Petambak di Lamsel Kombinasikan Sistem Budi Daya Vaname

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Budi daya udang putih atau vaname dan udang windu atau giant tiger masih dikembangkan petambak di Lampung Selatan. Sistem budi daya tradisional, semi tradisional dan intensif tetap dipertahankan.

Sarifudin, petambak udang windu atau Panaeus monodon di Desa Bandar Agung, Sragi, menerapkan budi daya tradisional. Satu petak lahan tambak dengan hamparan dua hektare ditebar udang windu sebanyak 15.000 benur. Sistem tambak tradisional tanpa memakai kincir air dan pemberian pakan alami.

Sistem tradisional budi daya udang windu dikombinasikan dengan ikan bandeng. Fungsi ikan bandeng sebagai pengatur sirkulasi air dan oksigen. Cara itu membuat petambak tidak memakai kincir listrik.

Sarifudin, pemilik tambak udang windu sistem tradisional di Dusun Kuala Jaya, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, Senin (8/2/2021). -Foto: Henk Widi

Satu petak lahan tambak udang windu sistem tradisional, bisa dipanen usia 5-6 bulan. Kebersihan tambak, pasokan jazad renik, lumut memadai menjadi pakan alami udang windu. Sesekali ia memakai pakan buatan untuk meningkatkan produksi. Kendala terbatasnya modal menjadi alasan petambak menerapkan sistem tradisional, namun tetap produktif.

“Lahan tambak yang luas membuat petambak lebih mudah memanfaatkan sistem budi daya tradisional untuk efesiensi biaya, tanpa mengeluarkan listrik dan sirkulasi air memakai ikan bandeng menghasilkan dua komoditas dalam satu lahan,” terang Sarifudin, saat ditemui Cendana News, Senin (8/2/2021).

Sarifudin bilang, pada lahan satu hektare dengan kondisi cuaca, pasokan air lancar berpotensi menghasilkan panen hingga satu ton. Ia menerapkan sistem panen udang vaname secara total saat usia 6 bulan. Pemanenan sekaligus proses pembersihan lahan atau penyiponan memakai mesin pompa. Panen saat kemarau dilakukan, mempermudah pengurasan ketika kanal surut.

Sebagian petambak, sebutnya, menerapkan sistem budi daya semi intensif. Pola tersebut diterapkan pada udang putih atau vaname yang dikembangkan dengan pemakaian kincir. Udang vaname bisa lebih cepat dipanen saat usia tiga hingga empat bulan. Pemberian pakan berupa pelet buatan pabrik menjadi cara mempercepat pembesaran. Tanpa gangguan cuaca dan banjir, panen vaname bisa dilakukan bertahap.

Widodo, petambak udang vaname di desa Bandar Agung, menyebut empat petak lahan tambak dikembangkan semi intensif. Sistem tersebut menerapkan pemberian air dengan pompa, sirkulasi air dengan kincir dan pakan terjadwal.

Pola semi intensif dilakukan petambak untuk mendapat hasil panen lebih cepat. Setiap hari, pakan pelet diberikan selama tiga kali dan pemberian nutrisi tambahan.

“Sistem tambak intensif butuh modal lebih banyak untuk peralatan dan tenaga kerja,” sebutnya.

Sistem itu bisa mempercepat panen dua bulan lebih cepat dibanding pola tradisional. Hasil sebanyak satu ton bisa diperoleh dengan tebaran benih mencapai 10.000 benur. Sistem intensif memudahkan pengaturan sirkulasi air dan pakan secara teratur. Kadar PH air dan pemberian pasokan air yang lebih lancar dilakukan dengan memanfaatkan sumur bor.

Subardan, petambak dan pengepul udang vaname, menyebut sistem tambak intensif banyak dikembangkan. Bagi pemilik modal, investasi alat untuk kincir air, sumur bor, mesin pompa akan meningkatkan produksi. Harga udang vaname ukuran 50, sebutnya, mencapai Rp70.000 per kilogram. Kondisi cuaca dominan hujan berimbas banjir ikut mendongkrak harga.

Sistem semi intensif untuk tambak udang vaname membuat pasokan selalu tersedia. Namun saat penghujan, kendala limpasan air sungai Way Sekampung menjadi kendala. Sejumlah petambak memilih melakukan panen dini sebelum waktunya. Kondisi itu berimbas udang ukuran kecil sudah dipanen sistem parsial. Imbasnya, harga berpotensi anjlok dibanding panen total saat size 100.

Lihat juga...