll tekstil impor, yang tidak dilengkapi dokumen resmi.

“Barang tersebut diangkut menggunakan kapal laut KLM Hikmah Jaya 3, dari Pasir Gudang Malaysia dan bongkar di luar kawasan pabean, yaitu di Pelabuhan Kendal Jateng, tanpa disertai dokumen legal,” papar Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jateng DIY, Tri Wikanto, saat gelar perkara di Pelabuhan Rakyat Tanjung Emas, Semarang, Jumat (5/2/2021).

Dipaparkan, para penyelundup tersebut sengaja memilih pelabuhan kecil, untuk mencoba mengelabui pengawasan dari petugas.

“Setelah kita dapatkan informasi, terkait pembongkaran barang yang diduga ilegal tersebut, langsung kita terjunkan tim ke lokasi bongkar muat. Ternyata saat tim datang, sudah terjadi pembongkaran sebagian muatan barang dari kapal ke dua truk,” lanjutnya.

Contoh kecil dari 537 koli ballpress dan 5800 roll tekstil impor selundupan dari Malaysia, saat diperlihatkan di sela gelar perkara di Pelabuhan Rakyat Tanjung Emas, Semarang, Jumat (5/2/2021). -Foto Arixc Ardana

Tri menjelaskan, barang yang disita tersebut jumlahnya cukup banyak. Jika diangkut menggunakan kontainer, setidaknya membutuhkan empat kontainer ukuran 4×40. “Jumlahnya cukup banyak. Mereka mencoba menyembunyikannya di palka kapal,” tandasnya.

Tri menjelaskan, upaya penyelundupan ini menggunakan modus pengangkutan barang antar pulau. Sementara barang ilegal tersebut, juga coba disembunyikan dengan ditutupi karung-karung kosong.

“Modusnya mirip penyelundupan rokok ilegal, dengan menyembunyikan barang selundupan dibawah barang lainnya. Seolah-olah isinya karung-karung kosong, padahal dibawahnya barang ilegal,” terangnya.

Sementara, Kabid Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Jateng-DIY, Amin Tri Sobri, menambahkan dalam pemeriksaaan awal, nahkoda kapal tidak mengakui bahwa muatannya berasal dari Malaysia.

“Nahkoda kapal awalnya membantah, jika kapal tersebut berangkat dari Pasir Gudang Malaysia, dan bersikukuh bahwa kapal berangkat dari pelabuhan Riau, dengan menunjukkan dokumen yang kita duga juga ilegal. Namun setelah kita cek, histori radar kapal. Didapati bahwa kapal telah melalui rute sebelumnya dari Pasir Gudang – Malaysia”, terangnya.

Amin menjelaskan, sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan(Permendag) Nomor 51/M-DAG/PER /7/2015 tentang Larangan Impor Pakaian Bekas, ballpress atau pakaian bekas, merupakan barang yang dilarang untuk diimpor.

“Pelarangan impor ballpress ini, sebagai upaya untuk menjaga kestabilan pasar domestik, sebagai pangsa pasar sebagian besar Industri Kecil dan Menengah (IKM) Tekstil  dan Produk Tekstil. Ballpress juga tidak higienis dan dikhawatirkan menjadi media pembawa penyakit, serta menurunkan harga diri bangsa di mata dunia,” tegasnya.

Sedangkan dari penyelundupan kain tekstil tersebut, yang ditaksir senilai sekitar Rp 14,6 miliar, kerugian negara mencapai Rp 4,3 miliar.

“Saat ini, kita terus lakukan pengembangan kasus ini, dengan melanjutkan proses penyelidikan. Para tersangka penyelundupan, akan kita kenakan Pasal 102 huruf b dan/atau Pasal 102 huruf a dan/atau Pasal 102 huruf e Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP,” pungkasnya.

Lihat juga...